INDOPOSCO.ID – Ketika belum zaman siber, 90 persen penipuan lewat bank bisa diungkap. Sejak penipuan pun dilakukan secara digital tingkat sukses itu turun: tinggal 70 persen. Pengungkapan penipuan di bank kalah cepat dengan ”larinya” pelaku kejahatan.
“Dalam satu menit uang hasil tipuan sudah bisa pindah rekening sampai 60 kali,” ujar Nathalya Wani Sabu dalam disertasi doktornyi kemarin. “Bahkan sudah bisa pindah ke rekening crypto,” tambahnyi.
Wani meraih gelar doktor di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dengan predikat cumlaude. Ketika menguraikan isi disertasi pakai slide itu suaranyi sangat lantang. Dia mengenakan kebaya yang sama dengan putrinya yang khusus datang dari London. “Nanti malam saya sudah harus balik ke London,” ujar putri tunggal yang bekerja di Bloomberg itu.
Ketua sidang promosi Irjen Pol (Purn) Dr Eko Budi Sudarto mengatakan Wani memang ”wani tenan” –sungguh berani. Maka di sesi ujian terbuka kemarin Eko mengajukan satu pertanyaan: mengapa Wani berani ambil doktor di PTIK.
“Orang Tionghoa seperti saya umumnya memang takut ke polisi. Baru terima amplop warna cokelat saja sudah gemetar,” jawab Wani. “Tapi saya kan banyak punya teman di kepolisian,” tambah Wani.
Menurut Dr Puspitasari, satu-satunya penguji wanita, Wani memang istimewa. “15 mahasiswa seangkatan Bu Wani bukan hanya laki-laki mereka juga polisi semua,” ujar Puspitasari. Dalam istilah gurauan Irjen Pol Eko, mereka itu ”kumbang liar” semua.
Di saat jeda untuk rapat tim penguji saya mendatangi meja teman seangkatan Wani. Para kumbang itu pilih mendalami ilmu yang berbeda. Ada yang kejahatan anak, aspek hukum business judgment rule ada pula yang aspek hukum transportasi. Mereka adalah mahasiswa S-3 PTIK –kini berstatus sekolah tinggi– angkatan ke sembilan. Kampus polisi itu sudah melahirkan 67 doktor. “Jadi, ibu Wani ini agen 067. Saya sendiri agen 003,” ujar Irjen Pol Eko.
Di PTIK semua mahasiswa S-1 dan S-2 adalah anggota kepolisian. Baru di S-3 boleh dari luar kepolisian. Termasuk Wani yang adalah senior advisor Bank BCA dan Djarum.
“Kita perlu orang dari luar kepolisian untuk mempelajari ilmu kepolisian. Agar kepolisian tidak didominasi yang pikirannya dokmatik,” ujar Pror Dr Albertus Wahyurudhanto, promotor Wani.
Prof Wahyu pernah menjadi wartawan dan redaktur harian Suara Merdeka, Semarang selama belasan tahun. Disertasi doktor ilmu pemerintahannya di Unpad tentang Satpol PP dan Polri.
Wani sebagai pejabat tinggi Bank BCA memang diserahi mengurus kejahatan perbankan. Berarti harus harus dekat dengan polisi. Dia tahu persis bagaimana penanganan atas pengaduan korban penipuan di bank.
Padahal jumlah pengaduan banyak sekali. “Sehari bisa 1.200 pengaduan,” ujar Wani. “Korban yang tidak mengadu lebih banyak lagi,” tambahnyi.
Korban yang tidak mengadu itu umumnya merasa salahnya sendiri. Juga: kalau mengadu kelihatan bego-nya, kok bisa ditipu. Sebagian lagi merasa itu sudah takdirnya karena selama ini merasa kurang beramal.
Dengan adanya AI, penipuan itu lebih banyak lagi. Penipu ada yang mengaku petugas pajak. Atau mengaku pegawai bank. “Bahkan bos BCA sendiri, Pak Armand Hartono, dijadikan objek AI untuk menipu,” ujarnyi.
