INDOPOSCO.ID – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) memetakan Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi dengan basis pekerja migran Indonesia (PMI) yang kuat dan kompetensi. Pemetaan itu dilakukan seiring penguatan kebijakan penempatan PMI ke berbagai negara tujuan, termasuk Amerika dan Eropa.
Direktur Jenderal Penempatan KemenP2MI Ahnas mengatakan PMI asal Jawa Tengah menunjukkan karakter kelompok yang solid, terorganisasi, dan relatif bertahan di negara tujuan.
“PMI asal Jawa Tengah mudah dikenali dan memiliki pola kelompok yang kuat, termasuk di Amerika dan Eropa,” ujar Ahnas saat audiensi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah di Kantor BP3MI Jawa Tengah, Selasa (30/12/2025).
Menurutnya, karakter tersebut menjadi modal strategis bagi pemerintah dalam memperkuat kebijakan penempatan PMI berbasis pendidikan dan kompetensi. Saat ini, pihaknya mengarahkan penempatan PMI, khususnya pada sektor formal, dengan mengacu pada standar kompetensi kerja.
“Penempatan ke berbagai negara, baik Amerika, Afrika, Eropa, maupun sektor domestik, kini dirancang berbasis kompetensi,” ucap Ahnas.
Ia menambahkan, sektor pekerja rumah tangga atau domestic worker juga mulai diwajibkan memenuhi standar kompetensi tertentu. Meski masih terdapat beberapa sektor menjadi pengecualian, secara umum kebijakan penempatan PMI telah mengarah pada pemenuhan standar kerja yang terukur.
Dalam rangka mendukung kebijakan tersebut, pihaknya memperkuat koordinasi dengan Bursa Kerja Khusus (BKK) serta memperluas sosialisasi penempatan PMI berbasis kompetensi ke sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jawa Tengah.
Namun, kebijakan itu tidak menyasar siswa masih berstatus pelajar, melainkan lulusan yang telah menyelesaikan pendidikan dan mengikuti pelatihan, penguatan bahasa, serta peningkatan keterampilan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah Ahmad Aziz menekankan pentingnya penyiapan calon PMI secara terstruktur dan berkelanjutan.
Penguatan ekosistem pendidikan, pemetaan minat, serta pemahaman kebutuhan pasar kerja luar negeri menjadi prasyarat utama, khususnya untuk negara tujuan seperti Jepang dan Jerman.
“Penyiapan ke Jepang rata-rata membutuhkan waktu sekitar lima bulan, sementara ke Jerman bisa mencapai sembilan bulan dan memerlukan pelatihan lanjutan,” ucap Aziz dalam kesempatan yang sama. (dan)




















