• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Kangkung Babi

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Selasa, 25 November 2025 - 08:00
in Disway
disway

disway

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Ini kali kedua saya ke bandara jalan kaki. Di Wamena, Papua. Bandaranya memang hanya sekitar 600 meter dari hotel: Grand Baliem.

Jalan kaki pertama saya, sudah lama nan lalu. Di Samarinda. Rumah saya persis di sebelah bandara Temindung. Belum ada pagar permanen waktu itu. Pagarnya masih asal-asalan yang jarak antar kayunya cukup untuk di blusuki satu badan. Tidak lama setelah pagar permanen dibangun pagar itu seperti mengusir bandaranya: pindah ke lokasi ke nun jauh.

BacaJuga:

Hotel Syiah

WFH Sarengat

Kejiwaan Iran

Bandara Wamena masih di lokasi yang lama. Tapi terminalnya sudah diperbesar tidak sebagus yang pernah diberitakan.

Ruang tunggunya penuh lebih 100 orang. Tepat pukul 10.00, tanpa pengumuman apa pun, berkumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Semula saya tidak sadar ada lagu itu karena sedang asyik ngobrol. Saya lihat banyak orang tiba-tiba berdiri. Lalu yang lain ikut berdiri. Saya pun ikut berdiri. Demikian juga orang Papua yang saya ajak ngobrol di ruang tunggu itu.

Saya perhatikan ke sekeliling, hanya sekitar 10 persen yang tidak ikut berdiri kebanyakan wanita. Tidak ada yang mengingatkan agar mereka berdiri. Pun petugas berbaju tentara di ruang tunggu itu.

Di apron terlihat pesawat Boeing 737 Trigana, pesawat ATR Wing Air, dan beberapa pesawat kecil yang siap berangkat ke Jayapura.

Dengan tokoh Papua itu saya ngobrol soal yang tidak berubah di Wamena: harga-harga. Tetap tinggi. Jauh lebih tinggi dari wilayah mana pun di Indonesia.

Harga bensin Rp30.000/liter. Itu kalau normal. Kadang bisa sampai Rp50.000.

Bensin untuk Wamena memang harus didatangkan lewat pesawat. Pernah, ketika Presiden Jokowi ambil keputusan ”harga BBM harus sama untuk seluruh wilayah Indonesia di mana pun”, harga bensin di Wamena sama dengan di Solo. Tapi hanya satu atau dua bulan. Setelah itu matahari kembali terbit dari timur.

Tidak ada subsidi?

Ada. Khusus untuk satu jenis BBM saja: solar. Cara memberikan subsidi pun khas Papua Pegunungan: pakai kupon berbentuk kertas.

Yang mengeluarkan kupon adalah dinas perdagangan dan perindustrian.

Siapa yang berhak mendapat kupon? Siapa saja. Mobilnya pun jenis apa saja. Tidak dibatasi cc-nya. Pokoknya semua kendaraan yang rodanya empat.

Kupon itu bisa dipakai beli solar kapan saja maksimal sebulan dua kali. Setiap kali dipakai bisa untuk mendapat jatah BBM berapa saja: asal tidak lebih 20 liter. Harga per liternya sama dengan harga di kota Anda.

Mengatur subsidi di Wamena tidak sulit. Semua nomor mobil terdaftar di dinas perdagangan dan perindustrian.

Pun untuk pembangkit listrik tenaga diesel. Yang totalnya sampai tujuh megawatt. Betapa besar keperluan BBM-nya: harus dikirim lewat pesawat pula. Banyaknya penerbangan ke Wamena itu antara lain karena harus membawa barang aneka ria. Seperti Trigana Air itu misalnya, setiap terbang bisa membawa pula satu mobil.

Rasanya hanya talas dan pisang yang Wamena swasembada. Tambah satu: buah merah yang penuh khasiat obat itu. Kangkung pun dari Jayapura. “Kangkung memang bisa tumbuh di Wamena, tapi yang dari Jayapura lebih enak,” ujar sahabat Disway di sana.

Di Wamena, kangkung jadi sayur kesukaan. Hampir setiap makan ada sayur kangkungnya. Di masak apa saja. Termasuk untuk campuran makan talas.

Meski di hampir tiap rumah di desa punya peliharaan babi, tetap saja Wamena kekurangan daging babi. Harus ada babi yang naik pesawat ke Wamena. Harga satu babi besar bisa Rp50 juta. Adiknya, Rp40 juta.

Sebenarnya banyak peluang memproduksi apa saja di Wamena. Mulai ayam, air minum sampai ternak babi. Rasanya salah satu dari 100 batalyon baru bentukan Presiden Prabowo akan dibangun di Wamena: Batalyon Teritorial Pembangunan. Resimen khususnya bisa beternak babi dan menanam kangkung di sana.

Kalau pun tidak banyak bisa memberikan lapangan kerja, setidaknya bisa menurunkan harga-harga yang keterlaluan mahalnya di Wamena. (Dahlan Iskan)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Hotel Syiah

Minggu, 12 April 2026 - 08:00
disway
Disway

WFH Sarengat

Jumat, 10 April 2026 - 08:00
disway
Disway

Kejiwaan Iran

Kamis, 9 April 2026 - 08:00
disway
Disway

Utang Tuhan

Rabu, 8 April 2026 - 08:00
disway
Disway

Zaman Batu

Selasa, 7 April 2026 - 08:00
disway
Disway

Kompor Oracle

Senin, 6 April 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Pegawai-Kementan

    ASN Kementan Sulap Lahan Marginal Perumahan Jadi Sumber Pangan Keluarga

    2418 shares
    Share 967 Tweet 605
  • Bea Cukai Bangun Sinergi Pengawasan Lintas Instansi di Makassar dan Banda Aceh

    826 shares
    Share 330 Tweet 207
  • Persis vs Semen Padang: Duel Membara di Zona Bawah

    787 shares
    Share 315 Tweet 197
  • Gelar Halalbihalal, Keluarga Besar H. Mukhayar dan Hj. Hamidah Satukan 1.108 Anak Cicit

    766 shares
    Share 306 Tweet 192
  • Persik vs Persijap: Macan Putih Dapat Suntikan Tenaga dan Energi Tambahan

    1144 shares
    Share 458 Tweet 286
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.