INDOPOSCO.ID – Wilmar Kalimantan Tengah (Kalteng) terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Tahun ini, perusahaan kembali meluncurkan program penyediaan air bersih yang menyasar desa-desa sekitar area operasional, termasuk sekolah-sekolah yang selama ini mengalami keterbatasan akses air layak konsumsi.
Plantation Head Wilmar Kalteng Loh Koon Wai menjelaskan bahwa program air bersih menjadi prioritas utama karena berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak sekolah.
“Tujuan kami sederhana, namun sangat penting: memastikan masyarakat sekitar, termasuk anak-anak, mendapatkan akses air bersih yang aman. Air bersih adalah dasar kesehatan,” ujarnya di sela Program CSR Pelatihan Teknik Filtrasi Air Bersih Bagi Sekolah dan Masyarakat di STC Mustika Sembuluh, Kotawaringin Timur (Kotim), Kalteng, Rabu (19/11/2025). Dalam kegiatan itu juga diserahkan alat filtrasi air bersih kepada sekolah dan masyarakat.
Menurut Loh Koon Wai, meski Wilmar telah memiliki water treatment plant yang cukup untuk memenuhi kebutuhan karyawan, perusahaan menilai penting untuk memperluas manfaatnya ke desa-desa sekitar yang sebelumnya menghadapi masalah air bersih kronis.
“Karena itu, program ini menjadi wujud nyata kepedulian perusahaan terhadap masyarakat yang tinggal berdampingan dengan area perkebunan,” tandasnya.
Loh menegaskan bahwa seluruh tim CSR Wilmar memberikan dukungan penuh untuk keberlanjutan program ini.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya agar program tidak hanya berjalan sesaat, tetapi mampu menciptakan kemandirian jangka panjang.
“Kami ingin masyarakat bisa mandiri. Perusahaan hanya membuka jalan, selanjutnya masyarakat harus mampu melanjutkan dan memelihara fasilitas ini,” jelasnya.
Program ini menargetkan seluruh desa di sekitar wilayah operasional Wilmar. Rencananya, setiap desa akan mendapatkan satu unit filter air portable yang berasal dari Singapura. Teknologi ini dipilih karena sederhana, efektif, tidak memerlukan listrik besar, dan dapat digunakan bahkan di daerah terpencil.
“Alat ini tidak mahal, tapi terbukti sangat efektif. Yang terpenting, mudah digunakan oleh masyarakat,” tambah Loh.
Selain desa, sekolah-sekolah juga menjadi prioritas. Ketersediaan air bersih dinilai sangat penting untuk mendukung nutrisi dan kesehatan anak.
Selain penyediaan air bersih, Wilmar juga menyiapkan program lain untuk mendorong ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan produk-produk lokal. Program ini diharapkan dapat membuka peluang usaha baru dan meningkatkan pendapatan warga.
Wilmar juga tetap menjalankan program plasma di beberapa wilayah operasional, sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam memenuhi kewajiban sesuai regulasi pemerintah.
Dengan berbagai program yang telah dijalankan dan diperluas ini, Loh Koon Wai menegaskan bahwa Wilmar ingin memastikan masyarakat merasakan manfaat keberadaan perusahaan secara nyata, tidak hanya dalam jangka pendek tetapi juga secara berkelanjutan.
“Kami berada di sini bersama masyarakat. Program ini bukan hanya kewajiban, tetapi komitmen jangka panjang agar desa-desa sekitar berkembang bersama kami,” katanya.
Sementara itu, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Pantap, Desa Pantap, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotim, Kalteng mengikuti pelatihan teknik filtrasi air bersih sebagai upaya mengatasi krisis air layak konsumsi yang dialami sekolah selama bertahun-tahun.
Kepala sekolah SDN 1 Pantap Ahmad Muzakir mengatakan, pelatihan ini sangat penting mengingat kondisi fasilitas air di sekolah masih terbatas dan kualitas air yang tersedia kurang memadai.
Ahmad Muzakir menjelaskan bahwa SDN 1 Pantap merupakan sekolah kecil dengan jumlah siswa yang tidak banyak. Selama ini, kebutuhan air minum siswa sepenuhnya bergantung pada air hujan yang ditampung di tangki. Sementara untuk mandi dan keperluan lainnya, sekolah menggunakan air sumur yang diolah dengan tawas sebagai penjernih.
“Air sumur kami keruh, lengket, dan kadang berbau lumpur. Tidak layak diminum dan bahkan tidak nyaman untuk mandi jika tidak diolah,” ungkapnya.
Untuk menjernihkan air sumur, pihak sekolah harus menggunakan sekitar tiga sendok makan tawas untuk satu tangki berkapasitas 1.200 liter. Proses penjernihan memakan waktu lima hingga enam jam, dan meski air tampak lebih jernih, bau lumpur tetap kadang tersisa.
Ahmad Muzakir mengaku mempelajari metode ini dari YouTube. Biaya pembelian tawas untuk kebutuhan sekolah dan rumah guru berkisar Rp150.000 per bulan, sementara harga air bersih di desa cukup mahal sehingga sulit dijangkau secara rutin.
“Karena itu, pelatihan teknik filtrasi air bersih dinilai sebagai solusi jangka panjang yang lebih efisien dan ekonomis,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kualitas air sumur di wilayah tersebut dipengaruhi jenis tanah, sehingga air sering berwarna dan keruh. Air hanya aman digunakan setelah diolah dan tetap berisiko menimbulkan penyakit jika dikonsumsi langsung. Dengan adanya peralatan filtrasi baru yang diperkenalkan dalam pelatihan, pihak sekolah berharap kualitas air dapat meningkat signifikan.
