• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Gaya Hidup

Galeri Nasional Hadirkan “Para Sekutu Yang Tidak Bisa Berkata Tidak”

Redaksi Editor Redaksi
Senin, 24 Januari 2022 - 12:50
in Gaya Hidup
seni

Instalasi seni dari S. Teddy D. berjudul "Paduan Suara yang Tidak Bisa Berkata Tidak" (ANTARA)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Galeri Nasional Indonesia dan Goethe-Institut Indonesien menghadirkan pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak” yang dibuka pada 28 Januari-27 Februari 2022, menghadirkan karya koleksi Galeri Nasional Indonesia dalam balutan narasi yang mengulik awal mula koleksi.

“Pameran ini kami harapkan dapat menjadi sumber informasi dan sarana apresiasi seni rupa bagi publik, serta semakin mempererat jejaring seni rupa internasional,” kata Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto, dalam keterangan resmi, Senin (24/1).

BacaJuga:

Stray Kids Cetak Penjualan Fantastis, ‘THIS & THAT’ Tembus 1,83 Juta Kopi di Hari Pertama

3 Member SEVENTEEN Segera Wamil, Mingyu Berangkat September Disusul Seungkwan dan Dino

Taman Safari Gelar IAPVC 2026, Kompetisi Foto dan Video Satwa Terbesar di Indonesia

Pameran ini merupakan bagian dari Collecting Entanglements and Embodied Histories, proyek dialog kuratorial jangka panjang yang diprakarsai oleh Goethe- Institut, bekerja sama dengan empat institusi penting di Thailand, Singapura, Jerman, dan Indonesia: MAIIAM Contemporary Art Museum, Singapore Art Museum, Hamburger Bahnhof( bagian dari Nationalgalerie–Staatliche Museen zu Berlin di Jerman), dan Galeri Nasional Indonesia.

Pameran diadakan di setiap negara dengan menampilkan koleksi karya dari keempat institusi tersebut. Setiap pameran memiliki narasi kuratorial yang berbeda dari masing-masing kurator: Anna- Catharina Gebbers (Jerman), Gridthiya Gaweewong (Thailand), June Yap (Singapura) dan Grace Samboh (Indonesia) yang merupakan kurator Pameran“ Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak ”ini. Selain koleksi keempat institusi, Pameran“ Para Sekutu…” juga menghadirkan pilihan karya dari Museum Seni Rupa dan Keramik- Unit Pengelola Museum Seni dan beberapa koleksi pribadi, serta arsip-arsip bersejarah.

Baca Juga : Kemenkumham: Pemanfaatan Karya Seni untuk Komersial Harus Izin

Pameran“ Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak” berangkat dari kerinduan untuk menikmati koleksi Galeri Nasional Indonesia, yang berjumlah hampir 2000 karya dan baru segelintir yang pernah dipamerkan kepada publik, juga dari ketertarikan untuk menelusuri awal mula koleksi dan institusi ini. Penjelajahan kuratorial Grace Samboh mencermati dua pameran bersejarah di Galeri Nasional Indonesia, yaitu “Paris-Jakarta 1950-1960” pada 1992 dan“ Pameran Seni Kontemporer dari Negara-Negara Non Blok” pada 1995.

Penjelajahan ini memunculkan beberapa pertanyaan seputar relasi di antara seniman dan negara yang terlibat dalam pameran. Apa yang dapat kita pelajari dari berbagai pertukaran tersebut? Apakah pertukaran-pertukaran itu semata gerak- gerik simbolik? Seperti apa hubungan para seniman? Betulkah terjadi pertukaran di antara para perorangan seniman ini? Perenungan atas pertanyaan ini mewujud dalam lima bagian pameran, yang diberi judul Guyub, Keberpihakan, Kenduri, Kekerabatan, dan Daya.

Judul Pameran“ Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak” diambil dari salah satu karya yang akan ditampilkan, yaitu Paduan Suara yang Tidak Bisa Berkata Tidak (1997) oleh seniman S. Teddy D. Karya ini telah diproduksi ulang untuk ditampilkan dalam pameran. Sebagian dari seniman yang karyanya akan ditampilkan dalam pameran adalah Agus Suwage, Araya Rasdjarmrearnsook, Basoeki Abdullah, Belkis Ayón Manso, Bruce Nauman, Danarto, Dolorosa Sinaga, Emiria Sunassa, Ary “Jimged” Sendy, Käthe Kollwitz, Marintan Sirait, Nguyễn Trinh Thi,Öyvind Fahlström, Siti Ruliyati, Tisna Sanjaya, dan Wassily Kandinsky. Pengunjung pameran juga dapat menyaksikan karya instalasi yang dibuat untuk pameran ini oleh Ho Tzu Nyen dan Cinanti Astria Johansjah.

