• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Dasamuka Jawa

Redaksi Editor Redaksi
Rabu, 23 Juni 2021 - 05:05
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Di musim Piala Eropa ini Inggris kalah dengan Dasamuka. Saya harus melewatkan pertandingan Inggris lawan Skotlandia karena tidak bisa berhenti membaca novel berjudul tokoh pewayangan itu.

BacaJuga:

Pengusaha Pilihan

Weda Bay

Bali Lombok

Awalnya saya sulit menduga apa tema novel karya sastrawan Dr Junaedi Setiyono ini. Dua tahun lalu saya membaca novel karya sastrawan India dengan judul Rahwana. Yang menjungkirbalikkan cerita Ramayana.
Ternyata Dasamuka ini novel dengan tema Perang Jawa (1825-1930). Yang juga disebut Perang Diponegoro.

Kita hanya tahu Perang Diponegoro pecah karena penjajah Belanda memungut berbagai macam pajak. Yang sangat memberatkan rakyat. Belanda sempat kewalahan. Korban di pihak Belanda begitu besar.

Delapan ribu tentara Belanda totok tewas. Tujuh ribu tentara bayaran mereka juga sirna. Lebih 200.000 pejuang tewas. Lalu Diponegoro ditipu untuk ditangkap. Dibawa ke Semarang, Jawa Tengah. Lalu ke Jakarta. Selanjutnya dibuang ke Tondano dekat Manado, Sulawesi Utara. Lalu dipenjarakan di Makassar, Sulawesi Selatan. Meninggal dan dimakamkan di Makassar dalam usia 69 tahun.

Pengikut Diponegoro lari meninggalkan Jogja. Penduduk Jogja digambarkan tinggal separonya.
Saya sendiri mendapat tambahan cerita dari mulut ke mulut. Dari satu generasi ke keturunan berikutnya. Ketika tokoh-tokoh pengikut Diponegoro itu melarikan diri ke arah timur. Ke Pacitan. Ke Ponorogo. Ke Sewulan, Madiun. Ke Magetan dan seterusnya.

Menurut cerita keluarga kami, Perang Diponegoro adalah juga pemberontakan penganut Tarekat Syatariyah. Semua pesantren yang menganut aliran itu bergerak serentak melawan Belanda. Karena itu, di perang itu, Pangeran Diponegoro mengenakan pakaian ulama. Begitu juga pengikutnya. Bukan pakaian Jawa. Atau pakaian kesultanan. Atau pakaian panglima perang. Entahlah.

Novel ini menarik justru karena tidak bercerita soal perang itu sendiri. Tema novel ini justru pada apa yang terjadi selama 10 tahun sebelum perang itu pecah. Untuk meminjam istilah PKI (Partai Komunis Indonesia) menjelang meletusnya G30S, novel ini justru menggambarkan masa hamil tuanya. Bahkan sejak hamil mudanya. Pun sejak penyebab kehamilan itu.

Pecahnya perang itu sendiri hanya disertakan sebagai catatan sangat pendek di halaman terakhir. Yakni di adegan ketika William, ilmuwan Skotlandia, sudah berada di dermaga Pelabuhan Semarang. Ia sudah siap naik kapal menuju Batavia untuk selanjutnya kembali ke Skotlandia.

Di dermaga itu William menjadi orang terakhir yang naik kapal. Ia masih menunggu kedatangan sahabatnya yang berjanji akan mengucapkan selamat jalan di pelabuhan.
Si teman ternyata hanya mengutus seseorang berpakaian santri. Yang datang terlambat dan tergesa-gesa.

Si utusan minta maaf. Teman baik William tidak bisa mengantar ke pelabuhan karena perang melawan Belanda harus segera dimulai. Dan si teman ternyata adalah salah satu panglima perang kepercayaan Diponegoro.

William sebenarnya sudah bertekad untuk hidup di Jawa sampai mati. Demikian juga seorang pengusaha Inggris di bidang perkebunan. Yang bersama anak gadisnya sangat cinta Jawa. Tapi mereka itu akhirnya harus kembali ke Inggris karena Jawa tidak lagi aman.

Ketika perang Diponegoro pecah, William sudah berada di Skotlandia. Kalau tidak, mungkin ia termasuk yang akan ditangkap Belanda. Ia ilmuwan. Ia penulis. Ia wartawan untuk London Times.

