• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nusantara

Mencari Titik Temu antara Konservasi dan Kehidupan di TN Tesso Nilo

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Senin, 1 September 2025 - 09:09
in Nusantara
tni-patroli

Aparat nampak berjaga di desa kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Foto : Annisa Firdausi

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Kabut pagi masih menggantung di sela dedaunan lebat Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Riau sesekali rintik air turun perlahan. Di kejauhan, suara ayam berkokok bersahutan dengan denting alat dapur dari rumah-rumah kayu.

Anak-anak tampak berlarian di jalan tanah menuju sekolah buatan warga, sementara para ibu mulai membersihkan kebun sawit keluarga. Kehidupan di desa-desa sekitar taman nasional berjalan seperti biasa—sederhana, namun bermakna bagi mereka yang telah lama menetap di wilayah ini.

BacaJuga:

Kebakaran Meluas, Seluruh Pintu Masuk Wisata Bromo Ditutup Total

Berpusat di Darat, Gempa Bumi Dangkal Getarkan Wilayah Pati di Jawa Tengah

Kebakaran Gunung Bromo Belum Padam, Tim Gabungan Fokus Pemadaman Udara

Namun, di balik keseharian yang damai itu, ada keresahan yang tumbuh. Masyarakat sadar, tempat mereka membangun rumah, berkebun, hingga menyekolahkan anak, kini berada di wilayah yang oleh negara ditetapkan sebagai kawasan konservasi.

Pertanyaan pun menggantung di udara: sampai kapan mereka diperbolehkan tinggal?

Ketegangan antara Warga dan Regulasi

Konflik tenurial di TNTN memperlihatkan kenyataan rumit di mana masyarakat dan negara saling berhadapan dalam memperebutkan ruang hidup. Ini bukan sekadar sengketa legal, tetapi mencerminkan kegagalan dalam tata kelola sumber daya alam.

Banyak warga mengaku telah tinggal di kawasan ini sejak akhir 1990-an, lengkap dengan sertifikat hak milik (SHM) yang mereka peroleh jauh sebelum TNTN resmi ditetapkan sebagai taman nasional pada 2004.

Namun, status baru tersebut seolah menghapus legalitas yang mereka miliki. Warga merasa diperlakukan tidak adil, setelah bertahun-tahun menetap dan membangun fasilitas umum secara swadaya.

“Kalau memang dilarang dari awal, kami tentu tidak akan membangun apa-apa. Tapi sekarang, semua sudah ada—rumah, sekolah, bahkan masjid—kenapa kami disuruh pergi?” keluh seorang warga.

Menurut regulasi kehutanan, hutan konservasi seperti TNTN tidak boleh dimanfaatkan untuk kegiatan permukiman atau pertanian. Akses hanya diizinkan untuk tujuan penelitian, pendidikan, dan wisata terbatas. Sementara itu, pemanfaatan hutan untuk kebutuhan ekonomi masyarakat semestinya dilakukan melalui skema legal seperti perhutanan sosial.

Namun, dalam praktiknya, perbedaan antara aturan dan realitas di lapangan kerap tidak jelas. Warga merasa mereka hadir jauh sebelum kebijakan datang.

Akar Masalah yang Panjang

Sejak sebelum TNTN ditetapkan sebagai taman nasional, kawasan ini sudah menjadi arena konflik. Di satu sisi, terdapat klaim masyarakat adat dan petani, di sisi lain terdapat izin perusahaan kayu dan perkebunan seperti HPH dan HTI.

Ketimpangan ini diperburuk oleh buruknya tata kelola. Penegakan hukum lebih sering menyasar warga lokal, sementara aktivitas perusahaan sawit tetap berjalan meski sebagian lahan mereka berada di zona konservasi. Hal ini memicu kritik tajam: hukum dianggap tegas kepada warga kecil, tapi longgar kepada korporasi.

Secara historis, wilayah ini dulunya merupakan bekas konsesi HPH milik PT Dwi Marta dan Inhutani. Bahkan saat kawasan ditetapkan sebagai taman nasional, sebagian besar lahannya telah dikuasai masyarakat.

“Perluasan kawasan pada 2009 juga berasal dari bekas HPH PT Nanjak Makmur. Dari hasil identifikasi bersama WWF, ada lebih dari 28.000 hektare yang sudah dikelola masyarakat sejak lama,” ujar Abdul Aziz dari Forum Masyarakat Korban Tata Kelola Hutan dan Pertanahan Riau.

Enam desa kini terlibat langsung dalam konflik lahan ini, yaitu Bukit Kusuma, Lubuk Kembang Bunga, Segati, Gondai, Air Hitam, dan Bagan Limau, dengan jumlah warga terdampak lebih dari 25 ribu jiwa.

