• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Batalyon Ternak

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Senin, 24 November 2025 - 08:00
in Disway
disway-sabtu

disway

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Kemarin, pukul 04.30 saya sudah bangun. Saya ada janji ke satu tempat sedikit di luar kota Wamena. Memang janjinya masih jam enam pagi, tapi saya harus berolahraga dulu. Harus satu jam. Maka saya lakukan senam SDI (senam Dahlan Iskan) di kamar –pakai musik dari HP. Jendela kaca saya buka sedikit agar udara sejuk dari luar bisa masuk kamar.

Wamena hujan sepanjang malam. Tidak ada kemarau atau musim hujan di sana. Cuaca bisa berubah tiba-tiba. Tidak pula ada musim panas. Tuhan memasang AC siang malam untuk siapa saja tanpa pandang miskin dan kaya.

BacaJuga:

Moral Pusbatara

Tekstil Danantara

Komunikasi Xi

Di tengah senam, fajar mulai menyingsing. Pepohonan mulai kelihatan basahnya. Hujan sudah reda. Semua tepat waktu. Selesai mandi jemputan sudah datang. Ruang sarapan belum lagi dibuka.

Di perjalanan, setelah meninggalkan kota, saya baca papan nama: Koperasi Merah Putih. “Nanti, baliknya, kita berhenti di situ. Ingin tahu koperasi itu,” kata saya kepada sahabat Disway yang mengemudikan Avanza.

Wamena ini indah sekali. Di pagi hari, indahnya bertambah-tambah. Sungai-sungainya dialiri air deras. Suara airnya bergemuruh. Air dan batu seperti saling berlompatan sambil berbisik keras.

Kembali ke kota, mobil berhenti di pinggir jalan –tepat di seberang papan koperasi. Jalan aspal itu sempit. Mobil di belakang kami membunyikan klakson –pertanda minta jalan. Rupanya sahabat Disway kurang menepikan mobil.

Saya sapa pengemudi mobil di belakang itu. Ia ikut turun. Saya sampaikan bahwa saya hanya ingin berhenti sebentar untuk memotret papan koperasi itu. “Saya ketua koperasinya,” ujarnya. Kok begitu kebetulan. Ia pun mengajak saya jalan menuju pintu pagarnya yang masih tutup. Ia buka pintu itu. Kami pun masuk.

“Ini koperasi serbausaha,” katanya.

“Bangunan ini baru?”

“Bangunan lama kantor desa yang direnovasi,” katanya.

Ia pun minta izin buru-buru meneruskan perjalanan. Ia diundang ke suatu rapat pagi-pagi.

Kami juga meneruskan perjalanan kembali ke hotel. Di tengah kota terlihat dua bangunan bagus sekali. Itu kantor sementara gubernur Papua Pegunungan. Di sebelahnya lagi itu kantor bupati Jayawijaya.

Tahun depan mulai dibangun kantor gubernur yang baru. Lengkap dengan kantor DPRD Papua Pegunungan. Ini akan menjadi proyek paling besar di Wamena. Semoga uang baru segera mulai beredar di sini. Juga pekerjaan baru.

Anak-anak muda Wamena perlu lapangan kerja. Itulah salah satu jalan menuju tenang. Tanpa ada kesibukan dan pekerjaan, pikiran bisa berimajinasi ke mana-mana. Padahal kalau ekonomi bergerak di Wamena, kota ini sungguh menakjubkan daya tariknya.

Tentu harus ada aturan yang baik untuk mengatur pendatang. Para pendatang umumnya tinggal di rumah sementara. Rumah bedeng. Kalau pun mulai berjualan juga di kios sementara. Tata kota Wamena bisa terganggu oleh keadaan itu.

Wemena perlu disiapkan penataannya sejak dini. Mumpung belum telanjur ruwet seperti Sentani. Masih bisa ditata tanpa gejolak. Mumpung belum terlalu telat.

Mobil kami terus menyusuri kota. Saya lihat ada salib dalam ukuran besar. “Lewat sana,” pinta saya menunjuk ke salib.

“Itu tugu salib,” ujar sahabat Disway.

Terlihat tugu salib itu dipagari tinggi. Pekarangannya seluas sekitar 60 x 60 meter.

“Bolehkah saya masuk ke dalam pagar? Ingin lihat dalamnya,” pinta saya.

“Lokasi ini belum dibuka. Belum boleh dimasuki,” katanya. “Tugu salib ini bermasalah,” tambahnya. “Kepala PU dan kontraktornya masuk penjara”.

“Oh…”.

“Berapa biaya proyek tugu salib ini?”

“Rp 10 miliar”.

Sudah lebih lima tahun tugu salib itu dibangun. Sebagai calon ikon kota, rasanya nanggung. Kurang tinggi. Hanya enam meter. Juga kurang diangkat ke atas. Lokasinya juga hanya di sebuah kapling rata yang tidak luas. Tidak akan bisa disebut taman kota yang memadai.

Rasanya kantor gubernur yang baru nanti yang akan jadi ikon kota Wemena. Untuk membangunnya sudah banyak batu di sana. Hanya saja semennya tetap harus diterbangkan dengan pesawat. Harga satu sak semen antara Rp 450.000 sampai Rp 550.000 di Wamena.

Rasanya di antara 100 batalyon, baru batalyon yang di Wamena-lah yang perannya akan paling besar.