Begitu banyak pengetahuan baru saya dapatkan dari novel ini. Misalnya bagaimana profesi penulis di zaman itu. Juga bagaimana kelakuan Hamengkubowono IV. Yang menjadi raja saat masih sangat belia. Yang hanya jadi boneka ibunya dan boneka Belanda. Yang lebih sibuk memuaskan diri dengan hobinya: balapan kereta kuda di jalan-jalan Yogyakarta yang berdebu. Yang selalu membawa banyak korban jiwa pengawalnya. Yang akhirnya mati muda akibat foya-foya.

Juga bagaimana Sultan Hamengkubuwo V dilantik jadi raja di usia yang masih dua tahun. Agar tetap bisa dijadikan boneka. Agar Diponegoro tidak naik takhta.
Dan yang saya juga belum pernah tahu adalah: bagaimana Raja Jawa membuat arena bronjong. Untuk mengadu manusia lawan harimau. Sebagai bentuk hukuman kepada penjahat. Juga kepada musuh pribadi keluarga Raja Jawa.

“Musuh pribadi” di situ termasuk tokoh yang tidak rela anak perempuan atau istrinya diminta raja.
Adakah keterlibatan Inggris di dalam perang Diponegoro? Inggris, ketika masih menjajah Jawa, memang menginginkan Diponegoro yang tampil menjadi Raja Jawa. Agar bisa menyejahterakan rakyat Jawa. Tapi Inggris kalah perang. Belanda kembali berkuasa di Jawa.

William yang datang ke Jawa saat Inggris masih berkuasa mencoba tetap bertahan di Jawa di bawah pemerintahan Belanda. William melihat betapa penguasa baru Belanda itu menyengsarakan rakyat. William melihat betapa rakyat tidak puas pada Belanda. William memang sering ke pesantren Bagelen untuk mengetahui dinamika kaum Islam zaman itu.

Padahal di zaman Inggris berkuasa, hukuman yang menyengsarakan rakyat dihapus. Termasuk adat bronjong itu. Kebun Raya Bogor dibangun. Dengan banyak tanaman dikirim dari Jogja. Tidak banyak pajak dikenakan.

Dari novel ini saya baru menyadari: masa hamil tua sebelum perang Diponegoro pecah ternyata begitu rumitnya. Ada masalah takhta. Ada masalah wanita. Ada masalah harta. Ada masalah agama. Ada masalah premanisme. Ada masalah nasionalisme.
Campur aduk.

Semua diramu ke dalam novel Dasamuka yang mengalahkan pertandingan sepak bola Eropa sekali pun.
Tentu Dasamuka adalah sebuah novel. Bukan buku sejarah. Tapi bahwa sastrawan Junaedi Setiyono memilih setting waktu ”hamil tuanya” Perang Diponegoro sungguh pekerjaan yang besar.

Dua minggu lalu saya membaca novel Junaedi Menghadang Pusaran. Dengan setting waktu Indonesia tahun 1.100-1.200. Zaman Jenggala dan Kediri. Yang juga istimewa.

Memang Baladewa belum bisa disejajarkan dengan Bumi Manusia-nya Pramudya Ananta Tour. Yang menggambarkan setting waktu Indonesia di akhir 1800-an dan awal 1900-an. Tapi munculnya karya sastra seperti Baladewa adalah babak baru novel Indonesia setelah Bumi Manusia.

Betapa kuat riset yang dilakukan sastrawan Purworejo, Jateng ini. Betapa jeli pandangan dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo ini.

Tidak salah Lian Gouw, sastrawan asal Bandung yang 50 tahun tinggal di California, Amerika Serikat menerjemahkan novel ini ke dalam bahasa Inggris. Dan menerbitkannya di Amerika lewat Dalang Publishing.

Mungkin Inggris juga berkhianat: tidak jadi memasok persenjataan ke kubu Diponegoro. Tapi watak orang Jawa yang menyebabkan kalah di segala bidang tecermin jelas di novel ini. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

Kanan Dalam
Disway

Pengusaha Pilihan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang
Olahraga

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Editor Dilianto
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

INDOPOSCO.ID - Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya...

SelengkapnyaDetails
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30
Banjir Bandang Padang, Puan Desak Perlindungan Pengungsi hingga Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak

Andra Soni Lepas Atlet Disabilitas Banten ke Ajang Nasional: Kalian Inspirasi Kita Semua

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:55
Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:17

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    927 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    983 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.