• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Belajar Hidup Sendiri

Redaksi Editor Redaksi
Selasa, 22 Juni 2021 - 05:05
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Sang suami akhirnya bisa menerima sang istri pergi. Selamanya. “Setidaknya kami telah merasa mendapat tambahan umur lima tahun,” ujar Prof Dr Soehartono DS, ahli kandungan terkemuka Surabaya Jawa Timur.

BacaJuga:

Pengusaha Pilihan

Weda Bay

Bali Lombok

Sang istri, Evie Ratsmawati, meninggal dunia Minggu dini hari kemarin –akibat kanker paru. Usianya 66 tahun– sembilan tahun lebih muda dari suami.

Bagaimana seorang penderita kanker paru stadium empat bisa bertahan selama lima tahun? “Itu karena obat Tyrosine Kinase Inhibitor,” ujar sang suami. Itulah obat penahan berkembangnya kanker.

Yang ia juga bersyukur adalah: selama lima tahun terakhir itu kualitas hidup sang istri tidak menurun. Tetap bisa main tenis. Melakukan umrah yang kedelapan. Jalan-jalan ke Eropa. Juga ke Amerika. Ke Tiongkok. Ke Kanada. Ke mana saja. “Kami tidak seperti orang sakit,” ujar dokter yang biasa saya panggil Mas Ton.

“Terus terang saja, saya ingin menyenangkan istri saya semaksimal mungkin,” katanya. Awalnya 2016. Suami-istri ini melayat sejawat mereka: Prof Dr Herlin Megawe. Sang istri batuk-batuk. Dibawalah ke dokter. Lalu dicarikan second opinion ke Singapura. Benar. Kanker paru. Langsung stadium empat.

Saat itu obat TKI (Tyrosin Kinase Inhibitor) sudah ditemukan. Bahkan generasi keduanya baru saja ditemukan. Maka Evie meminum TKI generasi dua. Bentuknya pil. Diminum tiap hari.

Itu bukan obat untuk membunuh kanker. Tugasnya hanya menghambat pertumbuhan sel kanker. Sekarang ini berbagai macam kanker bisa dihambat oleh TKI. Ada satu jenis TKI yang bisa untuk beberapa jenis kanker. Tapi ada juga kanker yang memerlukan TKI-nya sendiri.

“Untuk kanker ovarium memakai bevacizumab. Itu untuk menghambat pembentukan pembuluh darah ke sel kanker ovarium,” ujar Dr dr Brahmana, ahli kanker servik yang juga ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya.

Sambil mengonsumsi obat tersebut, kata Brahmana, tetap harus dicari jalan untuk membunuh sel kankernya. Salah satu caranya lewat kemoterapi. Atau radiasi. Atau operasi. Atau kombinasi.

Kelemahan obat tersebut mirip obat lainnya: lama-lama penyakit itu mengenal obat tersebut. Lalu kebal. Lalu melakukan mutasi. Lalu berkembang lagi.

Itu pula yang dialami Evie Suhartono. Setelah dua tahun mengonsumsi TKI generasi dua, kankernya kebal. Tanda-tanda berkembang muncul lagi. Obat yang sama tidak mempan lagi.

“Untungnya saat itu ditemukan TKI generasi ketiga,” ujar Mas Ton. Maka sang istri diberi obat generasi baru itu. Manjur. Kualitas hidup tidak sampai menurun. Aktivitas sehari-hari berjalan normal.

Dua tahun kemudian, dua minggu lalu, obat baru itu tidak manjur lagi. Kankernyi sudah kenal obat itu. Sudah kebal. Lalu kembali berkembang. Evie masuk rumah sakit. Obat TKI generasi empat belum ditemukan. Mungkin tidak lama lagi. Tapi Evie lebih dulu menemui takdirnya.

“Sekarang saya harus belajar hidup sendiri. Selama ini saya sangat tergantung istri,” ujar Mas Ton. Sampai pun yang menyiapkan sikat gigi dan celana dalam, istri. Ia juga tidak tahu punya uang berapa. “Tahu saya ya berapa yang ditaruh istri di dompet saya,” katanya.