Wani lantas memutar video di layar lebar. Ada sosok Armand muncul di layar. Sosok Armand itu memperkenalkan diri sebagai pemilik Bank BCA dan anak orang terkaya di Indonesia. Si ”Armand” lantas mengatakan akan bagi-bagi uang Rp 20 juta. “Padahal sosok Armand di video itu rekaan AI,” ujar Wani.
“Pak Armand tidak akan pernah mengatakan anak orang terkaya,” katanyi.
“AI bikinan orang sini sebenarnya gampang diketahui. Banyak tidak samanya dengan tokoh yang jadi objek,” ujarnyi. “Kalau di negara lain hasil AI itu bisa persis aslinya,” tambahnyi.
AI memang kian sempurna. Maka meningkat pula penipuan lewat love scam. Sudah tidak ada lagi penipuan gaya ”mama minta pulsa”. love scam terjadi di mana-mana. Sampai banyak yang jatuh cinta pada sosok wanita cantik yang muncul dan mengajak bicara di layar HP. “Padahal wanita cantik itu bikinan AI,” kata Wani.
Disertasi Wani lantas menawarkan pola baru dalam penanganan penipuan lewat bank: Cobra Index. Istilah yang dia ciptakan itu terasa sangat nendang. Dilengkapi logo pula: gambar kepala ular kobra yang sedang siap mematuk mangsa.
Cobra-nya Wani adalah singkatan: Collaborative Policing Readiness in Banking Cybercrime Assessment. Intinya penanganan atas pengaduan tidak bisa lagi seperti selama ini. “Kejahatannya seperti lari pakai Ford, penanganannya seperti naik angkot,” kata Wani.
Penanganan selama ini, kata Wani, masih berbasis ad hoc. Juga hanya karena adanya hubungan personal yang baik. Belum berbasis kolaborasi antar lembaga. Enam lembaga yang terkait itu punya wewenang sendiri-sendiri, kadang tumpang tindih. Masing-masih juga punya ego sektor sendiri-sendiri.
Enam lembaga itu antara lain kepolisian, kejaksaan, Otoritas Jasa Keuangan dan Kementerian komunikasi dan digital. “Kepolisian, misalnya, bisa menindak orangnya, tapi yang bisa memblokade situsnya adalah Komdigi,” katanyi.
Maka, atas pertanyaan tim penguji, Wani mengusulkan perlunya terbit sejenis Surat Keputusan Bersama antar enam lembaga itu.
Lalu siapa yang akan jadi leader di enam lembaga itu? “Saya tidak menyebutnya leader tapi sebagai dirijen yang mengorkestrasi enam lembaga. Yaitu kepolisian,” ujar Wani.
“Kalau Anda diberi wewenang untuk merealisasikan Cobra, bagaimana cara melaksanakannya?” tanya seorang guru besar penguji.
Wani menyebut perlu tiga tahapan. Pertama, membangun fondasi. Mulai dari melahirkan SKB, menyepakati pembagian wewenang sampai memperjuangkan UU Siber sebagai lex specialist. Tahap ini perlu waktu 1,5 sampai dua tahun.
Kedua, standardisasi kualitas kompetensi di enam lembaga. Ini juga perlu dua tahun. Ketiga, evaluasi lima tahunan agar Cobra Index terus bisa memperbaiki diri. Dengan Cobra Index tingkat pengembalian penipuan bisa lebih besar. “Selama ini tingkat pengembalian itu hanya lima persen,” kata Wani.
Kini, setelah kuliah S-3 selama dua tahun delapan bulan, Wani bergelar doktor ilmu kepolisian ahli kolaborasi. Dia jadi ilmuwan bidang yang paling sulit dilaksanakan di Indonesia: kerja sama dan kolaborasi.
“Saya ingin mengadopsi teori Cobra Index untuk penanganan perlindungan anak,” ujar Veronica Tan yang duduk satu meja dengan saya. Anda sudah tahu: Vero kini menjabat wakil menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Lengkaplah karir Wani. Dari seorang auditor andal, bidan lahirnya HaloBCA yang sampai menjadi juara dunia (Disway 22 April 2026:Halo Wani) sampai kini menjadi ilmuwan ahli ilmu kolaborasi.
