• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Mati Lagi

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Kamis, 3 Maret 2022 - 08:00
in Disway
disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – DULU, puluhan ribu orang Yahudi Rusia dibantai Jerman-Nazi. Sekarang, orang-orang yang sama dibunuh lagi –oleh Rusia-Putin.

BacaJuga:

Weda Bay

Bali Lombok

Rocky Gerung

Itu terjadi Selasa dini hari lalu. Yakni, ketika Rusia menembakkan roket ke antena utama TV Ukraina di dekat Ibu Kota Kiev. Roket itu juga mengenai kuburan orang-orang Yahudi korban Perang Dunia Ke-2 tersebut. Kuburan itu ikut rusak. Yang sudah mati di dalamnya mati lagi.

Berita itu salah: mereka bukan baru mati dua kali. Tahun 1961 mereka juga pernah mati lagi. Kala itu terjadi banjir lumpur yang luar biasa di Lembah Babi tersebut. Bahkan, lebih dari 2.000 orang yang masih hidup di sekitar kuburan ikut mati beneran. Itulah lumpur yang bertahun-tahun ditampung di situ: lumpur buangan pabrik keramik. Sudah dibuatkan dam untuk penahan. Tidak cukup kokoh. Dam itu jebol.

Berarti, mereka yang dikubur di situ sudah mati tiga kali. Lembah Babi (Baby Yar) –Lembah Nenek– adalah saksi mati atas dibunuhnya 33.771 orang Yahudi. Hanya dalam dua hari pembantaian: 29 dan 30 September 1941.

Hanya di Kiev.

Belum termasuk pembantaian yang lebih besar di Odesa –kota pelabuhan terbesar di Ukraina yang sekarang juga diserang Rusia.

Nasib Ukraina kelihatannya mirip dengan makna kata ukraina itu sendiri: perbatasan. Ia berada di perbatasan antara Slavia dan Rusia. Ia kejepit. Gabungan antar-ras. Karena itu, wanitanya cantik-cantik –tidak terhitung ”i”-nyi.

Kemarin saya rekaman podcast dengan gadis Belarus. Namanya Aleksandra Klintsevich. Panggilannya Sasha. Dia mahasiswi Belarus yang kuliah di Universitas Teknologi Sumbawa. Jurusan psikologi, semester ke-4.

Dari obrolan itu, saya bisa ikut merasakan kesedihan gadis Belarus tersebut. Sasha punya banyak teman di Ukraina. Dia sering ke Ukraina. Ke banyak kota di Ukraina. Dari ibu kota Belarus, Minsk, ke ibu kota Ukraina, Kiev, hanya tiga jam naik mobil.

Sasha tiap hari kontak-kontakan dengan teman Ukraina-nyi. ”Sedih sekali,” kata Sasha yang mulai bisa berbahasa Indonesia.

Sasha tidak perlu visa untuk ke Ukraina. Demikian juga orang Ukraina, tidak perlu visa ke Belarus. Bahasa di kedua negara tidak banyak beda. ”Orang Belarus bisa mengerti bahasa Ukraina. Dan sebaliknya,” kata Sasha.

Kini Belarus sepenuhnya memihak Rusia. Pasukan yang akan menyerang Kiev datang melalui Belarus. Maka, Belarus juga menjadi sasaran sanksi ekonomi dari negara Barat.

Kelak, kalau Ukraina menjadi anggota Masyarakat Ekonomi Eropa, hubungan itu akan berbeda. Apalagi kalau Ukraina akan menjadi anggota NATO. Orang Belarus tidak akan bisa lagi bebas ke Ukraina. Harus menggunakan visa.

Tentu sasaran utama sanksi masih tetap Rusia. Saya pun menelusuri perkembangan pengenaan sanksi di bidang sistem perbankan. Yang secara luas sudah diberitakan: bank-bank Rusia tidak boleh lagi menggunakan Swift –sistem pengiriman uang yang digunakan 11.000 bank di seluruh dunia. Itu diumumkan Selasa lalu. Mulai efektif Rabu kemarin.

