• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Gaya Hidup

Waspada Cacingan, Ahli UMY Beberkan Bahaya dan Cara Pencegahannya pada Anak

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Sabtu, 23 Agustus 2025 - 11:35
in Gaya Hidup
cacing

Ilustrasi infeksi cacing. Foto: Freepik

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Kasus meninggalnya seorang anak berusia empat tahun di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, akibat dugaan infeksi cacing kembali membuka mata publik bahwa penyakit ini masih menjadi ancaman nyata di Indonesia.

Ahli parasitologi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Farindira Vesti Rahmasari, menegaskan masalah cacingan bukanlah perkara sepele, melainkan salah satu problem kesehatan tropis yang terus membayangi masyarakat.

BacaJuga:

Oakwood Suites Kuningan Jakarta Gelar Aksi Bersih dan Rawat Fasilitas Publik di Taman Menteng

Perjalanan Taufik Maulana, 13 Tahun Bertumbuh hingga Jadi GM Aston Kartika Grogol

Mercure Jakarta Cikini Ajak Warga Peduli Lingkungan Lewat Aksi Plogging di CFD

Menurutnya, infeksi cacing dapat terjadi ketika telur atau larva masuk ke tubuh manusia melalui makanan, minuman, maupun tanah yang sudah terkontaminasi. Jika hal tersebut berlangsung lama tanpa adanya pengobatan, maka jumlah cacing dalam tubuh akan terus bertambah bahkan dapat mengganggu fungsi organ vital.

Lebih jauh, dr. Farindira menilai kebiasaan anak-anak dalam aktivitas sehari-hari sering kali menjadi pintu masuk penularan.

“Kasus ini kemungkinan besar dipicu oleh kebiasaan anak bermain di tanah kotor, kurangnya kebiasaan mencuci tangan, dan lingkungan yang tidak higienis,” jelasnya, dikutip dari situs resmi Muhammadiyah, Sabtu (23/8/2025).

“Penularan dapat terjadi melalui kotoran manusia yang mengandung telur cacing, kemudian masuk lewat makanan, minuman, atau tangan yang kotor. Infeksi berulang tanpa penanganan dapat menimbulkan hiperinfeksi, sehingga jumlah cacing di usus sangat banyak,” sambungnya.

Jenis cacing yang paling sering menyerang anak-anak, menurutnya, antara lain cacing gelang (Ascaris Lumbricoides), kemudian cacing tambang, dan cacing cambuk. Jika jumlahnya semakin banyak, dampaknya bisa sangat serius. Anak berisiko mengalami malnutrisi, sumbatan usus, hingga komplikasi fatal.

“Infeksi berat bisa memicu komplikasi serius seperti sumbatan usus dan peritonitis. Inilah yang diduga menjadi penyebab kematian anak di Sukabumi tersebut. Gejala awal cacingan kerap tak disadari orang tua. Biasanya anak mengalami perut buncit, nafsu makan menurun, berat badan sulit naik, serta keluhan seperti sakit perut dan mual tanpa sebab yang jelas,” ujar dr. Farindira.

Yang mengejutkan, infeksi cacing tidak hanya menyerang saluran pencernaan. Migrasi larva juga dapat memunculkan gejala pada saluran pernapasan. Bahkan, pada kasus berat, cacing bahkan bisa keluar melalui muntahan, kotoran, hidung, atau telinga anak. Oleh karena itu, dr. Farindira menekankan pentingnya tindakan pencegahan yang konsisten.

“Pencegahan jauh lebih penting. Obat cacing sudah menjadi program pemerintah, namun keberhasilannya tergantung pada kesadaran orang tua. Selain itu, kebersihan makanan, munuman, dan kebiasaan mencuci tangan anak juga harus dijaga,” tegasnya.

dr. Farindira menambahkan upaya ini tidak bisa berdiri sendiri, melainkan perlu dilakukan secara kolektif. Lingkungan yang bersih, sanitasi yang baik, serta akses terhadap air bersih merupakan kunci dalam memutus rantai penularan. Bahkan, menurutnya keterlibatan keluarga, sekolah, hingga komunitas adalah faktor penting.

“Pengobatan saja tidaklah cukup. Jika lingkungan tetap kotor, sumber penularan akan terus ada. Masalah ini masih menjadi masalah kesehatan tropis di Indonesia, tapi sebenarnya bisa dicegah dengan langkah-langkah yang sederhana,” tutupnya.

