INDOPOSCO.ID – Isu dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali memanjang seperti cerita bersambung yang tak kunjung menemukan episode pamungkas. Alih-alih mereda, polemik itu justru memasuki babak baru yang lebih dramatis setelah munculnya dialog antara Jokowi dan Eggi Sudjana.
Analis komunikasi politik Hendri Satrio melihat perkembangan tersebut bukan sekadar dinamika hukum biasa, melainkan perubahan alur besar dalam konflik yang sejak awal sarat emosi, keyakinan, dan kepentingan politik.
Hensa —sapaan akrab Hendri Satrio— mengaku tak menyangka perkara ini akan terus berlarut, terlebih ketika Eggi Sudjana justru menempuh jalur restorative justice, sementara enam tersangka lain seperti Roy Suryo dan rekan-rekan tetap menjalani proses hukum formal.
Ia menilai pertemuan langsung antara Eggi dan Jokowi sebagai titik balik yang mengubah peta konflik.
“Saya kaget karena kelihatannya kok dramanya ternyata panjang juga. Dialog antara Eggi Sudjana dengan Jokowi ini menurut saya sebuah tahapan drama baru nih. Jadi kalau ada sequence-sequence, ini mungkin season baru nih,” ujar Hensa melalui gawai, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, dialog itu menandakan adanya kegamangan di antara para pihak yang terlibat, sehingga ruang negosiasi akhirnya terbuka.
“Kalau ada negosiasi atau dialog, menurut saya ada pihak-pihak yang nggak yakin akan langkah yang ditempuh, sehingga tercapailah sebuah dialog,” imbuhnya.
Hensa berpandangan, pola komunikasi semacam ini sebenarnya berpotensi menjadi jalan keluar paling rasional untuk mengakhiri perdebatan panjang. Terlebih, Universitas Gadjah Mada (UGM) sejak awal telah berkali-kali menegaskan bahwa Jokowi merupakan alumnus sah dan pemilik ijazah asli.
Sebagai akademisi, Hensa mengaku menempatkan kepercayaan penuh pada institusi pendidikan.
“Saya sebagai akademisi memang percaya ke universitas. Universitasnya udah bilang kalau universitasnya bilang asli, buat saya asli. Itu udah titik tuh,” kata dosen Universitas Paramadina tersebut.
Karena itu, Hensa mendorong agar pola dialog tidak berhenti pada satu orang saja. Menurutnya, seluruh pihak yang masih mempertanyakan keabsahan ijazah seharusnya diberi ruang bicara dalam satu forum terbuka.
“Saya mengharapkan endingnya enggak selama ini. Misalnya, ada lagi dialog perbincangan seperti antara Eggi dengan Jokowi tapi ini dengan semua pihak yang bertanya dalam satu meja gitu ya, semacam Konferensi Meja Bundar itu ada lagi,” tuturnya.
Lebih jauh, Hensa menilai polemik ini meninggalkan noda dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Untuk pertama kalinya, seorang presiden dipaksa menghadapi keraguan publik terhadap dokumen pendidikan pribadinya.
“Ini sejarah sudah mencatat, apa pun hasil ujungnya, bahwa pernah ada seorang presiden dipertanyakan keabsahan dokumen ijazahnya oleh rakyatnya dan ini menurut saya sebuah catatan sejarah yang enggak oke, dan berlalu terlalu panjang kan,” ungkapnya.
Ia pun berharap, kisah panjang soal ijazah ini segera menemukan garis akhir, agar ruang publik tidak lagi tersandera isu yang sama berulang kali.
“Saya malah berharap ini cepat selesai sehingga kita sebagai masyarakat bisa membicarakan hal lain, semisal bagaimana percepatan pembangunan Indonesia ini terjadi,” tutupnya. (her)