Peneliti dan kurator Grace Samboh menjelaskan, “Saya berharap pameran ini membuka kesempatan seluas-luasnya kepada pengunjung untuk dapat memaknai karya-karya di dalamnya, juga narasi sejarah yang menjadi latarnya.”

Grace mengatakan, sudut pandang kuratorial bukanlah satu-satunya cara untuk melihat karya, praktik seniman, dan peristiwa yang menggugah seniman untuk berkarya. Dia mengaku tidak sabar untuk mendengar sudut pandang lain yang berbeda dari pengunjung yang hadir dan melihat karya-karya yang dipamerkan.

“Juga bertukar cerita dalam kesempatan yang sudah kami tunggu-tunggu dan rencanakan sekian lama.”seperti dilansir Antara, Senin (24/1/2022)

Sementara itu, Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru Dr. Stefan Dreyer, menyampaikan, dia merasa senang bisa membuka pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak” di Galeri Nasional Indonesia secara publik.

Dia mengatakan, pameran ini merupakan pameran keempat dan terakhir dalam proyek Collecting Entanglements and Embodied Histories, di mana Goethe- Institut berperan sebagai mak comblang dan fasilitator di antara keempat institusi seni yang telah bekerja sama dengan erat untuk mewujudkan program ini.

“Saya harap pameran‘ Para Sekutu…’ dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati dan mengenal karya-karya luar biasa dari koleksi Galeri Nasional Indonesia, Hamburger Bahnhof, MAIIAM Contemporary Art Museum, dan Singapore Art Museum.”

Sementara Pustanto mengatakan, pameran yang melibatkan kerja sama antar lembaga budaya di empat negara ini menjadi media diplomasi tentang karya dan tokoh seni rupa, sekaligus lambang semangat untuk pulih dari masa pandemi.

Sebelum berkunjung, sesuai dengan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, pengunjung diwajibkan melakukan registrasi secara daring melalui laman galnas-id.com paling lambat enam jam sebelum jadwal kunjungan. Pada laman tersebut, pengunjung juga dapat melihat jadwal, jam sesi, serta kuota kunjungan yang tersedia.

Pameran berdurasi lima pekan ini mencakup tur kuratorial terjadwal bersama kurator pameran Grace Samboh, juga serangkaian program publik daring dan luring untuk berbagai kelompok usia. (mg1)

Tags: Galeri Nasional IndonesiaKarya Seni

Berita Terkait.

Straykids
Gaya Hidup

Stray Kids Cetak Penjualan Fantastis, ‘THIS & THAT’ Tembus 1,83 Juta Kopi di Hari Pertama

Rabu, 12 Agustus 2026 - 03:33
Seventeen
Gaya Hidup

3 Member SEVENTEEN Segera Wamil, Mingyu Berangkat September Disusul Seungkwan dan Dino

Rabu, 12 Agustus 2026 - 02:21
Taman Safari Gelar IAPVC 2026, Kompetisi Foto dan Video Satwa Terbesar di Indonesia
Gaya Hidup

Taman Safari Gelar IAPVC 2026, Kompetisi Foto dan Video Satwa Terbesar di Indonesia

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:10
Jisoo
Gaya Hidup

Jisoo BLACKPINK Akhirnya Buka Suara soal Kontroversi Perayaan 10 Tahun Debut

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:00
Eric
Gaya Hidup

Eric THE BOYZ Resmi Gabung Agensi Baru, Siap Tunjukkan Sisi Berbeda dalam Karier Solo

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:08
Sate
Gaya Hidup

Rayakan HUT RI ke-81, Oakwood PIK dan HARRIS Puri Mansion Sajikan 10 Sate Nusantara dari Sabang hingga Merauke

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:23

BERITA POPULER

  • Dugaan Penyalahgunaan Dapodik Ditelusuri, Kemendikdasmen Siap Tindak Tegas

    Dugaan Penyalahgunaan Dapodik Ditelusuri, Kemendikdasmen Siap Tindak Tegas

    2209 shares
    Share 884 Tweet 552
  • PSSI Ubah Haluan Piala Presiden, Turnamen Kini Diproyeksikan untuk Timnas

    2466 shares
    Share 986 Tweet 617
  • Honda Scoopy Modifikasi Jadi Magnet di Jakarta Sneakers Day 2026, Booth Honda Sedot Ratusan Pengunjung

    1280 shares
    Share 512 Tweet 320
  • Suzuki Ertiga Hybrid Cruise, MPV Nyaman dengan Teknologi Hybrid di GIIAS 2026

    1105 shares
    Share 442 Tweet 276
  • Bea Cukai Tanjung Priok Gagalkan Penyelundupan Motor Harley-Davidson Bekas Asal Tiongkok

    1379 shares
    Share 552 Tweet 345
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.