INDOPOSCO.ID – Tas rajut produk program pemberdayaan ekonomi Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA) berhasil menembus pasar internasional. Keberhasilan itu tidak lepas dari ketekunan para perempuan perajut di Desa Gayam, Bojonegoro, Jawa Timur mengubah keterampilan merajut tradisional menjadi komoditas global.
PRIMA merupakan program pemberdayaan masyarakat yang digagas oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Yayasan Sri Sasanti Indonesia (YSSI) dan SKK Migas, yang bertujuan melatih para ibu rumah tangga dalam keterampilan merajut guna meningkatkan perekonomian mereka.
Koordinator perajut dalam program Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA) Wainem (52) mengatakan, pencapaian kelompoknya tak terlepas dari peran Yayasan Sri Sasanti Indonesia telah membantu mereka dalam hal keterampilan maupun pemasaran.
“Awalnya itu ada pendampingan dengan yayasan, kita dibantu dengan Yayasan Sri Sasanti. Kita lewat dia untuk orderan ke Amerika,” kata Wainem di Desa Gayam, Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (4/11/2025).
Pesanan tas rajut dari Amerika Serikat telah berjalan sejak tahun 2018, saat program PRIMA dibentuk. Hingga kini, total lebih dari sepuluh ribu tas telah diekspor ke negara tersebut.
“Kurang lebih sampai sekarang 40 ribu tas picis. Sekali kirim seribu, kadang 500 picis. Produknya hanya tas,” ujar Wainem.
Sementara omzet yang telah diterimanya sangat fantastis. Selain ekspor ke Amerika Serikat, produk tersebut dikirimkan ke Italia. Mereka telah mendapatkan dua kali pesanan dari Negara Mediterania itu. “Nilainya sekitar Rp1 miliar,” jelas Wainem sambil tersenyum.
Anggota PRIMA di Desa Gayam tercatat ada 50 orang. Mereka bisa memproduksi 40 tas dalam sehari. Kehadiran program tersebut sangat dirasakan manfaatnya secara ekonomi. “Dulu apa-apa minta ke suami. Sekarang kita sudah punya tabungan sendiri, kita langsung beli sendiri,” tutur Wainem. (dan)










