• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Pemulihan IHSG Pasca Kasus “Saham Gorengan”: Analisis Legitimasi dan Corporate Apologia atas Peran BEI

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 22 Februari 2026 - 20:24
in Ekonomi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Juni Armanto, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)

INDOPOSCO.ID – Pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah merebaknya kasus saham gorengan perlu dipahami dalam perspektif yang lebih komprehensif daripada sekadar fenomena rebound pasar. IHSG sebagai indikator agregat kinerja saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) merefleksikan bukan hanya dinamika harga, tetapi juga tingkat keyakinan investor terhadap kredibilitas sistem perdagangan efek.

BacaJuga:

Dari Jalan Berlumpur hingga Pelosok Desa, Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Perangi Scam dan Judi Online, BRI Bersama PERBANAS Perkuat Kolaborasi dengan OJK dan Kemkomdigi Dukung Ekosistem Keuangan Digital yang Aman bagi Masyarakat

Kisah Rosyidah, Purna Pekerja Migran Indonesia yang Berhasil Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut di Pesisir Indramayu Berkat Pelatihan dari BRI Peduli

Ketika praktik manipulasi harga baik melalui skema penggelembungan nilai saham, transaksi semu, maupun rekayasa sentiment terungkap, dampaknya melampaui kerugian finansial individual dan menjalar pada persepsi sistemik tentang integritas pasar. Dalam situasi demikian, tekanan terhadap IHSG merepresentasikan erosi kepercayaan yang bersifat kolektif.

Dalam kajian komunikasi krisis, pendekatan Corporate Apologia yang dikembangkan oleh Keith M. Hearit dalam The Handbook of Crisis Communication suntingan W. Timothy Coombs dan Sherry J. Holladay (2023) menawarkan kerangka analitis yang relevan untuk membaca situasi ini sebagai krisis legitimasi. Hearit memandang krisis bukan sekadar gangguan operasional, melainkan kondisi ketika terjadi ketidaksesuaian antara nilai normatif yang diklaim organisasi dengan realitas yang dipersepsikan publik.

Pasar modal secara ideal dibangun atas asas transparansi, keadilan, akuntabilitas, dan perlindungan investor. Ketika saham gorengan muncul berulang dan menimbulkan korban di kalangan investor ritel, publik dapat menilai bahwa prinsip-prinsip tersebut tidak sepenuhnya terjaga dalam praktik.

Dalam kerangka Social Legitimation Crisis, penurunan IHSG dapat dimaknai sebagai manifestasi ketidakpercayaan terhadap kemampuan institusi menjaga keselarasan antara nilai dan tindakan. Walaupun manipulasi dilakukan oleh pelaku tertentu, opini publik kerap mengaitkannya dengan efektivitas pengawasan bursa. Oleh karena itu, pemulihan indeks tidak cukup dilakukan melalui mekanisme pasar alami atau sentimen eksternal yang membaik, melainkan harus disertai rekonstruksi legitimasi institusional.

Di titik inilah peran BEI menjadi sentral, tidak hanya sebagai penyelenggara teknis perdagangan, tetapi juga sebagai subjek komunikasi krisis yang harus menjawab berbagai tudingan secara argumentatif.

Konsep apologia dalam pemikiran Hearit menekankan bahwa respons organisasi terhadap tuduhan (kategoria) harus dirancang untuk memulihkan kesesuaian nilai. Dalam konteks saham gorengan, kategoria biasanya berbentuk tuduhan manipulasi harga serta dugaan lemahnya sistem pengawasan.

Respons yang efektif menuntut lebih dari sekadar klarifikasi formal; diperlukan penegasan komitmen moral dan langkah korektif yang nyata. Kejujuran dalam membuka informasi, tanggung jawab dalam mengevaluasi kelemahan sistem, serta konsistensi dalam penegakan sanksi menjadi elemen kunci untuk membangun kembali kepercayaan.

Krisis ini juga dapat dipahami sebagai Actional Legitimation Crisis, yakni krisis yang tidak mengancam keberlangsungan lembaga secara langsung, tetapi berpotensi menghambat pencapaian tujuan utamanya. Bagi BEI, tujuan tersebut adalah memastikan terselenggaranya pasar yang teratur, wajar, dan efisien.