Pesan dr. Farindira menegaskan, perang melawan cacing bukanlah perang yang rumit-cukup dengan langkah sederhana, disiplin, dan kebersamaan, nyawa generasi penerus bangsa bisa diselamatkan. (her)

Tags: Balita MeninggalCacingandr. Farindira Vesti RahmasariSukabumiUniversitas Muhammadiyah Yogyakarta

Berita Terkait.

WCD
Gaya Hidup

Oakwood Suites Kuningan Jakarta Gelar Aksi Bersih dan Rawat Fasilitas Publik di Taman Menteng

Selasa, 22 September 2026 - 14:58
taufik
Gaya Hidup

Perjalanan Taufik Maulana, 13 Tahun Bertumbuh hingga Jadi GM Aston Kartika Grogol

Selasa, 22 September 2026 - 13:03
mercure
Gaya Hidup

Mercure Jakarta Cikini Ajak Warga Peduli Lingkungan Lewat Aksi Plogging di CFD

Selasa, 22 September 2026 - 06:06
FFI 2026: Anak Muda Makin Sadar Finansial, tapi Dana Darurat Masih Jadi PR
Gaya Hidup

FFI 2026: Anak Muda Makin Sadar Finansial, tapi Dana Darurat Masih Jadi PR

Sabtu, 19 September 2026 - 11:06
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah: Banyak Perkara Besar Kita Ambil, tapi Akhirnya Digergaji
Gaya Hidup

Jangkau 31 Juta Anak, Nestlé Pertegas Komitmen Gizi Sehat

Jumat, 18 September 2026 - 19:01
25 Merek Beras Fortifikasi Ditindak, FKBI Desak Pemerintah Tak Berhenti di Pencabutan Izin
Gaya Hidup

Aichi-Nagoya dalam “Survival Mode”, CdM Minta Tim Indonesia Tak Kehilangan Fokus

Jumat, 18 September 2026 - 17:00

OLAHRAGA

tpkk
Olahraga

Tri Tito Karnavian Dorong Olahraga Jadi Kebiasaan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045

Editor Dilianto
Rabu, 23 September 2026 - 21:11

INDOPOSCO.ID – Ketua Umum (Ketum) Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) yang sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan...

SelengkapnyaDetails
Ucapan “Pendatang” untuk Shin Tae-yong Berujung Laporan, Persija Serahkan ke Komdis PSSI

Ucapan “Pendatang” untuk Shin Tae-yong Berujung Laporan, Persija Serahkan ke Komdis PSSI

Rabu, 23 September 2026 - 12:45
5 Pilar Macan Kemayoran Gabung Timnas di FIFA ASEAN Cup, Manajer Persija Titip Pesan

5 Pilar Macan Kemayoran Gabung Timnas di FIFA ASEAN Cup, Manajer Persija Titip Pesan

Rabu, 23 September 2026 - 09:46
FIFA ASEAN Cup 2026: Dony Tri dan Yakob Sayuri Absen, Skuad Garuda Panggil Shayne-Rizky Eka

FIFA ASEAN Cup 2026: Dony Tri dan Yakob Sayuri Absen, Skuad Garuda Panggil Shayne-Rizky Eka

Rabu, 23 September 2026 - 08:34
ole

21 Pemain Timnas Indonesia Tiba di Jakarta Jelang FIFA ASEAN Cup, 2 Nama Siap Debut

Selasa, 22 September 2026 - 08:53

BERITA POPULER

  • sudaryono

    Tuding Guru dan Media ‘Goreng’ Isu Keracunan MBG, Kepala BGN Didesak Mundur

    5542 shares
    Share 2217 Tweet 1386
  • Kemendiktisaintek Siapkan Rp 2 Triliun Lebih untuk Dana Riset

    1024 shares
    Share 410 Tweet 256
  • Komisi I Soroti Tanggung Jawab Vendor Asing dalam RUU KKS

    1046 shares
    Share 418 Tweet 262
  • Kementerian ATR/BPN Tancap Gas Kejar Target Sertipikasi 3 Juta Bidang Tanah MBR di 2027

    968 shares
    Share 387 Tweet 242
  • Pasca-OTT KPK, Pegawai ATR/BPN Syok dan Buka Suara Soal ‘Struktur Bayangan’

    942 shares
    Share 377 Tweet 236
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.