INDOPOSCO.ID – Kementerian Agama (Kemenag) memastikan upaya pemulihan pascabencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus dipercepat. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pihaknya memprioritaskan pemulihan fasilitas pendidikan dan keagamaan yang terdampak.
Menurutnya, langkah pertama yang menjadi fokus Kemenag adalah memperbaiki madrasah-madrasah yang rusak akibat bencana.
“Karena ini Kementerian Agama, tentu prioritas pertama itu adalah membangun madrasah-madrasah yang hancur pascabencana,” ujar Nasaruddin kepada awak media usai puncak Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 di Jakarta, Sabtu (6/12/2025).
Nasaruddin mengatakan bahwa bantuan yang diberikan mungkin belum mampu mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi setidaknya cukup untuk memastikan proses belajar mengajar dapat kembali berjalan. “Mungkin tidak sepenuhnya seperti semula, tetapi paling tidak anak-anak kita bisa kembali aktif belajar,” katanya.
Selain madrasah, Kemenag juga memulihkan pesantren dan rumah ibadah lintas agama. “Bukan hanya masjid, tapi juga gereja dan rumah ibadah lainnya yang terdampak. Semuanya kita berikan bantuan,” jelas Nasaruddin.
Ia juga mengajak masyarakat Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri, untuk turut membantu meringankan beban para korban. “Mari kita meringankan beban mereka. Mungkin sedikit artinya bagi kita, tapi besar artinya bagi saudara-saudara kita di sana,” imbuhnya.
Adapun terkait kebijakan khusus bagi para guru yang terdampak bencana, Nasaruddin menyebutkan bahwa Kemenag masih merumuskan langkah terbaik. “Kita sedang rumuskan sekarang, karena banyak variasinya. Kita melakukan berbagai macam pendekatan,” ujarnya.
Nasaruddin menekankan bahwa keterbatasan anggaran membuat bantuan harus disusun berdasarkan prioritas yang objektif. “Dana kita sangat terbatas dibandingkan kebutuhan di lapangan. Karena itu ada prioritas pertama, kedua, dan ketiga. Ukurannya objektif, bukan subjektif,” tegas Nasaruddin.
Sementara itu, untuk jumlah fasilitas dan siswa terdampak, Nasaruddin menyampaikan bahwa proses pendataan dan penyaluran bantuan masih berlangsung. “Dananya tidak sekalian masuk, ada yang memerlukan revisi, itu juga butuh waktu,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa terdapat lokasi yang belum bisa dijangkau akibat akses darat terputus. “Banyak yang belum bisa dijangkau dengan kendaraan darat. Kita berharap setelah ada jembatan dan transportasi yang bisa masuk, kita bisa mulai bekerja lebih cepat,” tutur Nasaruddin.
Menurutnya, pemulihan ini tidak bisa rampung dalam waktu singkat karena bergantung pada perbaikan infrastruktur dasar. “Infrastrukturnya harus selesai dulu, baru kita membangun madrasahnya, pesantrennya, atau rumah ibadahnya,” tambahnya. (her)