Ilmunya sudah lahir. Yang akan menerbitkannya sebagai buku sudah antre. Bahwa apakah ilmu itu akan bisa hidup dan menjadi sebesar HaloBCA tidak tergantung pada Armand Hartono. Itu lebih tergantung pada Anda, Anda dan Anda. Atau Anda yang justru akan membiarkan bayi Wani itu mati ditelan bumi birokrasi. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 25 Mei 2026: Masuk Istana
Muh Nursalim
Pasal 33 UUD 45 itu gagasan Bung Hatta. Belum pernah terealisasi. Godaan kapitalisme dan tekanan dari pengusaha kapitalis, siapapun presidennya ndak kuat menjalankan. Mungkin kah kali ini Prabowo mencoba mengeksekusi ? dengan koperasi merah putih dan BGN. Para pengkritik tulus atau tidak susah dipegangi. Jangan2 mereka itu corongnya kapitalis ? Kalau murni akademik. Alhamdulilllah. Prabowo harus dikiritik. Agar pasal keramat ini benar2 murni dijalankan.
Juve Zhang
Ketika pak Menkeu bilang dengan adanya DSI maka bursa saham akan moncer ….saya komentari keliru besar jika bursa saham ada korelasi dengan kinerja DSI….yg CEO nya muka bersih akan menghapus Kong kali Kong…gaji sekitar 200 juta….dari pada bocor transfer pricing 150 milyar USD kata Sang Raja KononHAH….saya bantah juga itu angka fantastis 150 Milyar USD seperti angka yg gak masuk akal masa Transfer pricing segitu gedenya….cara pikir saya tetap ilmu ekonomi makro….jika Rp dicetak jor jor an mas nilai nya akan merosot….dan Fund managers yg memegang duit nasabahnya ramai ramai jual saham di bursa …. mumpung masih likuid dan belum masuk jurang sangat dalam….plus menghindari jebakan melorot nya Rp yang tembus 17750 per hari ini…. perkiraan Rp otw ke 20 000….bukan hal mimpi….dan Fund managers gak mau kejebak dengan melorot tajam hrga saham dan Rp….anda lihat TPIA itu pabrik bahan baku plastik cuan bagus tetap saja amblas setahun lalu hrga saham nya 10ribu sekarang 1700….wkwk….jelas kalau dalam setahun ambrol dari 10 ribu ke 1700 itu gak bisa dijelaskan secara ilmu per saham an….karena kinerja perusahaan Joss Banget….artinya fundamental bagus….tapi Fund managers itu sekarang tidak rasional….bukan masalah DSI atau Mr.Loke CEO nya….ini masalah fundamental Rp yang ambrol nilainya karena terlalu banyak dicetak oleh Ferari skala super Jumbo…..nah ini yang ditakuti para Fund managers yg megang duit Ton Ton an….bukan mustahil Rp OTW ke 25 ribu…
Wilwa
Youtube: Why This War On Islam Is A War On You. 14 Apr 2026. Matthew Cooke. Hmmm. Monolog 15 menit dari produser film dokumenter asal USA ini layak disimak. Matthew sendiri seorang agnostik namun dia punya kerabat dari berbagai agama mulai dari Yahudi, Kristen, Islam, Buddha hingga atheist. Monolog ini dengan cerdas menghubungkan lobby Yahudi ekstrem terhadap Republicans maupun Democrats di USA untuk menyamakan Islam dengan agama terror (padahal Yahudi ekstrem macam. Netanyahu itu sendiri yang asli teroris), yang berkelindan dengan industri militer USA, oligarki USA, presidents USA, Kristen ekstrem USA, mass media USA (mulai dari Foxnews sampai CNN, dari New York Times sampai Washington Post). Matthew menjelaskan bahwa Yahudi Kristen Islam itu masih satu akar. Hmmm. Sebuah monolog yang saya setujui. Dan kunci agar dunia ini damai menurut saya pribadi adalah bagaimana menyelesaikan konflik segitiga antara Yahudi vs Kristen vs Islam. Dan satu-satunya solusi adalah dari aliran literal menjadi aliran liberal. Tak ada jalan yang lain. Perang berbau agama hanya bisa berhenti bila semakin banyak yang liberal dan semakin sedikit yang literal (yang meyakini agamanya paling benar dan yang lain salah, yang meyakini kitab sucinya tak bisa salah >> yang sebetulnya isi kitab suci Yahudi Kristen Islam itu mayoritas mitos rakyat lokal dan tulisan manusia purba yang tak mengerti science modern). Bukan berarti agama ditinggalkan tapi agama tetap dihargai namun sebagai budaya atau etika. Hmmm
Re Hanno
Mestinya Abah mewawancarai Bung Hatta ketika di Istana Banda. Bila situasi tak memungkinkan, paling tidak wawancara imajiner saja. Cukup satu pertanyaan: apa tanggapan Bung Hatta bila koperasi dijalankan secara militeristik untuk kepentingan kelompok tertentu? Jangan beritahu beliau tentang Koperasi Merah Putih. Pasti membuat beliau tidak nyaman di alam sana bila tahu apa yang diperbuat dengan KMP.
