• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Industri Sawit Dorong Lingkungan Kerja Aman bagi Perempuan dan Anak

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Rabu, 3 Desember 2025 - 08:05
in Nasional
sawit

Suasana Diskusi Rutin Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) dengan tema "Industri Sawit Melindungi Perempuan dan Menghapus Pekerja Anak" di Gedung C Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Selasa (2/12/2025). Foto : J. Armanto/indoposco.id

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Pelaku usaha kelapa sawit terus memperkuat komitmen terhadap pemenuhan hak anak dan pekerja perempuan sebagai bagian dari praktik keberlanjutan. Berbagai perusahaan kini menyediakan fasilitas yang sebelumnya identik dengan lingkungan perkantoran kota besar, seperti ruang laktasi, layanan kesehatan, PAUD, hingga Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan.

Seluruh fasilitas tersebut menjadi bukti bahwa industri sawit semakin berupaya menciptakan lingkungan kerja yang ramah bagi perempuan dan anak.

BacaJuga:

Kemenpar Ajak Agen Perjalanan Singapura Eksplorasi Wisata Berkualitas Jogjakarta Lewat Famtrip

Hari Pangan Sedunia 2026, FKBI Desak Pemerintah Evaluasi Tujuh Masalah Krusial Pangan Nasional

Atasi Asap Karhutla Sumsel, BNPB Terapkan Penyemaian Dry Ice

Topik ini menjadi fokus Diskusi Rutin Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) yang digelar di Gedung C Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Selasa (2/12/2025).

Hadir sebagai pembicara antara lain Baginda Siagian, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian; Dr. Delima Hasri Azahari, Peneliti Utama BRIN; Marja Yulianti, Pengurus GAPKI Kompartemen Pekerja Perempuan & Perlindungan Anak; serta Edy Dwi Hartono, Kepala Pengembangan Program Solidaridad Indonesia.

Siagian menyampaikan bahwa Permentan 33/2025 mengenai Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan (ISPO) kini menjadi payung hukum baru yang wajib dipatuhi semua perusahaan. Regulasi tersebut memuat lima kriteria dan 36 indikator ketenagakerjaan yang harus dipenuhi untuk memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil.

“Setiap aktivitas perusahaan kini dikaitkan dengan kontribusinya terhadap 17 tujuan SDGs. ISPO menuntut larangan pekerja anak, penerapan kesetaraan gender, serta perlindungan tenaga kerja,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Bappenas akan mengintegrasikan capaian pembangunan nasional dengan standar SDGs, sehingga performa perusahaan sawit akan berpengaruh langsung pada proses audit ISPO.

Baginda menegaskan bahwa isu keberlanjutan bukan sekadar tekanan internasional, tetapi kebutuhan domestik mengingat besarnya skala industri sawit di Indonesia. Saat ini terdapat sekitar 9,6 juta pekerja langsung dan 7–8 juta pekerja tidak langsung, yang jika dihitung beserta keluarganya mencakup sekitar 50 juta jiwa.

“Sektor sawit menyumbang 3,5 persen terhadap PDB serta menopang ketahanan energi melalui program B40 dan rencana B50. Bila prinsip keberlanjutan terganggu, tekanan terhadap ekspor bisa menjadi ancaman nyata,” ujarnya.

Meski demikian, Baginda mengakui masih ada tantangan di lapangan, seperti penempatan pekerja perempuan di pekerjaan berisiko, kesenjangan upah, kurangnya APD, fasilitas penitipan anak yang belum merata, serta akses kesehatan yang berbeda antardaerah.

Ia juga menyoroti adanya salah tafsir terkait keberadaan anak-anak yang terlihat di area perkebunan.

“Tidak jarang anak-anak hanya menemani orang tuanya sepulang sekolah. Namun saat difoto, mereka dianggap sebagai pekerja anak,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa perusahaan tetap dilarang mempekerjakan anak dalam bentuk apa pun, dan bila terbukti, perusahaan dapat gagal dalam sertifikasi ISPO.

Ketua Forwatan, Beledug Bantolo, menilai isu pekerja perempuan masih kurang mendapat perhatian publik. Padahal, tantangan seperti penyitaan lahan, beban ganda perempuan, dan keterbatasan fasilitas penitipan anak perlu dijadikan agenda pembahasan dalam isu keberlanjutan sawit.

Peneliti Utama BRIN, Delima Hasri Azahari, menambahkan bahwa banyak tuduhan pekerja anak muncul akibat penilaian yang tidak tepat.

“Anak-anak sering hanya bermain atau menemani orang tuanya, namun dianggap sedang bekerja. Ini harus dicermati dengan lebih teliti,” ujarnya.

Delima juga menekankan pentingnya ketersediaan layanan kesehatan 24 jam dan perbaikan sanitasi di berbagai wilayah perkebunan.

