• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Data Lemah dan Insentif Tak Tepat, PR Besar di Balik Kebijakan Pangan Indonesia

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Senin, 13 Oktober 2025 - 20:02
in Ekonomi
padi

Ilustrasi petani tengah panen raya. Foto: Dokumen INDOPOSCO

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Harga beras, cabai, dan bawang kerap menjadi ukuran sederhana bagi masyarakat untuk menilai “sehat tidaknya” ekonomi Indonesia. Namun, di balik fluktuasi harga yang sering memanas di pasar, ada satu hal yang kerap luput dari sorotan, yakni peran pemerintah seharusnya bukan sekadar menjadi “penentu harga”, melainkan arsitek sistem pangan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Pengaturan harga bahan pokok di pasar domestik memang menggoda secara politik, tetapi langkah itu sering kali hanya bersifat sementara. Kunci sesungguhnya justru terletak di hulu, seperti di sawah, ladang, dan kebun tempat para petani berjuang. Pemerintah perlu memastikan rantai pasok bekerja efisien melalui sistem insentif yang membuat petani merasa dihargai, bukan sekadar dijanjikan.

BacaJuga:

Pertamina Drilling Unjuk Gigi di Asia, Teknologi ERRA Jadi Sorotan Dunia

Respons Gejolak Geopolitik, Komisi XI: Revisi UU P2SK Kunci Perdalam Pasar Keuangan dan Jaga Stabilitas Ekonomi

Harga Avtur Melonjak hingga 80 Persen, DPR Minta Pemerintah Cegah Tiket Pesawat Ikut Terbang Tinggi

Dalam pandangan ekonom Universitas Indonesia (UI) Ninasapti Triaswati, fokus kebijakan fiskal di sektor pertanian harus diarahkan pada penguatan data dan efektivitas anggaran. Ia menilai, selama ini pemerintah masih kesulitan memantau produktivitas dan kesejahteraan petani kecil karena sistem pendataan yang tercerai-berai dan tidak sinkron. Akibatnya, banyak kebijakan lahir tanpa pijakan data yang kuat.

“Kalau yang dibicarakan itu soal pendapatan, memang sulit untuk dipantau. Pemerintah memang punya data dari SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional), tapi belum tentu datanya benar-benar menyentuh petani kecil,” ujar Ninasapti kepada INDOPOSCO usai diskusi publik bertajuk “1 Tahun Pemerintahan Prabowo, Apa Kabar Ketahanan Pangan?” yang digelar oleh Lembaga Survei KedaiKOPI di Jakarta, Sabtu (11/10/2025).

Menurut Nina -sapaan Ninasapti Triaswati-, upaya meningkatkan kesejahteraan petani kecil dapat dilakukan melalui penguatan kelembagaan seperti koperasi dan digitalisasi transaksi pertanian. Dengan sistem data yang terintegrasi, pemerintah bisa memantau pergerakan penjualan, pembelian, serta penyaluran subsidi dengan lebih akurat.

“Kalau datanya digitalisasi, penjual-pembelian bisa menjadi basis untuk penyaluran subsidi. Tapi sekarang belum terlihat sistem itu berjalan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Nina menekankan pentingnya mendorong petani menjadi bankable, agar mereka dapat mengakses layanan keuangan formal seperti perbankan.

“Harus dibangun sistem yang membuat petani itu bankable. Di Jepang, semua petani sudah punya HP dan rekening bank. Kalau sudah punya bank account, aman. Nah, di kita masalahnya masih di situ,” jelasnya.

Menurut Nina, keberhasilan kebijakan pangan tidak hanya bergantung pada harga atau subsidi, tetapi juga pada keberlanjutan sistem ekonomi pertanian yang inklusif dan terhubung dengan teknologi.

“Kalau sistemnya dibangun dengan benar, petani pun bakal sejahtera bukan karena diatur, tapi karena didukung,” tambahnya. (her)

Tags: Harga BerasKetahanan PanganNinasapti Triaswatipangan

Berita Terkait.

Presentasi
Ekonomi

Pertamina Drilling Unjuk Gigi di Asia, Teknologi ERRA Jadi Sorotan Dunia

Minggu, 5 April 2026 - 09:10
andreas
Ekonomi

Respons Gejolak Geopolitik, Komisi XI: Revisi UU P2SK Kunci Perdalam Pasar Keuangan dan Jaga Stabilitas Ekonomi

Minggu, 5 April 2026 - 03:30
avtur
Ekonomi

Harga Avtur Melonjak hingga 80 Persen, DPR Minta Pemerintah Cegah Tiket Pesawat Ikut Terbang Tinggi

Minggu, 5 April 2026 - 01:11
bbg
Ekonomi

Dorong Kemandirian Energi, Komisaris Utama PGN Gunakan Dual Fuel BBM-BBG

Sabtu, 4 April 2026 - 22:02
Rinto-Pudyantoro
Ekonomi

Efek Berganda Hulu Migas: dari Penerimaan Negara hingga Penggerak Ekonomi Daerah

Sabtu, 4 April 2026 - 18:09
Perwira Pertamina
Ekonomi

Pertamina Dorong EBT di Tengah Gejolak Energi Dunia

Sabtu, 4 April 2026 - 02:49

BERITA POPULER

  • darwati

    Warga Aceh Dikeroyok di Polda Metro Jaya, DPD RI: Ini Tamparan Keras bagi Penegakan Hukum

    1092 shares
    Share 437 Tweet 273
  • Kemnaker: Ratusan Aduan Pelanggaran THR, 173 Kasus Sudah Selesai dan 1.400-an Berproses

    913 shares
    Share 365 Tweet 228
  • DPR Minta OJK yang Baru Segera Tangani Kasus Dana Syariah Rp2,47 Triliun

    796 shares
    Share 318 Tweet 199
  • 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, BKSAP DPR Dorong Pengadilan Internasional

    700 shares
    Share 280 Tweet 175
  • Arus Balik Lebaran 2026 di Tol Cipali Capai 3.500 Kendaraan per Jam, Jelang Sore Lancar

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.