INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mendorong seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk memastikan tim pendampingan Makan Bergizi Gratis (MBG) di lapangan tidak hanya fokus pada menu dan logistik. Tetapi juga pada integrasi edukasi gizi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ke dalam kurikulum dengan pendekatan pembelajaran yang mendalam.
“Libatkan guru-guru dalam setiap aktivitas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang menjadikan kesehatan dan gizi sebagai tema sentral. Kita harus mencetak generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi juga sadar gizi seumur hidup,” ujar Atip dalam keterangan, Kamis (11/12/2025).
Menurutnya, UPT di 34 Provinsi adalah simpul-simpul strategis yang menghubungkan kebijakan pusat dengan realitas daerah. “Keberhasilan MBG sangat bergantung pada kemampuan UPT dalam membangun Sinergi horizontal dan vertikal secara sempurna,” jelas Atip.
Secara vertikal, masih ujar Atip, UPT wajib menjadi konsultan kebijakan bagi Pemerintah Daerah (Pemda). Sementara itu, secara horizontal Program MBG memiliki dimensi yang sangat luas, mulai dari kesehatan, pertanian, hingga ekonomi lokal.
“Saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras dan cermat dalam menyelenggarakan Rakor ini. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, tertib, dan menghasilkan dokumen strategis yang sangat vital. Marilah kita kembali ke daerah masing-masing dengan
“UPT harus membawa semangat baru mengubah gizi menjadi prestasi, mengubah program menjadi budaya,” katanya.
Ia menekankan agar seluruh UPT dapat mendukung implementasi MBG di daerah, sehingga program ini menjadi budaya baik dan gerakan yang masif.
“Program ini (harus) menjadi sebuah kultur, sebuah ekosistem, dan sebuah gerakan pendidikan kokal untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” terangnya.
“Tugas kita di 2026 bukan lagi hanya mengimplementasikan, tetapi menginstitusionalkan program MBG kita bertransformasi dari sekadar pelaku program menjadi perumus strategi dampak yang berani dan terukur,” imbuhnya.
Diketahui, implementasi MBG dapat dilihat sebagai upaya transformasi pendidikan di Indonesia. Program MBG menyentuh dua hal penting. Pertama, Gizi sebagai Kurikulum Karakter. Makan bersama, dengan menu yang bergizi, bukanlah sekadar pengisian energi, tetapi merupakan pembelajaran karakter yang paling fundamental.
Saat anak-anak makan bersama, mereka belajar nilai kedisiplinan dan tanggung jawab seperti mengantre, mencuci tangan, menghabiskan makanan, dan menjaga kebersihan. Selain itu, mereka juga belajar nilai gotong royong dan bermasyarakat seperti berbagi meja, saling menjaga, dan memahami pentingnya pangan bagi sesama. Tak ketinggalan, literasi gizi di mana murid mengenal jenis makanan sehat, memahami gizi seimbang, dan menjauhi makanan ultra-proses. (nas)










