• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Perang Terigu

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Kamis, 24 Maret 2022 - 08:00
in Disway
disway
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Apa sih maunya Rusia ini? Kok lama banget tidak menyelesaikan serangannya ke Ukraina. Harga terigu di Indonesia sudah begini tingginya. Juga harga elpiji. Dan banyak lainnya.

Apa juga sih maunya Ukraina ini? Kok begitu-begitu terus. Ini, harga batu bara sudah tak tertahankan.

BacaJuga:

Weda Bay

Bali Lombok

Rocky Gerung

Dan apa sih maunya NATO itu? Seperti membiarkan keadaan digantung tidak menentu.

Sampai-sampai saya baca berita di kantor berita asing, Al Jazeera, kemarin dulu: orang Medan kini lebih sulit mencari Indomie di toko-toko. Diceritakan di situ: satu orang Medan sangat fanatik Indomie. Ia begitu mengeluhkan kelangkaan Indomie. Harga Indomie yang biasanya Rp 2.300-Rp 2.500 kini menjadi Rp 2.700 – Rp 2.800. Ia tahu: sulitnya mendapat Indomie itu akibat perang di Ukraina.

Saya pun bertanya ke beberapa sumber yang dekat dengan terigu. Ternyata Indonesia memang impor gandum sangat besar dari Ukraina: 3 juta ton. Setahun. Itu angka tahun 2020.

Anehnya gandum dari negara lain juga terpengaruh. Misalnya yang dari Australia. Ikut terganggu. “Kami kian sulit mendapat gandum dari Australia,” ujar pengusaha terigu di Makassar. “Masih bisa dapat sih, tapi harganya naik drastis,” katanyi. “Naik sampai 50 persen,” tambahnyi.

Kenaikan harga itu membuat pengusaha mie dan roti di persimpangan jalan. Sebagian berani menaikkan harga jual. Sebagian lagi pilih mengurangi produksi. Hanya sedikit yang berani menurunkan kualitas: dengan cara mengganti bahan baku dengan terigu yang lebih murah.

Dengan kenaikan harga terigu sampai 50 persen, tidak mungkin tidak menaikkan harga jual. Pada akhirnya. Kecuali perang segera selesai. Terigu kembali normal.

Faktor harga sangat sensitif bagi produk seperti Indomie.

Bisa saja, awalnya, produsen akan memilih menurunkan produksi. Tanpa menaikkan harga. Sekadar untuk mengurangi kerugian. Sekalian untuk merencanakan pembentukan harga baru. Sambil lihat-lihat apa yang dilakukan pesaing.

Di tahap inilah persaingan antar produk menjadi sangat seru. Kini saatnya mereka adu cerdik strategi marketing. Agar kerugian bisa ditekan, tapi pangsa pasar tidak dimakan pesaing.

Tentu dengan perang Ukraina yang seperti slow motion ini, menahan harga tidak akan bisa bertahan lama. Pada akhirnya adalah: laba. Memang harga Indomie, sampai kemarin, masih Rp 2.900/bungkus. Tapi harga itu bisa bertahan berapa lama lagi? Untuk apa laris tapi rugi? Untuk apa kian laris produknya kian besar kerugiannya?

Maka menaikkan harga, pada akhirnya tidak bisa dihindari. Apalagi bagi produsen roti. Yang harga gula pun ikutan naik. Dan harga elpiji tidak mau ketinggalan. Akhirnya konsumen juga yang jadi pemikul beban terakhir semua itu: bukan hanya Volodymyr Zelenskyy dan apalagi Vladimir Putin.

Terigu ini bagi Indonesia adalah bencana nasional jangka panjang. Bahkan seumur hidup.

Problem jangka panjang impor BBM bisa diatasi dengan mobil listrik. Kalau mau. Masih ada jalan. Kalau bisa. Tapi persoalan jangka panjang terigu akan seperti pemikul salib: seumur hidup.

Konsumsi terigu nasional terus naik. Kenyataannya begitu. Rasa mie pun kian diperbanyak. Sampai pun ke rasa laksa dan rendang. Bahkan rasa soto.

Konsumsi terigu tidak bakalan bisa turun. Generasi baru kian beralih ke mie dan roti. Padahal kita tidak pernah bisa menanam gandum. Kita negara tropis. Gandum tidak bisa tumbuh baik di Indonesia.

Dari logika gandum itu terlihat ketahanan pangan kita paling rawan. Gandum adalah supremasi negara Barat. Tidak mungkin Barat melahirkan hasil penelitian bidang pengganti gandum.

Eropa sepakat: krisis minyak akibat perang Ukraina harus jadi momentum penentu. Perang ini harus jadi pemaksa agar Eropa beralih ke green energy.

Mereka tidak punya problem gandum. Biar pun sedang perang mereka tetap bisa menanam gandum. Sedang kita, perangnya di sana, sakitnya di sini. (Dahlan Iskan)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Moral Pusbatara

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Kapolri Mutasi Jajaran Polda Banten, Ini Daftar Lengkapnya
Olahraga

Bukan Sekadar Rebut Gelar, Turnamen Biliar FWUMKM Perkuat Sinergi Wartawan dan Pemerintah

Editor Laurens Dami
Minggu, 11 Oktober 2026 - 16:34

INDOPOSCO.ID – Sebanyak 20 forum wartawan se-Jabodetabek berkumpul dalam ajang Media Billiards Tournament ‘Press & Pocket Tournament’ Piala Menteri UMKM...

SelengkapnyaDetails
Hadi-Tj

Hadi Tjahjanto Sebut Negara Eropa Jadi Pesaing Terberat Karateka Indonesia di Polandia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:48
forki

Bekal Juara di Vietnam, Hadi Tjahjanto Optimistis Timnas Karate Bidik 6 Emas di Polandia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:09
PB FORKI Berangkatkan 11 Atlet Karate Indonesia ke Kejuaraan Dunia di Polandia

PB FORKI Berangkatkan 11 Atlet Karate Indonesia ke Kejuaraan Dunia di Polandia

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:07
bri

Jelang MotoGP Mandalika, BRI Latih 500 Volunteer Kelola Sampah

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:19

BERITA POPULER

  • Todotua

    Asian Games 2026 Ditutup Manis, Kontingen Indonesia Bawa Pulang 39 Medali dan Catat Hasil Optimal

    2716 shares
    Share 1086 Tweet 679
  • Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1058 shares
    Share 423 Tweet 265
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    982 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Cetak 5 Gol ke Gawang Bangladesh, Mitchell Baker Samai Rekor Iswadi Idris

    1212 shares
    Share 485 Tweet 303
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    887 shares
    Share 355 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.