• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nusantara

Kemarau Landa Gunungkidul, DMC Dompet Dhuafa Distribusi Air Bersih

Redaksi Editor Redaksi
Jumat, 6 September 2024 - 16:04
in Nusantara
Kemarau-Gunungkidul-co

Sejumlah warga mencoba mengambil air dengan menggunakan pompa akibat kemarau panjang. Foto/ist

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Terik matahari yang menyengat semakin mengeringkan tanah yang sudah kerontang. Petak-petak sawah tampak tandus dan retak; tak ada tanaman hijau yang tumbuh, hanya sisa-sisa padi berwarna cokelat kekuningan yang tersisa.

Hingga siang ini (Jumat, 06/09) Dusun Piji yang berada di Kecamatan Gedangsari masuk ke dalam 12 kecamatan lainnya di Kabupaten Gunungkidul yang kini dilanda kemarau panjang, yang menyebabkan bencana kekeringan dan krisis air bersih.

BacaJuga:

Usai Menempuh Perjalanan Pertumbuhan 5.108 Km, Cuprinomat® Resmi Hadir di Sidrap

Komitmen Gubernur Andra Soni Perkuat Ketahanan Pangan di Banten Dipuji Pramono Anung

Penindakan Beruntun, Bea Cukai Kediri Gagalkan Peredaran Lebih dari 4,1 Juta Batang Rokok Ilegal

Sebagian besar petani di wilayah Gunungkidul merupakan petani yang bercocok tanam padi. Pertanian padi dari proses tanam sampai ke tahap panen sangat bergantung pada ketersediaan air yang cukup. Namun, di musim kemarau yang berlangsung lama ini sangat mengganggu aktivitas petani di Gunungkidul.

Pak Beja, seorang petani di Dusun Piji, mengatakan bahwa hujan terakhir kali mengguyur kampungnya pada bulan Mei lalu. Hal ini membuat sawah padi Pak Beja kekurangan pasokan aliran air dari irigasi yang juga kering. Imbasnya, padi menjadi mati. Dari jumlah keseluruhan padi yang ia tanam hanya sebagian saja yang dapat ia panen.

“Biasanya saya dapat (panen) satu kuintal, tapi tahun ini ada penurunan 40 sampai 50 persen,” ujar Pak Beja.

Seperti petani lainnya di Kecamatan Gedangsari, Kegiatan pertanian padi Pak Beja ditujukan untuk sarana subsistensi keluarganya karena hasil produksinya tidak diperjualbelikan di pasar.

“Kalau waktu biasa (tanpa gangguan dari kemarau panjang dan tak tentu) panen bisa dua kali (dalam setahun). Itu juga pas-pasan, tapi cukup untuk hidup sampai ke panen berikutnya. Kalau untuk dijual, atau ada lebihnya untuk dijual sih gak ada. Pokoknya cukup,” kata Pak Beja.

Di kemarau panjang beberapa bulan ini tidak seluruhnya padi yang ditanam Pak Beja dapat membuahkan hasil. Konsekuensi yang perlu ditanggung Pak Beja adalah jumlah cadangan beras untuk konsumsi setahun keluarganya tidak mencukupi. Kerugian lainnya adalah biaya produksi yang telah ia tuangkan untuk bercocok tanam padi terbuang sia-sia.

“Simpanan beras yang ada dari panen sebelumnya tidak cukup untuk sampai ke panen berikutnya. Ujung-ujungnya kita harus beli di warung. Dari saya kecil, baru tahun ini semua petani di sini gagal panen kedua. Biasanya masa tanam yang kedua bisa panen. Tapi tahun ini sebagian besar gagal,” ujar Pak Beja yang kini berusia 36 tahun.

Untuk membeli beras, karena simpanan beras yang ada tidak mencukupi, Pak Beja harus bekerja di luar sektor pertanian. Yang ia kerjakan saat ini agar dapat memperoleh uang adalah dengan menganyam suatu kerajinan tangan dan ia jual di pasar.

“Menjual anyaman juga enggak pasti. Ada musimnya laku, terus kadang juga ada masa gak lakunya,” Selain itu, ketika masa panceklik ini, saat tak ada lagi padi yang harus ia urus, Pak Beja mencari rumput untuk memberi makan seekor sapi yang telah lama ia ternak.

“Kasih minum ternak juga nggak banyak-banyak. Yang penting dalam satu hari itu sapi ada minum. Kalau dikasih banyak bagus, tapi ya begitu-lah, air buat kita aja susah. Tapi tetap sapi itu harus diberi minum,” kata Pak Beja yang merupakan seorang Ayah dari dua anak perempuan.