Ibnu Shonnan
Yang diceritakan. Semua sama Abah difoto. Mulai rumah. Kamar tidur. Mesin ketik. Halaman rumah. Cuma satu cerita yang tidak ada fotonya. Pembaca sengaja dibiarkan liar dengan gambar yang terbayang di alam pikirannya sendiri. Apa kalau sudah sepuh sengaja begitu ya? Cerita bagian awal tulisan plus visual. Bagian akhir hanya tulisan.
Bahtiar HS
Meski tanpa disebut2, orang akan langsung tahu siapa dia hanya dengan melihat kostum panggungnya: celana jeans super ketat, baju retro, jaket butut nan lawas, rambut gaya mangkok (bowl cut) yang identik atau gaya jambang pompadour spt Elvis Presley. Bahkan sblm nyanyi kita sudah tahu mereka siapa: The Changcuters.
Itulah kekuatan visual branding awal 2000an.
Alih2 memfollow genre musik melow sebelumnya spt Widurinya Broery, mrk memilih genre garage rock spt The Rolling Stones serta indie rock awal 2000-an seperti The Hives, The Strokes, dan The Vines. Uniknya, liriknya penuh humor dan komedi. Jadi mrk punya ISP yg bukan saja agak laen, tp laen dari yg laen di masa itu. Auto ngetop lah.
Dan yg lucu, nama band itu terinspirasi dari teman mrk yg selalu hadir saat latihan atau manggung. Yg sll membawa hokky. Namanya Cahya. Entah mengapa mrk memanggilnya “Cangcut”; bhs Sunda utk celana dalam :)) Agar lbh keren, grp band itu mrk namakan The Changcuters. Berdiri 19 Sep 2004. Beranggota 5 org personil.
Uniknya lg, personil grp band ini tetap utuh 5 org itu hingga 22 thn kini.
I Love You Bibeh!
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
TUR SEJARAH
JANGAN HANYA TUR KONSER..
Membaca CHDI hari ini saya jadi berpikir.
Bahwa Pak Dahlan perlu touring lagi.
Bukan naik motor listrik. Tapi naik mesin waktu republik.
1) Pergilah ke Bengkulu. Lihat rumah Bung Karno.
2) Ke Ende. Tempat renungan lahirnya Pancasila.
3) Ke Boven Digul. Tempat negeri ini pernah membuang orang-orang yang justru kemudian membangun Indonesia.
4) Ke Manado. Menengok jejak Pangeran Diponegoro di ujung pengasingannya.
Lalu tulis apa adanya.
1) Cat temboknya.
2) Bau ruangannya.
3) Rumput liarnya.
4) Penjaganya.
5) Tiket masuknya.
6) Bahkan toiletnya.
Sebab sejarah sering kalah bukan karena dilupakan, tapi karena dibiarkan kusam.
Menteri Kebudayaan perlu diajak membaca Indonesia lewat bangunan-bangunan sunyi itu.
###
Ironis memang. Kita hafal nama pahlawan di uang kertas. Tapi lupa menjaga rumah tempat mereka pernah menangis, berpikir, sakit, dan dibuang.
Mungkin republik ini perlu program baru: “wisata pengasingan nasional”. Supaya rakyat sadar, kemerdekaan dulu diperjuangkan dengan penderitaan. Bukan dengan podcast dan pencitraan.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
BENTUK DAN DISAIN PAGAR ISTANA BANDA,
TIDAK STANDARD SEKNEG..