Mereka punya tiga anak. Laki semua. Yang dua jadi dokter –ahli kandungan semua. Satunya memilih bidang bisnis.

Seberapa tertekan selama lima tahun mengidap kanker stadium empat? “Istri saya tidak tertekan. Sama sekali. Dia tipe wanita yang tidak pernah mengeluh. Agamanya kuat sekali,” katanya.

Suatu saat Mas Ton mengatakan ke istrinya: lebih baik kalau ia yang meninggal dulu. Hasil pemeriksaan lab rutin mereka selalu saja Mas Ton yang lebih jelek. Sudah operasi jantung pula.

Sang istri juga tidak pernah masuk rumah sakit. Kok sekali sakit kanker stadium empat. Saya dan istri melayat ke rumah Mas Ton jam 05.00 pagi di hari Minggu itu. Mumpung masih sepi. Dokter Brahmana dan istri juga terlihat sudah di rumah duka. Jenazah baru tiba dari RS, baru akan dimandikan.

Mas Ton adalah dokter kandungan istri saya. Anak wedok saya pun ditangani Mas Ton. Juga Ivo, menantu saya. Dari situ saya tahu Mas Ton bisa masih di ruang praktik pada pukul 02.00 dini hari.

Sebelum pandemi pun Mas Ton masih praktik dokter. Maret tahun lalu pun masih. Padahal pandemi sudah mulai. Baru mulai April Mas Ton tidak praktik lagi.

Selama 40 tahun praktik, Mas Ton sempat mengalami permintaan aneh-aneh dari keluarga yang mau melahirkan. Terutama dari golongan Tionghoa. Misalnya banyak yang minta dioperasi caesar jam 00.05. Agar shio-nya sudah masuk shio yang lebih baik.

“Saya layani saja. Itu kan keyakinan mereka,” kata Mas Ton.

“Minta tarif khusus?” tanya saya.

“Tidak,” tegasnya.

“Kan ada yang untuk permintaan seperti itu mengenakan tarif tiga kali lipat… ,” kata saya.

“Saya tidak mau begitu,” jawab Mas Ton.

Waktu saya menjalani transplantasi hati di Tianjin, 2006, Mas Ton menjalani operasi jantung di Australia. Waktu saya melaksanakan bedah buku Ganti Hati –tiga bulan setelah operasi– Mas Ton yang jadi moderator –sama-sama baru selesai operasi besar.

Saya tidak perlu lagi menulis bagaimana Mas Ton menemukan Evie. Sudah ada di podcast saya kapan itu.

Obat TKI telah banyak memperpanjang umur manusia. “Keluarga saya juga kena kanker. Juga minum obat TKI. Bertahan sudah delapan tahun,” ujar ahli kanker Prof Dr Ario Jatmiko yang memiliki rumah sakit Ongkologi di Surabaya. “Sayangnya keluarga saya itu kena serangan kanker kedua, kanker isofagus,” ujar Prof Miko.

Seberapa mahal obat itu? Sehingga hanya yang kaya yang bisa mendapatkannya? Saya pun mengumpulkan informasi. Untuk minum tiap hari, setiap bulan habis antara Rp30 sampai Rp50 juta. Kalau mau tambah umur lima tahun tinggal mengalikan 50x12x5 saja.

Karena itu obat ini belum populer di Indonesia. Tidak semua rumah sakit memiliki cadangan obat itu.

Itu berbeda dengan di negara yang sistem jaminan kesehatannya lengkap: termasuk mencakup obat tersebut.

Negara memang harus menghemat uang. Termasuk uang asuransi. Bahwa bocor Rp16 triliun di asuransi A dan Rp16 triliun lagi di asuransi B, itu kan bukan asuransi kesehatan. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

Kanan Dalam
Disway

Pengusaha Pilihan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang
Olahraga

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Editor Dilianto
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

INDOPOSCO.ID - Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya...

SelengkapnyaDetails
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30
Banjir Bandang Padang, Puan Desak Perlindungan Pengungsi hingga Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak

Andra Soni Lepas Atlet Disabilitas Banten ke Ajang Nasional: Kalian Inspirasi Kita Semua

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:55
Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:17

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    927 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    983 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.