INDOPOSCO.ID – Desa Wisata Kampung Prai Ijing (Tebara) di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sukses menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Desa binaan Bakti BCA ini berhasil meraih penghargaan ASEAN Sustainable Tourism Award dalam ajang ASEAN Tourism Awards (ATA) 2026 yang digelar di Cebu, Filipina, Minggu (1/2/2026).
Penghargaan ini diberikan khusus untuk kategori Rural Product, sebagai bentuk apresiasi atas semangat Desa Prai Ijing dalam menjaga kelestarian budaya Sumba dan mempromosikan pariwisata berkelanjutan.
Terletak di atas perbukitan yang asri, Kampung Prai Ijing dikenal luas berkat arsitektur rumah tradisionalnya yang ikonik serta ketaatannya pada adat kepercayaan Marapu. Tak hanya soal pemandangan, desa ini menjadi magnet wisatawan berkat tradisi tenun yang masih terjaga orisinalitasnya.
Aktivitas menenun di desa ini bukan sekadar atraksi bagi turis domestik dan mancanegara, melainkan urat nadi perekonomian warga lokal melalui penjualan produk tenun khas Sumba yang autentik.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian Desa Wisata Kampung Prai Ijing Tebara.
Menurutnya, penghargaan ini membuktikan bahwa desa wisata Indonesia memiliki daya saing global yang luar biasa.
“Pencapaian ini kembali menunjukkan potensi besar desa wisata Indonesia sebagai destinasi berkelanjutan yang unggul. Bakti BCA berkomitmen untuk terus mendorong usaha komunitas dan UMKM agar berkembang, sehingga mampu memajukan kesejahteraan masyarakat setempat,” ujar Hera dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Sekadar informasi, ASEAN Tourism Awards (ATA) merupakan ajang apresiasi bagi pelaku pariwisata terbaik di kawasan Asia Tenggara. Ajang ini menjadi bagian dari strategi negara-negara anggota untuk mempromosikan ASEAN sebagai tujuan wisata utama dunia.
Hingga saat ini, program UMKM dan Desa Bakti BCA telah memberikan pendampingan intensif kepada 28 desa wisata di seluruh Indonesia dengan fokus utama pada dua pilar, yakni peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui literasi keuangan dan pengelolaan layanan, serta perluasan akses pasar yang dilakukan melalui penguatan atraksi wisata, penyelenggaraan familiarization trip, hingga pemberdayaan produk UMKM lokal.
Hera berharap keberhasilan Prai Ijing dapat menginspirasi desa wisata lain di Indonesia untuk terus mengoptimalkan potensi mereka dalam menyelenggarakan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. (rmn)