Memang pagar Istana Banda terlihat sederhana.
1) Tidak ada kesan protokoler khas Sekneg.
2) Tidak tinggi.
3) Tidak megah.
4) Bahkan pintunya pun terasa biasa saja.
Tapi mungkin justru itu nilai pentingnya:
1) Masih asli.
2) Masih otentik.
3) Masih menyimpan suasana zamannya.
Karena itu, yang dibutuhkan
1) Belum tentu dan bukan rehab besar-besaran.
2) Belum tentu renovasi total.
3) Jangan sampai demi terlihat “wah”, malah ruh sejarahnya hilang.
Banyak bangunan tua akhirnya berubah seperti hotel baru yang pura-pura kuno.
Yang lebih penting adalah perhatian pemerintah pusat. Khususnya Kementerian Kebudayaan.
Perhatian itu bisa dimulai dari..
1) Perawatan rutin.
2) Penataan kawasan.
3) Papan sejarah yang layak.
4) Dokumentasi serius.
5) Publikasi nasional. Juga
6) Pengamanan aset sejarahnya.
Sebab Banda bukan tempat biasa. Di pulau kecil itu, sejarah dunia pernah berubah arah karena pala dan rempah.
Ironis kalau negara lain menulis sejarah Banda di buku mereka, sementara kita sendiri terlihat setengah lupa menjaganya.
Kadang yang dibutuhkan bangunan bersejarah bukan cat baru. Tapi rasa hormat baru.
Liáng – βιολί ζήτα
iseng-iseng saja
CHDI : “Sesekali di salah satu kamar lantai bawah benteng ini saya bisa menyanyi tanpa rasa malu: suara cempreng saya bisa berubah menjadi sedikit bulat oleh gema dinding-dinding tebal tuanya.”
perlu dibedakan antara gaung dan gema…..
gaung adalah bunyi pantul yang datang bersamaan dengan bunyi asli sehingga mengaburkan suara asli, karena jarak sumber suara asli dan dinding pantul sangat dekat.
gema adalah bunyi pantul yang datang setelah bunyi asli, sehingga terdengar sangat jelas dan terpisah, seakan-akan ada 2 suara.
dalam hal bernyanyi….. baik gaung maupun gema, justru yang menyebabkan distorsi suara asli sang penyanyi…..
oleh karena itu, di studio rekaman PASTI menggunakan peredam efek gaung maupun gema…..
Pindah ruangan gemanya berbeda. Dari satu ruangan ke ruang lainnya suara saya bisa berganti dari Broery Pesulima ke Changcuters ke Gombloh dan Little Richard.(Dahlan Iskan)
itu sih perasaan Abah, yang merasa-rasa, serasa seperti penyanyi kerén….. wkwkwkwkwk…..
Jo Neka
Walaah bapak inj ga bisa nyanyi aja..kok.Sebut² nama penyanyi..hahaaaa.Tetapi pak Agus dan pak djoko lodang.Bisa mendeskripsi.Bahwa kadang² “merintih”.Lebih merdu dan syahdu dari menyanyi.
Lekas Jaya
Tulisan Abah kali ini memberikan kesan yang mendalam sekaligus memprihatinkan. Sangat ironis mengetahui bahwa Istana Mini di Banda Naira, yang secara historis merupakan cikal bakal atau “kakak tertua” dari Istana Merdeka Jakarta, justru kondisinya sepi dan kurang terawat.
Kebebasan akses masuk ke bangunan bersejarah tanpa adanya penjagaan memang memberikan keleluasaan bagi pengunjung. Namun, kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan karena rentan terhadap kerusakan dan kurangnya perawatan. Hal ini berbanding terbalik dengan bagaimana negara-negara lain begitu ketat menjaga dan menghidupkan situs sejarah mereka.
Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat sekaligus dorongan bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk segera membenahi aset bersejarah di Banda Naira. Sangat disayangkan apabila peninggalan bangsa yang begitu bernilai ini dibiarkan lapuk termakan zaman.
