• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Headline

Pakar Hukum Tata Negara Sebut Politik Dinasti Merusak Demokrasi

Laurens Dami Editor Laurens Dami
Selasa, 7 November 2023 - 02:22
in Headline
bivitri

Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti. (Instagram Bivitri Susanti)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti menyatakan bahwa politik dinasti kembali menjadi perhatian publik. Praktik politik dinasti ini juga berperan dalam merusak kualitas demokrasi.

Dinasti politik seringkali mengganggu rasionalitas pemilih, dan ia menekankan pentingnya semua pihak menyadari dampak dari praktik politik dinasti tersebut.

BacaJuga:

Polri Mutasi 1.121 Personel, Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya Berganti

Gempa Dahsyat Guncang Venezuela: 164 Meninggal, Hampir 1.000 Orang Luka-luka

3 Peserta SPPI Meninggal Saat Latsarmil, Koalisi Sipil Tolak Pendekatan Militerisme

Menurut Bivitri, politik dinasti dapat merusak demokrasi karena melemahkan kontrol terhadap kekuasaan.

“Kekuasaan akan mengalami penurunan kontrol jika hubungan kekerabatan ada di dalam institusi-institusi politik. Hal ini karena satu pihak dapat menjadi toleran terhadap institusi, bahkan memfasilitasi jalan bagi kerabatnya yang menduduki jabatan tertentu,” katanya dalam keterangan rilis yang dikutip indopos.co.id, Senin (6/11/2023).

Bivitri mengilustrasikan situasi yang terjadi dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat ini. Jokowi memimpin cabang kekuasaan eksekutif, sementara cabang kekuasaan yudikatif, yaitu Mahkamah Konstitusi (MK), dipimpin oleh adik ipar Jokowi, yakni Anwar Usman.

Dampaknya, menurut Bivitri, MK mungkin akan lebih mudah dipengaruhi oleh adik ipar Jokowi. Bivitri menyatakan bahwa jika hal ini dibiarkan, maka dapat membuka celah bagi praktik korupsi, bahkan mungkin berakhir dengan penghancuran demokrasi. Pembajakan terhadap demokrasi ini dilakukan melalui cara yang tampak demokratis dan sesuai dengan prosedur yang seakan-akan mengikuti aturan.

“Nancy Bermeo bilang, ‘democratic backsliding’ yaitu demokrasi yang dibajak tetapi dengan cara yang demokrasi,” ujarnya.

Dia pun menuturkan bahwa bahaya lain dari dinasti politik adalah bahwa konsentrasi kekuasaan hanya terpusat di beberapa titik. Akhirnya, kekuasaan hanya dimonopoli oleh kelompok orang yang sama. Dampaknya, demokrasi kita menjadi sekadar formalitas prosedural.

“Hal ini sedang terjadi saat ini. Konsentrasi kekuasaan di lingkaran tertentu dapat menghambat inovasi kebijakan atau perubahan yang signifikan. Para pemegang kekuasaan cenderung hanya meneruskan atau mengulangi kebijakan-kebijakan yang telah ada sebelumnya,” tuturnya.

Selain itu, dia menjelaskan bahkan dalam situasi yang besar seperti saat reformasi terjadi, yang melibatkan demonstrasi massal dan korban jiwa, pertanyaannya adalah apakah suara kita benar-benar didengar oleh pihak berwenang. Tampaknya tidak, karena Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih menjadi isu yang belum terselesaikan hingga sekarang. Bivitri menekankan bahwa saat ini di Indonesia telah muncul dinasti politik yang terkait dengan Jokowi.

“Dengan cepat atau lambat, dinasti ini dapat merusak demokrasi di negara ini. Oleh karena itu, diperlukan pembuatan aturan yang melarang praktik politik dinasti, karena hanya mengandalkan etika politik dianggap tidak cukup efektif. Diperlukan tekanan struktural karena sejujurnya, mengharapkan etika dari aktor-aktor politik seperti Ketua MK, Pak Jokowi sendiri, Bobby, Kaesang, Gibran, atau partai politik secara umum, mungkin akan sia-sia. Membahas etika politik dengan mereka sangat sulit,” jelasnya.