Apabila investor ritel kehilangan keyakinan dan menarik partisipasinya, maka fungsi intermediasi dan pembentukan harga yang sehat akan terganggu. Dalam kondisi demikian, pemulihan IHSG menjadi indikator penting bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi legitimasi sosial.

Pemulihan yang berkelanjutan menuntut integrasi antara pembenahan struktural dan komunikasi publik yang kredibel. Penguatan sistem pemantauan transaksi, peningkatan transparansi terhadap aktivitas perdagangan tidak wajar, pemanfaatan teknologi analitik untuk deteksi dini, serta edukasi literasi keuangan bagi investor merupakan langkah-langkah substantif yang perlu dijalankan.

Namun, dalam perspektif Corporate Apologia, langkah-langkah tersebut harus dikomunikasikan sebagai bagian dari komitmen nilai, bukan sekadar prosedur teknis. Tanpa narasi yang meyakinkan, reformasi dapat dipersepsikan sebagai respons sementara terhadap tekanan publik.

Dengan demikian, pemulihan IHSG pasca kasus saham gorengan pada hakikatnya adalah proses negosiasi ulang kepercayaan antara institusi pasar dan masyarakat investor. Penguatan indeks yang terjadi setelah periode tekanan hanya akan bermakna apabila diiringi keyakinan bahwa tata kelola telah diperbaiki secara fundamental.

Dalam kerangka teoretis Hearit, legitimasi yang pulih merupakan hasil dari keselarasan kembali antara nilai yang diklaim dan tindakan yang diwujudkan. Oleh sebab itu, tantangan bagi BEI bukan sekadar mengembalikan stabilitas pasar, tetapi memastikan bahwa pasar modal Indonesia dipersepsikan sebagai ruang investasi yang adil, transparan, dan berintegritas dalam jangka panjang. (aro)

Tags: Bursa Efek Indonesiaihsgsaham

Berita Terkait.

Dari Jalan Berlumpur hingga Pelosok Desa, Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan
Ekonomi

Dari Jalan Berlumpur hingga Pelosok Desa, Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 - 23:31
Perangi Scam dan Judi Online, BRI Bersama PERBANAS Perkuat Kolaborasi dengan OJK dan Kemkomdigi Dukung Ekosistem Keuangan Digital yang Aman bagi Masyarakat
Ekonomi

Perangi Scam dan Judi Online, BRI Bersama PERBANAS Perkuat Kolaborasi dengan OJK dan Kemkomdigi Dukung Ekosistem Keuangan Digital yang Aman bagi Masyarakat

Selasa, 21 Juli 2026 - 23:01
Kisah UMKM di Cimahi, Omzet Meningkat Berkat Pelatihan Sertifikasi Halal BRI Peduli
Ekonomi

Kisah Rosyidah, Purna Pekerja Migran Indonesia yang Berhasil Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut di Pesisir Indramayu Berkat Pelatihan dari BRI Peduli

Selasa, 21 Juli 2026 - 22:31
Kisah UMKM di Cimahi, Omzet Meningkat Berkat Pelatihan Sertifikasi Halal BRI Peduli
Ekonomi

Kisah UMKM di Cimahi, Omzet Meningkat Berkat Pelatihan Sertifikasi Halal BRI Peduli

Selasa, 21 Juli 2026 - 22:04
Ekonomi

Menkop Apresiasi Puncak Peringatan Harkop dan Capaian KDKMP di Jatim

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:31
Pendapatan Negara Melonjak 21,4 Persen, Purbaya Pastikan Fiskal Indonesia Tetap Kuat
Ekonomi

Pendapatan Negara Melonjak 21,4 Persen, Purbaya Pastikan Fiskal Indonesia Tetap Kuat

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:22

BERITA POPULER

  • epi

    Desa Berdaya Energi Berbuah Hasil, Populasi Kambing Perah dan Pendapatan Peternak Meningkat

    3178 shares
    Share 1271 Tweet 795
  • Piala Dunia: Jelang Semifinal Kontra Inggris, Messi Pamitan dari Markas Argentina di Kansas

    12557 shares
    Share 5023 Tweet 3139
  • Spanyol vs Argentina: De la Fuente Tuntut Wasit Pimpin Final dengan Sangat Ketat

    1413 shares
    Share 565 Tweet 353
  • Suzuki Fronx Kuasai 35 Persen Pasar SUV Kompak di Indonesia

    2882 shares
    Share 1153 Tweet 721
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2733 shares
    Share 1093 Tweet 683
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.