“Alat filtrasi ini kami anggap sebagai harapan baru. Kami masih menilai efektivitasnya terutama untuk air sumur yang sifatnya lengket seperti resin. Tapi kami optimistis,” kata Ahmad.
Sampel air sumur dari sekolah juga telah diambil untuk dianalisis lebih lanjut guna memastikan kualitasnya setelah proses filtrasi.
Ahmad menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan filtrasi air bersih adalah agar sekolah dapat menyediakan air yang memenuhi standar konsumsi bagi siswa dan guru. Air hujan yang selama ini diandalkan memang tergolong bersih, namun pasokannya tidak selalu stabil, terutama saat musim kemarau. Dengan teknologi filtrasi, sekolah berharap dapat memanfaatkan sumber air sumur secara lebih aman.
“Kami ingin anak-anak di sekolah ini mendapat air yang benar-benar bersih. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi soal kesehatan,” tegasnya.
Pelatihan ini diharapkan menjadi awal dari kemandirian sekolah dalam menyediakan air bersih, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan belajar bagi seluruh warga sekolah.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kotim dr Noorliyana mengatakan, kondisi akses air bersih di Kabupaten Kotim masih menghadapi tantangan besar.
Keterbatasan air bersih di Kotim dipengaruhi oleh variasi geografis yang cukup ekstrem. Kabupaten yang membawahi 17 kecamatan ini memiliki wilayah yang terdiri dari lahan gambut, dataran tinggi hingga pesisir.
“Sebagian besar daerah kita adalah lahan gambut. Airnya cenderung ber-pH asam dan mengandung besi tinggi. Sementara di wilayah selatan yang dekat laut, mendapatkan air bersih itu sangat sulit,” ungkapnya.
Kualitas Air yang Membahayakan Kesehatan
Di banyak daerah binaan, air yang tersedia umumnya berwarna kecoklatan, bersifat asam, dan kaya kandungan besi. Kondisi ini berdampak serius pada kesehatan masyarakat jika dikonsumsi tanpa pengolahan.
“Air yang tidak layak dapat memicu berbagai penyakit. Yang paling sering, tentu diare. Paparan kimia dalam air juga bisa menyebabkan penyakit kulit,” jelas dr Noorliyana.
Dalam jangka panjang, air yang tidak memenuhi standar dapat memperburuk kondisi kesehatan anak-anak.
Ia menegaskan bahwa paparan berulang terhadap air kotor meningkatkan risiko stunting, karena anak mengalami gangguan pencernaan dan penyerapan nutrisi.
dr. Noorliyana menekankan bahwa program penyediaan air bersih dan sanitasi modern sangat penting dalam upaya pencegahan stunting di Kotim. Meski efeknya tidak langsung terlihat, peningkatan kualitas air minum akan berdampak besar pada kesehatan anak.
“Dengan adanya alat filtrasi air, anak-anak bisa minum air yang lebih aman. Ini penting untuk metabolisme dan pertumbuhan mereka,” tegasnya.
Filter air menjadi salah satu solusi yang dianggap efektif dan relevan untuk kondisi geografis Kotim, terutama di sekolah-sekolah di wilayah gambut dan pesisir.
Kepala Bidang Kesmas itu juga menyoroti bahwa banyak desa masih belum memiliki infrastruktur sanitasi yang memadai. Kondisi ini memperburuk risiko penyakit berbasis air (water-borne diseases).
dr. Noorliyana berharap seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat dapat berkolaborasi memperluas akses air bersih.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar. Kalau ini terpenuhi, kualitas kesehatan masyarakat akan meningkat secara signifikan,” tandasnya.
Upaya peningkatan kualitas air bersih di Kotawaringin Timur diharapkan menjadi langkah besar dalam mengurangi beban penyakit, meningkatkan kualitas hidup warga, serta memastikan anak-anak dapat tumbuh sehat tanpa ancaman stunting.
UMKM Binaan
Dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Widiyanto Wiwid, CSR Manager Wilmar Central Kalimantan Project mengatakan, Wilmar memberikan pendampingan mentorship terkait pengelolaan hasil ikan.
Ibu-ibu PKK sebagai peserta dan penerima manfaat dari pendampingan tersebut. Wilmar memberikan dukungan berupa peralatan serta mentorship/pelatihan.

CSR Manager Wilmar Central Kalimantan Project Widiyanto Wiwid dan Kades Sembuluh Satu, Kotim, Kalteng, Herry Subrata bersama ibu-ibu PKK. Foto : Armanto/indoposco.id
Kepala Desa (Kades) Sembuluh Satu, Kotim, Kalteng, Herry Subrata SIKom menambahkankan, telah dilakukan pendampingan mengenai pengelolaan produk olahan ikan, dengan partisipasi yang antusias dari para perempuan.
Produk-produk tersebut sudah dipesan dan beredar di tingkat lokal. Ada rencana untuk menjajaki kerja sama dengan koperasi.
“Dukungan dari luar, termasuk peralatan dan pelatihan dari Wilmar sangat membantu. Desa juga telah membangun dapur produksi menggunakan dana desa,” jelasnya.
Dapur produksi tersebut saat ini masih berada pada tahap belajar dan perintisan. Harapannya, dengan melibatkan pihak luar, para perempuan dapat memperoleh pelatihan lebih lanjut mengenai praktik dapur yang higienis.
“Tujuan akhirnya adalah memperluas pengenalan produk olahan ikan ini ke luar Danau Sembuluh, agar dapat dikenal lebih luas serta memperoleh izin edar produk,” katanya. (aro)