Di Lubuk Kembang Bunga, misalnya, ada tiga dusun dengan lebih dari 10 ribu penduduk. Sekolah dan rumah ibadah dibangun tanpa bantuan negara. Bagi warga, ini bukan sekadar konflik lahan, melainkan soal keberlangsungan hidup dan masa depan generasi mereka.

Di Tengah Kebijakan dan Ketidakpastian

Hingga kini, pemerintah melalui Satgas Penanganan Kawasan Hutan (PKH) hanya menawarkan opsi relokasi mandiri, tanpa kejelasan lokasi, jaminan hidup, atau bentuk dukungan apa pun. Ketidakjelasan ini membuat masyarakat resah.

“Kami takut bukan hanya kehilangan rumah, tapi juga kehilangan arah hidup. Kami tidak tahu harus pindah ke mana,” ujar salah satu tokoh masyarakat.

Kehadiran aparat bersenjata dalam operasi penertiban justru membuat warga semakin tertekan dan merasa diasingkan di tanah yang telah mereka huni selama puluhan tahun.

Merumuskan Solusi Bersama

Penyelesaian konflik di TNTN tidak bisa dilakukan secara sepihak. Negara perlu menegakkan hukum konservasi tanpa mengabaikan hak-hak dasar masyarakat. Perhutanan sosial bisa menjadi alternatif legal yang memberikan ruang kelola kepada warga dengan tetap menjaga aspek ekologi.

Penting bagi pemerintah untuk menerapkan pendekatan dialog dan partisipatif, melibatkan masyarakat dalam penyusunan solusi. Dengan begitu, konservasi hutan tidak menjadi ancaman bagi mereka yang hidup di sekitarnya seperti dilansir Antara.

Tesso Nilo seharusnya menjadi bukti bahwa perlindungan lingkungan dan hak rakyat dapat berjalan berdampingan. Jika tak ada solusi yang adil, taman nasional ini hanya akan menjadi simbol dari konflik tak berkesudahan—antara aturan di atas kertas dan kenyataan di lapangan. (aro)

Tags: alamlingkunganriautaman nasional

Berita Terkait.

Karhutla
Nusantara

Kebakaran Meluas, Seluruh Pintu Masuk Wisata Bromo Ditutup Total

Minggu, 9 Agustus 2026 - 10:02
Gempa-Jateng
Nusantara

Berpusat di Darat, Gempa Bumi Dangkal Getarkan Wilayah Pati di Jawa Tengah

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:30
Kebakaran Gunung Bromo Belum Padam, Tim Gabungan Fokus Pemadaman Udara
Nusantara

Kebakaran Gunung Bromo Belum Padam, Tim Gabungan Fokus Pemadaman Udara

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 22:10
Belajar dari Keterbatasan Pribadi di Masa Lampau, Andra Soni Permudah Akses Pendidikan Anak-anak di Banten
Nusantara

Belajar dari Keterbatasan Pribadi di Masa Lampau, Andra Soni Permudah Akses Pendidikan Anak-anak di Banten

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:32
Dikenakan Tunggaan Listrik Miliaran Rupiah, Pabrik di Serang Gugat PLN ke PN Jaksel
Nusantara

Dikenakan Tunggaan Listrik Miliaran Rupiah, Pabrik di Serang Gugat PLN ke PN Jaksel

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:05
Kupang Jadi Garda Depan Pengawasan Laut, Purbaya Dorong Modernisasi Armada
Nusantara

Kupang Jadi Garda Depan Pengawasan Laut, Purbaya Dorong Modernisasi Armada

Jumat, 7 Agustus 2026 - 23:01

BERITA POPULER

  • Erick-Thohir

    PSSI Ubah Haluan Piala Presiden, Turnamen Kini Diproyeksikan untuk Timnas

    2463 shares
    Share 985 Tweet 616
  • Dugaan Penyalahgunaan Dapodik Ditelusuri, Kemendikdasmen Siap Tindak Tegas

    2194 shares
    Share 878 Tweet 549
  • Erick Thohir Angkat Suara Soal John Herdman Usai Indonesia Dibekuk Vietnam

    1995 shares
    Share 798 Tweet 499
  • Bea Cukai Tanjung Priok Gagalkan Penyelundupan Motor Harley-Davidson Bekas Asal Tiongkok

    1379 shares
    Share 552 Tweet 345
  • Honda Scoopy Modifikasi Jadi Magnet di Jakarta Sneakers Day 2026, Booth Honda Sedot Ratusan Pengunjung

    1277 shares
    Share 511 Tweet 319
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.