INDOPOSCO.ID – Pasar properti 2025 berjalan seperti mobil di jalur lambat. Beragam stimulus telah dilepas, suku bunga acuan pun diturunkan, namun laju kredit pemilikan rumah (KPR) tak kunjung menunjukkan akselerasi berarti. Daya beli yang melemah menjadi rem utama, membuat banyak calon pembeli memilih menunda keputusan besar, membeli rumah.
Di tengah situasi itu, sektor perbankan syariah justru bergerak ke arah sebaliknya.
Data sementara Bank Indonesia (BI) mencatat, sepanjang 11 bulan pertama 2025, KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tumbuh 6,9 persen secara tahunan. Angka ini memang masih di bawah pertumbuhan kredit konstruksi yang mencapai 8,1 persen dan kredit real estate sebesar 8,2 persen. Namun, di saat KPR konvensional cenderung melambat, pembiayaan berbasis syariah mampu menjaga ritme pertumbuhan.
Pengamat ekonomi syariah sekaligus Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sutan Emir Hidayat, menilai ada faktor psikologis dan struktural yang membuat KPR syariah lebih tahan guncangan.
“Kepastian margin menjadi daya tarik utama. Nasabah bisa menyusun arus kas jangka panjang tanpa dihantui perubahan cicilan akibat naik-turunnya suku bunga,” kata Emir melalui gawai, Kamis (22/1/2026).
Berbeda dengan skema konvensional yang umumnya menerapkan bunga mengambang setelah masa promo berakhir, produk KPR syariah menawarkan cicilan tetap hingga tenor selesai. Bagi masyarakat yang sensitif terhadap ketidakpastian ekonomi, stabilitas ini menjadi nilai jual yang sulit ditandingi.
Tak hanya soal angka cicilan, Emir menambahkan bahwa transparansi juga memainkan peran penting.
“Dalam akad syariah, harga perolehan rumah, margin bank, biaya-biaya, sampai mekanisme perpindahan kepemilikan dijelaskan secara rinci sejak awal. Ini memberi rasa keadilan dan mengurangi kekhawatiran akan biaya tersembunyi,” ujar Emir.
Kombinasi kepastian dan keterbukaan itu perlahan mengubah preferensi konsumen, terutama di kalangan keluarga muda dan pembeli rumah pertama yang menginginkan perencanaan keuangan lebih terkontrol.
Melihat tren tersebut, KNEKS cukup optimistis menatap tahun depan. Emir memproyeksikan pembiayaan KPR syariah berpeluang mencetak pertumbuhan dua digit pada 2026, dengan catatan stabilitas makroekonomi tetap terjaga.
Optimisme itu ditopang oleh sejumlah katalis, kelanjutan program perumahan rakyat dari pemerintah, dukungan regulasi dan penguatan ekosistem pembiayaan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta inovasi produk dan digitalisasi layanan yang agresif dilakukan bank-bank syariah.
“Kalau akses makin luas, produk makin relevan, dan proses makin mudah, segmen milenial dan keluarga muda akan menjadi mesin pertumbuhan berikutnya,” tambah Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) itu.
Ke depan, KPR syariah tampaknya tidak akan menggantikan peran KPR konvensional, melainkan berjalan berdampingan. Keduanya saling melengkapi, mengisi kebutuhan pasar yang semakin beragam. (her)