Sementara itu, Marja Yulianti dari GAPKI menjelaskan bahwa 758 perusahaan anggota GAPKI telah menerapkan program perlindungan tenaga kerja, termasuk pelatihan K3, penyediaan APD, posyandu, PAUD, ruang laktasi, hingga Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa upah perempuan lebih rendah, karena perbedaan biasanya disebabkan pilihan jam kerja.

“Untuk karyawan tetap, standar upahnya sama,” tegasnya.

GAPKI juga menegaskan bahwa isu pekerja anak sering dijadikan kampanye negatif terhadap industri. Banyak anak yang sekadar ikut orang tuanya di kebun kemudian difoto oleh pihak luar dan dituding sebagai pekerja anak.

Yulianti mengungkapkan bahwa 69 persen perusahaan anggota GAPKI telah memperoleh sertifikasi ISPO, yang menjadi indikasi meningkatnya perlindungan bagi perempuan dan anak.

Dalam diskusi yang sama, Edy Dwi Hartono, Solidaridad Indonesia menekankan bahwa pemberdayaan pekerja dan petani perempuan merupakan langkah strategis sekaligus investasi jangka panjang untuk menciptakan industri sawit yang berkelanjutan dan bebas pekerja anak. Ketika perempuan memiliki akses setara terhadap sumber daya, hak, dan ruang partisipasi, maka stabilitas ekonomi keluarga meningkat dan risiko anak bekerja dapat ditekan.

Temuan UNICEF (2016) dan PAACLA Indonesia (2024) juga menunjukkan bahwa formalisasi status pekerja perempuan dari tenaga harian menjadi pekerja berkontrak merupakan intervensi paling efektif untuk memutus rantai pekerja anak. Hal ini membuktikan bahwa pencapaian Zero Child Labor tidak cukup mengandalkan larangan semata, tetapi bergantung pada pemenuhan hak ekonomi dan pengasuhan bagi para ibu. (aro)

Tags: anakpekerjaperempuansawit

Berita Terkait.

menpar
Nasional

Kemenpar Ajak Agen Perjalanan Singapura Eksplorasi Wisata Berkualitas Jogjakarta Lewat Famtrip

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:23
pangan
Nasional

Hari Pangan Sedunia 2026, FKBI Desak Pemerintah Evaluasi Tujuh Masalah Krusial Pangan Nasional

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:03
asap
Nasional

Atasi Asap Karhutla Sumsel, BNPB Terapkan Penyemaian Dry Ice

Jumat, 16 Oktober 2026 - 12:22
hutla
Nasional

Soal Status Bencana Nasional Karhutla, Kepala BNPB Bilang Begini

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:21
iski
Nasional

Ilmu Komunikasi Harus Perkuat Etika dan Kepercayaan Publik di Era AI

Jumat, 16 Oktober 2026 - 09:38
fauzan
Nasional

Wamendiktisaintek Tekankan Integritas Calon Pemimpin Muda

Jumat, 16 Oktober 2026 - 02:22

OLAHRAGA

super
Olahraga

Jadwal Super League Pekan 5: Persija Diuji Persita, Persib Hadapi Ancaman Persik

Editor Nelly Marinda Situmorang
Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:01

INDOPOSCO.ID - Persaingan Super League 2026/2027 memasuki babak yang semakin menarik. Persija Jakarta berambisi mempertahankan posisi teratas, sementara Persib Bandung...

SelengkapnyaDetails
psm

Jamu PSM Makassar di Bantul, PSIM Jogjakarta Usung Misi Raih Tiga Poin Perdana

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:40
esi

PB ESI 2026-2030 Fokus Ubah Potensi Generasi Digital Jadi Prestasi Dunia

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:07
Gempa Bumi Getarkan Banyumas di Jawa Tengah, Pusat Episenter 25 Km dari Kota

Hasil Liga Champions: Liverpool Pesta Gol, PSG Mengamuk di Markas City

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:57
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

BERITA POPULER

  • Gandeng Musisi Tanah Air, Kemendikdasmen Kian Menggelorakan Lagu Anak Lewat KICAU

    Gandeng Musisi Tanah Air, Kemendikdasmen Kian Menggelorakan Lagu Anak Lewat KICAU

    1050 shares
    Share 420 Tweet 263
  • Usai Gempa M4,1 Guncang Bogor, Getaran Susulan hingga Malam

    984 shares
    Share 394 Tweet 246
  • Gempa Bumi Getarkan Banyumas di Jawa Tengah, Pusat Episenter 25 Km dari Kota

    977 shares
    Share 391 Tweet 244
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    947 shares
    Share 379 Tweet 237
  • Kunci Wirausaha Kuat, Ekonomi Melesat Perpres No. 38 Tahun 202

    784 shares
    Share 314 Tweet 196
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.