INDOPOSCO.ID – Di tengah riuhnya ruang publik yang mudah tersulut isu, satu pernyataan bisa menjelma bahan bakar perdebatan berkepanjangan.
Klaim mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer alias Noel soal adanya informasi “A1” mengenai Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa pun menjadi contoh terbaru bagaimana panggung politik dan hukum kerap beririsan dengan strategi komunikasi.
Analis komunikasi politik, Hendri Satrio menilai bahwa langkah Noel tersebut lebih menyerupai upaya membangun citra ketimbang mengungkap fakta. Menurut pria yang akrab disapa Hensa itu, pernyataan Noel dapat dibaca melalui kacamata teori komunikasi krisis.
“Jadi kalau dalam ilmu komunikasi itu ada Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dari Timothy Combs, seseorang dalam krisis gunakan cara pulihkan kepercayaan publik,” kata Hensa melalui gawai, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, dalam kerangka tersebut, aktor yang tengah tertekan masalah hukum cenderung mencari cara untuk menggeser perhatian publik, baik dengan menunjuk pihak lain maupun mengaitkan diri dengan figur populer.
“Nah Noel lakukan dua, sebut partai K dan ormas, lalu ajak Purbaya media darling ikut kasusnya demi simpati publik saja supaya majelis hakim ini mengurangi hukumannya,” tuturnya.
Bagi Hensa, pola komunikasi seperti itu bukan hanya soal membela diri, tetapi juga tentang mempertahankan eksistensi di ruang publik. Noel, lanjut Hensa, tampak berusaha menambah intensitas pembicaraan tentang dirinya agar tetap relevan di tengah sorotan media dan masyarakat.
Namun, strategi tersebut justru dinilai berisiko tinggi. Hensa mengingatkan, sejak awal kasus mencuat, Noel sempat mengambil posisi yang relatif aman di mata publik dengan mengakui kesalahan.
“Cara itu tidak menguntungkan Noel karena secara langsung menghapus simpati publik, dulu dia sudah mengakui kesalahan dan bertanggung jawab, namun mengapa sekarang jadi menembak-nembak kesana-sini?,” katanya.
Tak berhenti di situ, Hensa juga membaca adanya dimensi politik yang lebih luas. Ia menduga, rangkaian pernyataan Noel tak lepas dari keinginan menarik perhatian Presiden Prabowo Subianto.
“Dia ingin mencari perhatian Pak Prabowo. Kita masih ingat kan, apa yang ditampilkan oleh Noel pada saat dia ditangkap KPK, minta abolisi kepada Prabowo,” jelas Hensa.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI tersebut menilai, langkah paling aman bagi Noel saat ini adalah menahan diri dari lontaran opini dan fokus menghadapi proses hukum yang berjalan. Menurutnya, setiap klaim yang tak disertai bukti kuat hanya akan mempercepat pudarnya kepercayaan publik.
“Menurut saya best statement Noel: ‘saya bersalah dan bertanggung jawab’. Itu bagus banget saat baru ditangkap. Sekarang nembak kemana-mana, malah hilang simpati publik, padahal publik maupun Prabowo sekali pun lebih suka pengakuan itu,” tambahnya.
Sebelumnya, jelang sidang lanjutan kasus dugaan pemerasan sertifikasi K3 di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026), Immanuel Ebenezer alias Noel melempar pernyataan yang langsung mengundang perhatian. Saat itu, Noel itu mengaku mengantongi informasi tingkat tinggi mengenai nasib seorang pejabat negara, yang menurutnya berpotensi mengalami “perlakuan” serupa dengan dirinya.
Peringatan itu diarahkan langsung kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Noel mengklaim memperoleh informasi A1 dan meminta sang menteri untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. “Hati-hati Pak Purbaya. Sejengkal lagi, saya dapat info A1, Pak Purbaya akan di-Noel-kan,” kata Noel saat itu.
Tak berhenti di situ, Noel juga menyeret unsur politik dalam perkara yang menjeratnya. Ia menyebut ada partai yang turut terhubung dengan kasus pemerasan sertifikasi K3 di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan, meski hanya memberikan petunjuk samar. “Partainya ada huruf K-nya. Udah itu dulu clue-nya ya,” imbuhnya.
Selain partai, Noel mengungkap adanya keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas). Namun, ia menegaskan peran ormas tersebut tidak berada di garis depan perkara, melainkan sebatas terkait aliran dana dalam kasus pemerasan yang kini tengah bergulir di meja hijau. (her)




