Juve Zhang
Anda bertanya dari mana Danagtara akan beayai PLT sampah di 33 kota…. jawabannya dari Bond patriot yg diambil dari uang Taipan yg kemarin wajib beli OREO patriot suku bunga diberi 2% sangat rendah tapi ini demi sampah jadi energi listrik…para taipan semuanya iuran total ada 50 ton terkumpul dalam OREO patriot…ini kita beri apresiasi buat taipan asal uangnya jangan dari Transfer pricing…..wkwkw
Bahtiar HS
Ingat Broery Pesolima (atau Marantika) ingat “Widuri”; lagu andalan saya kalau kepepet suruh nyanyi.
Ingat Broery, ingat Dewi Yull.
Ingat Broery duet dengan Dewi Yull, ingat “Jangan Ada Dusta di antara Kita” :))
Andai setiap orang bisa seperti kedua lagu itu. Keduanya lagu lawas. Generasi old. Tapi tetap diingat, bahkan dinyanyikan banyak orang hingga kini. Bahkan sangat menolong buat orang2 kepepet seperti saya. Padahal yg mengorbitkannya, Broery, sudah tiada 26 tahun yg lalu di Juli 2020 pd usia 52 thn. Dia menderita stroke dan komplikasi.
Dan tahukah Anda, sebelum drop, dia sempat merilis album terakhirnya, sebuah album rohani, berjudul “Selamat Tinggal”.
Her P
Pemda/pemprov setempat mesti lebih kreatif. bangunan bersejarah seperti itu alangkah baiknya dinamakan secara resmi dengan kata yang mengandung makna positif atau patriotisme, bisa nama tokoh/pahlawan setempat, nama daerah atau apalah daripada nama ISTANA MINI. Si PNS juga tidak sadar betapa besar peran dia, bukan sekadar penjaga, tapi sebenarnya adalah “pewarta” nilai-nilai perjuangan dan semangat patriotik atas peristiwa yang terjadi di tempat tersebut keadaan siapapun yang datang di .”Istana Mini”. Tapi kalau si PNS memaknai hanya sebatas “penunggu”, ya begitulah….
my Ando
Pak Dahlan adl Wartawan sukses smua org pasti setuju, tapi masalah fotografi kayaknya beliau agak ngasal dan masih jago anak buahnya yg prnh berprestasi dlu. maaf hehe
Irary Sadar
@ Pak Achmad…
Sudah dari tahun ke tahun, Pendidikan itu bukan untuk mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan itu adalah sumber proyek. Anak SD saja juga tahu.
Contoh beberapa kegiatan yang jadi sumber proyek:
– Ganti menteri ganti kurikulum. Ini paling sering terjadi.
– Menteri baru, kebijakan baru.
– Penerimaan murid baru.
– Seragam Murid.
– Buku pelajaran.
– Wisuda pelepasan.
Dan Proyek paling besar dengan menggunakan anggaran pendidikan adalah: Makan Buat Grup – Sesama Perampok Paling Ganas (Disingkat MBG-SPPG).
Begitulah Negara KONOHA menjadikan pendidikan sebagai bacakan.
Negara tetangga yang nun jauh disana.
Achmad Faisol
mengapa SD dan MI/MIN bisa beda buku panduan…?
harusnya kemenag dan kemendikdasmen duduk bersama biar seragam, jangan terserah masing-masing sekolah…
ini yang membuat jarak kemampuan antar siswa jauh…
maka, jangan heran kalau rata-rata nilai TKA jatuh…
kalau seperti ini terus, generasi emas ya hanya sepersekian dari total siswa, sama seperti orang kaya hanya sepersekian dari total penduduk…
Juve Zhang
Melihat suku bunga pinjaman Tiongkok yg murah sekitar 1,7% setahun….tender PLT sampah mungkin semua diborong oleh inpestor T….karena masa konstruksi yg katakan 3-4 tahun akan memakan uang bunga pinjaman bank dan Tiongkok yg unggul bunga rendah….kalau Indonesia gak akan menang suku bunga pinjaman bisa tembus 9% setahun kalau 3tahun sudah habis 27%….harga konstruksi akan bengkak kalau 4 tahun akan makan bunga pinjaman 36%…..jelas gak akan menang tender….paling ikut konsorsium T jadi subkontraktor…..








