INDOPOSCO.ID – World Health Organization (WHO) mengatakan, krisis kelaparan di Gaza tetap kritis setelah dua pekan gencatan senjata berlaku. Sebab, pasokan makanan yang masuk ke wilayah Palestina itu tidak memenuhi kebutuhan gizi penduduk setempat.
“Situasi masih tetap parah, karena pasokan yang masuk tidak cukup,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dilansir dari Al Jazeera, Jumat (24/10/2025).
World food programme (WFP) menyatakan, bahwa pasokan ke Gaza masih jauh di bawah target harian 2.000 ton karena hanya dua pos perbatasan ke wilayah Palestina yang dibuka.
“Tidak ada penurunan kelaparan karena tidak cukup makanan,” ucap Tedros.
Di sisi lain, kelompok bantuan internasional mendesak Israel menghentikan blokade terhadap pengiriman bantuan kemanusiaan.
PBB menyebut setidaknya seperempat penduduk Gaza, termasuk 11.500 wanita hamil, mengalami kelaparan. Bahkan kondisi malnutrisi akan memiliki dampak generasional di Gaza.
“70 persen bayi baru lahir prematur atau berat badan rendah, dibandingkan dengan 20 persen sebelum Oktober 2023,” ujar Wakil Direktur Eksekutif Dana Kependudukan PBB (UNFPA) Andrew Saberton baru-baru ini.
“Malnutrisi akan memiliki dampak jangka panjang, bukan pada ibu, tetapi pada bayi baru lahir yang kemungkinan besar akan menyebabkan perawatan dan masalah yang berkepanjangan sepanjang hidup bayi,” tambahnya.
Krisis kelaparan diumumkan di Kota Gaza dan wilayah sekitarnya pada bulan Agustus 2025. Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC), sebuah pemantau keamanan pangan yang didukung PBB menyebutkan pada saat itu lebih dari 500.000 orang di Jalur Gaza menghadapi kondisi mengerikan.(dan)