Apakah ekonomi Rusia langsung runtuh?

Saya kaget. Ternyata hanya tujuh bank di Rusia yang dikeluarkan dari Swift. Yang besar hanya dua bank: VEB RF dan Bank Rossiya. Itu milik pemerintah Rusia.

Masih terlalu banyak bank di Rusia yang tetap boleh menggunakan sistem Swift.

Bank sangat besar seperti Sberbank dan Gazprombank tidak termasuk yang dikeluarkan.

Rupanya, Jerman, Prancis, dan Italia menentang pengenaan sanksi menyeluruh. Itu akan melumpuhkan pasokan energi bagi Eropa. Mereka tidak bisa membayar harga gas yang berarti tidak akan mendapat kiriman gas dari Rusia.

Tentu daftar bank yang terkena sanksi masih bisa berubah. Bergantung tarik-menarik kepentingan di antara sesama negara Barat. Yang tidak bisa menggunakan Swift juga masih bisa menggunakan jalan memutar. Hanya perlu waktu dan biaya.

Bisa juga menggunakan cara lama: pakai TELEX. Hanya saja tidak terlihat modern.

Itu untuk transaksi internasional. Sedang untuk transaksi di dalam negeri sama sekali tidak ada hambatan. Rusia punya sistemnya sendiri. Seperti juga Tiongkok.

Bagaimana dengan Indonesia?

Yang pasti, Anda yang pro-Rusia maupun yang pro-Ukraina akan bernasib sama: sama-sama akan menerima akibat buruk. Yakni, kenaikan harga bensin. Harga minyak mentah sudah naik sampai USD 107 per barel. Pertamina tidak akan kuat menahan harga bensin yang ada sekarang.

Mungkin harga terigu juga akan ikut naik. Kiriman gandum dari Ukraina mulai terhambat.

Perang sebaiknya memang harus cepat selesai. Siapa pun yang menang. Mereka yang perang, kita yang tidak tahan. (Dahlan Iskan)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Moral Pusbatara

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Dari Morbidelli hingga Veda Ega, Panggung Pertamina Jadi Magnet Penggemar MotoGP
Olahraga

Dari Morbidelli hingga Veda Ega, Panggung Pertamina Jadi Magnet Penggemar MotoGP

Editor Ali Rachman
Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:28

INDOPOSCO.ID – Deru mesin bukan satu-satunya daya tarik Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Di luar lintasan, antusiasme penggemar juga...

SelengkapnyaDetails
Kapolri Mutasi Jajaran Polda Banten, Ini Daftar Lengkapnya

Bukan Sekadar Rebut Gelar, Turnamen Biliar FWUMKM Perkuat Sinergi Wartawan dan Pemerintah

Minggu, 11 Oktober 2026 - 16:34
Hadi-Tj

Hadi Tjahjanto Sebut Negara Eropa Jadi Pesaing Terberat Karateka Indonesia di Polandia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:48
forki

Bekal Juara di Vietnam, Hadi Tjahjanto Optimistis Timnas Karate Bidik 6 Emas di Polandia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:09
PB FORKI Berangkatkan 11 Atlet Karate Indonesia ke Kejuaraan Dunia di Polandia

PB FORKI Berangkatkan 11 Atlet Karate Indonesia ke Kejuaraan Dunia di Polandia

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:07

BERITA POPULER

  • Todotua

    Asian Games 2026 Ditutup Manis, Kontingen Indonesia Bawa Pulang 39 Medali dan Catat Hasil Optimal

    2716 shares
    Share 1086 Tweet 679
  • Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1058 shares
    Share 423 Tweet 265
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    982 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Cetak 5 Gol ke Gawang Bangladesh, Mitchell Baker Samai Rekor Iswadi Idris

    1212 shares
    Share 485 Tweet 303
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    888 shares
    Share 355 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.