Batalyon baru itu, Anda sudah tahu: dinamakan Batalyon Teritorial Pembangunan. Disingkat BTP. Anda mudah mengingatnya: mirip singkatan nama Ahok.

Batalyon BTP punya resimen-resimen khusus: resimen ternak, resimen ikan, resimen tani, dan resimen kesehatan. Tugas tempurnya hanya ada di satu resimen. Satu resimen lagi adalah resimen zeni –yang mengerjakan konstruksi.

Di Wamena resimen ternak pastilah akan membuat ternak-ternak ayam yang akan membuat provinsi Papua Pegunungan tidak perlu lagi menerbangkan ayam dari Jawa. Resimen itu juga bisa menyiapkan rakyat bagaimana agar bisa beternak babi secara komunal. Dua jenis ternak ini saja, kalau sukses, sudah akan bisa ‘menaklukkan’ semua hati rakyat Papua Pegunungan. Sekarang ini memang keterlaluan: harga babi sampai Rp 50 juta/ekor.

Jangan lupa, seperti diingatkan antropolog setempat, Theo Kossay, pendekatan antropologinya.

Resimen ikan rasanya perlu mengadopsi perikanan ikan mas Jawa Barat. Ikan mas suka air deras. Ikannya juga akan sangat gurih. Wamena kaya akan parit-parit berair deras. Udaranya juga sejuk seperti Tanah Priangan –Priangan masa nan lalu. Orang Wamena yang cerdas-cerdas itu akan kian cerdas dengan budidaya ikan sesukses di Tanah Priangan.

Lalu resimen tani. Perlu mencari benih kangkung genjah dan enak. Orang Wamena begitu suka makan sayur kangkung. Sekalian, sisanya, untuk makanan babi.

Saya lihat juga banyak kol ditanam secara amatiran di pinggir-pinggir jalan di kampung-kampung. Tentu Wamena akan menjadi pusat holtikultura Papua masa depan. Harusnya kentang dan brokoli pun cocok di Wamena –ketinggian 1.500 meter.

Jangan-jangan dari 100 batalyon baru itu Papua Pegunungan sendiri saja perlu setidaknya lima BTP.

Personel batalyon BTP ini bukan diambil dari tentara yang sudah ada. Personel batalyon BTP adalah tentara rekrutan baru –yang sejak rekrutmen sudah tahu akan masuk resimen yang mana. Dengan demikian tidak seperti yang dikhawatirkan: mana bisa tentara yang biasa perang kok disuruh bertani.

Kalau pun ada yang perlu dikhawatirkan adalah bagaimana kalau passion dan ideologi presiden berikutnya tidak lagi sama. (DAHLAN ISKAN)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Moral Pusbatara

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:00
Disway

Tekstil Danantara

Rabu, 30 September 2026 - 08:00
disway
Disway

Komunikasi Xi

Selasa, 29 September 2026 - 08:00
Kanan Dalam
Disway

Kikin

Senin, 28 September 2026 - 08:00
disway
Disway

Durian Jonathan

Minggu, 27 September 2026 - 08:00
Debat Muktamar
Disway

Debat Muktamar

Sabtu, 26 September 2026 - 07:43

OLAHRAGA

Susunan Pemain Indonesia vs Bangladesh: Rizky Ridho Starter, Maarten Paes Cadangan
Olahraga

Susunan Pemain Indonesia vs Bangladesh: Rizky Ridho Starter, Maarten Paes Cadangan

Editor Dilianto
Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:58

INDOPOSCO.ID – Timnas Indonesia mengusung misi wajib menang saat menghadapi Bangladesh pada laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026...

SelengkapnyaDetails
Indonesia vs Bangladesh: John Herdman Ajak Skuad Garuda Kenang Tragedi Kanjuruhan

Indonesia vs Bangladesh: John Herdman Ajak Skuad Garuda Kenang Tragedi Kanjuruhan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:12
Hotspot Nasional Tembus 559 Titik, Kemenhut Perkuat Pengendalian Karhutla di Kalimantan Tengah

Optimistis Tatap Laga Penentu, John Herdman: Takdir Ada di Tangan Kita Sendiri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:17
Suara Pelanggan Jadi Inspirasi JAECOO J5 EV Genuine Body Kit

Indonesia-Malaysia Main Bareng, Ini Skenario Garuda Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:35
john

Jelang Lawan Bangladesh, Herdman Menagih Janji Takdir Garuda di SUGBK

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:04

BERITA POPULER

  • puan

    Kembali Raih Emas Asian Games 2026, Ketua DPR Dorong Penghargaan Bagi Atlet Secara Utuh

    3893 shares
    Share 1557 Tweet 973
  • Transformasi Pelayanan BPN Banten Dimulai, Urus Balik Nama Tanah Tak Lagi Berbulan-bulan

    3921 shares
    Share 1568 Tweet 980
  • Lolos Seleksi Barca Academy, Pesepak Bola Muda Bekasi Terbang ke Spanyol

    1132 shares
    Share 453 Tweet 283
  • Kanwil BPN Banten Serahkan Sertifikat BMN dan BMD Senilai Rp 1,4 Triliun di Momentum Hantaru 2026

    832 shares
    Share 333 Tweet 208
  • Dorong Ekonomi dan Pariwisata, Pengusaha Muda Boyolali Dirikan PO Sa’roni Trans

    800 shares
    Share 320 Tweet 200
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.