Kekeringan di Gunungkidul telah membawa banyak kesulitan bagi warga. Kelangkaan air membuat urusan sehari-hari menjadi semakin sulit dijalani. Sumur galian milik warga kini menjadi kering. Hujan yang tak lagi turun, membuat tanah-tanah tidak banyak menyimpan air.

Selama musim kemarau ini, Pak Beja dan juga para warga Dusun Piji lainnya hanya dapat bergantung pada satu sumur galian yang hanya dalam waktu-waktu tertentu air muncul dari sana. Tentu saja kondisi ini sangat jauh untuk bisa dibilang cukup.

Gunungkidul merupakan daerah yang seringkali dilanda kekeringan saat musim kemarau tiba. Daerah dengan karakteristik yang khas, yakni struktur geologis tanah yang berupa karst, dan ditambah pengaruh curah hujan yang kurang menjadikan kawasan Gunungkidul kerap mengalami krisis air.

Pak Beja dan warga dusun lainnya menyadari kondisi ini akan terus terjadi. Setiap tahun mereka kerap mengalami kondisi sulit yang sama. Dalam aktivitas pertanian, berbagai mitigasi telah mereka upayakan; mulai dari menanam padi lebih awal saat hujan pertama turun, atau mengurangi jumlah benih padi yang akan mereka tanam saat masa tanam kedua di awal tahun. Namun, cuaca yang tak pernah menentu membuat kemarau tidak pernah terprediksi datang dan lamanya.

Distribusi air yang disalurkan oleh Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa di Dusun Piji pada Selasa (27/8) menjadi bantuan pertama yang masuk ke sana. Akses jalan yang terjal menjadi salah satu faktor mengapa bantuan air bersih belum juga masuk ke dusun ini.

“Sementara ini belum ada bantuan air bersih yang masuk. Baru ini saja. Bantuan dari DMC jadi bantuan yang pertama masuk ke tempat kami,” ungkapnya.

“Saya atas warga Dusun Piji mengucapkan terima kasih untuk DMC Dompet Dhuafa yang telah membantu untuk warga kami. Semoga bermanfaat untuk kami semua. Dan ke depannya semoga DMC Dompet Dhuafa mendapat ganjaran kebaikan yang lebih banyak,” pungkas Pak Beja.

Di tengah kondisi serba sulit akibat kemarau yang panjang ini, air menjadi sesuatu yang sangat berharga. Kehadirannya tidak hanya sekadar penyegar dahaga, melainkan sebuah simbol bahwa harapan tentang hidup yang lebih baik akan terus ada. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (adv)

Tags: Distribusi Air BersihDMC Dompet DhuafaGunung Kidulkemarau

Berita Terkait.

petani
Nusantara

Usai Menempuh Perjalanan Pertumbuhan 5.108 Km, Cuprinomat® Resmi Hadir di Sidrap

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 03:30
soni
Nusantara

Komitmen Gubernur Andra Soni Perkuat Ketahanan Pangan di Banten Dipuji Pramono Anung

Jumat, 31 Juli 2026 - 23:23
bc3
Nusantara

Penindakan Beruntun, Bea Cukai Kediri Gagalkan Peredaran Lebih dari 4,1 Juta Batang Rokok Ilegal

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:12
phm
Nusantara

PHM Perkuat Pengelolaan Sampah Balikpapan, Salurkan Bantuan untuk 43 Bank Sampah Unit

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:09
rokok
Nusantara

Bea Cukai Jayapura Gagalkan Pengiriman 24 Ribu Batang Rokok Ilegal Melalui Jalur Kargo

Jumat, 31 Juli 2026 - 17:30
Penggunaan Boost Charge Melonjak, ALVA Kenalkan Teknologi Berkendara Pintar AIPRO
Nusantara

Bea Cukai, BNNP dan Polres Salatiga Sita Hampir 6 Kilogram Ganja dari Jaringan Narkotika

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:04

BERITA POPULER

  • Jasad

    Kasus Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur, DPR Tekankan Keadilan dan Perlindungan Keluarga Korban

    2025 shares
    Share 810 Tweet 506
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    1993 shares
    Share 797 Tweet 498
  • Blak-blakan Soal Keputusannya Gabung Persib, Mariano Peralta Tegaskan Hal Ini

    976 shares
    Share 390 Tweet 244
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3132 shares
    Share 1253 Tweet 783
  • Sertifikasi Mutu KKP Dorong Belut Kalimantan Tembus Pasar Global

    819 shares
    Share 328 Tweet 205
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.