INDOPOSCO.ID – Hilirisasi mineral kembali menjadi kontributor terbesar dalam realisasi investasi nasional sepanjang 2025. Dari total investasi nasional sebesar Rp1.931,2 triliun, sektor hilirisasi menyumbang 30,2 persen tau sekitar Rp584,1 triliun, menjadikannya pendorong utama pertumbuhan investasi Indonesia.
Kontribusi terbesar berasal dari sektor mineral, dengan total Rp373,1 triliun yang terdiri dari: Nikel Rp185,2 triliun, Tembaga Rp65,9 triliun, Bauksit Rp53,1 triliun, Besi baja Rp39,2 triliun, Timah Rp11,3 triliun, dan mineral lainnya Rp18,4 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sektor lain, seperti perkebunan dan kehutanan Rp144,5 triliun, migas Rp60 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp6,4 triliun.
Meski capaian ini positif, para ekonom menilai Indonesia kini memasuki fase baru: mengubah hilirisasi menjadi industrialisasi menyeluruh. Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai bahwa hilirisasi saat ini masih didominasi pembangunan smelter, sehingga nilai tambah lanjutan belum sepenuhnya tercapai.
“Pemerintah tidak cukup hanya mengejar besaran investasi. Yang lebih penting adalah memastikan investasi tersebut membangun ekosistem industrialisasi yang lengkap dari hulu hingga hilir,” ujar Fahmy, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, pemerintah masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan kualitas investasi melalui penguatan rantai pasok, diversifikasi produk, dan peningkatan teknologi industri.
Fahmy juga mencontohkan proyek hilirisasi alumina–aluminium yang dikembangkan oleh anak usaha MIND ID: PT Inalum, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebagai contoh hilirisasi yang mulai mengarah pada industrialisasi yang lebih matang.
Pengamat ekonomi dari Indonesian Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus, menegaskan bahwa tantangan berikutnya adalah membangun industri produk jadi (end products) agar nilai tambah hilirisasi dapat dinikmati di dalam negeri.
“Indonesia harus mampu memproduksi end product di dalam negeri. Perlu ada iklim usaha yang memberikan nilai plus kepada investor agar mereka bersedia berinvestasi hingga tahap produk jadi,” jelas Ahmad. Ia menekankan hilirisasi harus menghasilkan nilai tambah optimal, bukan berhenti pada produk setengah jadi atau intermediate goods.
Pemerintah juga menyiapkan 20 proyek hilirisasi strategis dengan potensi investasi sekitar USD26 miliar dan penciptaan hingga 600 ribu lapangan kerja. Menteri Investasi dan Chief executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan enam proyek telah diresmikan pada Februari 2026, sementara sisanya masih dalam tahap konstruksi dan negosiasi investasi.
Dengan kontribusi 30,2 persen terhadap total investasi nasional, hilirisasi mineral diperkirakan masih akan menjadi pilar utama investasi pada 2026. Pemerintah terus mendorong agar investasi besar ini menjadi motor bagi penciptaan nilai tambah lanjutan, memperkuat ekosistem industri nasional, membangun rantai pasok domestik, dan menghasilkan keberlanjutan ekonomi jangka panjang. (adv)