Tak hanya itu, terkait dengan gugatan batas usia calon presiden dan wakil presiden, Bivitri menegaskan bahwa kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK) hanyalah untuk menentukan apakah suatu pasal melanggar konstitusi atau tidak, bukan untuk membuat aturan baru.

“Oleh karena itu, MK disebutnya sebagai “negative legislator” yang tidak seharusnya menjadi “positive legislator.” Membuat aturan baru bukanlah tugas MK,” pungkasnya. (fer)

Tags: demokrasiPakar Hukum Tata Negarapolitik dinasti

Berita Terkait.

Trunoyudo
Headline

Polri Mutasi 1.121 Personel, Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya Berganti

Jumat, 26 Juni 2026 - 12:02
gempa
Headline

Gempa Dahsyat Guncang Venezuela: 164 Meninggal, Hampir 1.000 Orang Luka-luka

Kamis, 25 Juni 2026 - 19:03
sppi
Headline

3 Peserta SPPI Meninggal Saat Latsarmil, Koalisi Sipil Tolak Pendekatan Militerisme

Kamis, 25 Juni 2026 - 17:35
bowo
Headline

Di Balik Seruan “Indonesia Bangkit”, Pengamat Nilai Prabowo Sedang Membaca Kegelisahan Publik

Rabu, 24 Juni 2026 - 21:17
soni
Headline

Ditolak Kejagung, Sony Sonjaya Ajukan JC ke LPSK

Rabu, 24 Juni 2026 - 20:02
JC Ditolak Kejagung, Kubu Sony Sonjaya Klaim Kantongi Bukti Valid Keterlibatan 41 Nama
Headline

JC Ditolak Kejagung, Kubu Sony Sonjaya Klaim Kantongi Bukti Valid Keterlibatan 41 Nama

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:15

BERITA POPULER

  • Ronaldo

    Hasil Piala Dunia: Ronaldo Pimpin Portugal Berpesta, Inggris Kehilangan Taji di Hadapan Ghana

    1692 shares
    Share 677 Tweet 423
  • Hasil Piala Dunia: Portugal Libas Uzbekistan 5-0, Martinez Sanjung Habis Cristiano Ronaldo

    1651 shares
    Share 660 Tweet 413
  • Hasil Piala Dunia: Spanyol Bantai Arab Saudi, VAR Selamatkan Belgia dari Kekalahan

    925 shares
    Share 370 Tweet 231
  • Hasil Piala Dunia Grup F: Jepang-Swedia Dampingi Belanda ke Fase Gugur

    910 shares
    Share 364 Tweet 228
  • Hasil Piala Dunia: Kuasai Bola 78 Persen tapi Mandul, Tuchel Akui Inggris Bermain Terlalu Hati-hati Kontra Ghana

    905 shares
    Share 362 Tweet 226
Diego-Carlos
Olahraga

Hasil Piala Dunia Grup D: Turki Bungkam AS, Australia Lolos Usai Tahan Paraguay

Editor Nelly Marinda Situmorang
Jumat, 26 Juni 2026 - 11:51

INDOPOSCO.ID - Drama tersaji pada laga penutup Grup D Piala Dunia 2026 ketika Timnas Turki sukses mencuri kemenangan 3-2 atas...

SelengkapnyaDetails
Elanga

Graham Potter Bangga dengan Perjuangan Pemain Swedia Hadapi Jepang

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:50
Nagelsman

Piala Dunia 2026: Nagelsmann Ungkap Penyebab Kekalahan Jerman dari Ekuador

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:39
Plata

Bungkam Jerman di Laga Pamungkas, Pelatih Ekuador Dedikasikan Kemenangan untuk Suporter

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:58
Jan-Paul-van-Hecke

Hasil Piala Dunia Grup F: Jepang-Swedia Dampingi Belanda ke Fase Gugur

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:48
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.