• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Lian Gouw

Redaksi Editor Redaksi
Kamis, 10 Juni 2021 - 05:05
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Saya berhenti di rest area dekat Batang, Jawa Tengah (Jateng). Isi bensin. Di sepanjang jalan tol dari Jakarta itu, saya kepikiran isi novel yang hampir selesai saya baca: Mengadang Pusaran.
Maka, sambil istirahat, saya selesaikan novel itu. Biar segera tahu ending-nya. Perjalanan ke Surabaya, Jawa Timur (Jatim) masih lima jam lagi. Tidak sabar. Itulah novel 440 halaman yang ditulis orang yang sangat benci Indonesia –lalu jatuh cinta pada bahasa Indonesia.

BacaJuga:

Pengusaha Pilihan

Weda Bay

Bali Lombok

Nama penulis novel itu: Lian Gouw. Kelahiran Bandung, Jawa Barat (Jabar). Kini usianya 84 tahun. Lian Gouw tinggal di Palo Alto, dekat San Francisco, Amerika Serikat (AS).
Kepergian Lian ke Amerika Serikat pun akibat kebencian itu. Di awal 1960. Yakni, ketika pemerintahan Soekarno melarang bahasa Belanda. Juga, apa pun yang berbau Belanda.

Sejak kepergiannya itu, Lian tidak mau lagi ingat Indonesia. Pun selama 50 tahun itu, selama di Amerika itu, dia tidak mau tersambung dengan apa pun yang berbau Indonesia. Bahasa Indonesia –yang hanya sebentar dia pelajari di SMA Belanda di Bandung– hilang sama sekali dari ingatannya.

Lian dibesarkan di keluarga Tionghoa golongan hollands spreken. Yang tidak mau lagi menyerap dan mempraktikkan budaya Tionghoa. Adat istiadat di rumahnya memakai adat Belanda. Termasuk cara makan dan jenis makanannya. Mereka tidak mengenal sumpit. Sekolah pun harus di Sekolah Belanda.

Di Amerika, Lian jadi orang Amerika. Saat menulis novel ini pun, suasana kebatinannya adalah ”sebagai orang Amerika yang menulis novel dengan latar belakang masa lalu Indonesia”. Judul novelnya: Only a Girl.
Penerbit Gramedia menemukan novel itu. Lalu menerjemahkannya. Dengan judul baru, Menantang Phoenix.

Gramedia lantas mengundang penulisnya datang ke Indonesia. Saat undangan itu tiba, Lian masih benci Indonesia. Tapi, dia harus datang. Untuk acara peluncuran novel terjemahan itu.
”Saya seorang penulis yang harus bertanggung jawab pada karyanya,” ujar Lian kepada saya pekan lalu. ”Saat itu saya mengunjungi Indonesia sebagai penulis Amerika yang karyanya dibeli negara asing Indonesia,” ujar Lian.

Lian menambahkan: buku saya dibeli Gramedia dan saya ”mengantar” ”anak batin” saya ke negera yang menyambutnya dengan baik. Itu pada 2010. Ketika Lian berumur 73 tahun. Saat sudah 50 tahun tidak pernah mau tahu lagi tentang Indonesia.

“Waktu itu hujan deras. Dari bandara langsung ke tempat acara,” katanya. Perbedaan waktu Jakarta-San Francisco yang lebih dari 12 jam membuat Lian kurang enak badan. Dia mengalami apa yang disebut jet lag.

Kedatangan Lian ke Indonesia membawa perubahan drastis pada sikapnya. Dari membenci ke mencintai. Terutama mencintai bahasa Indonesia. Cinta yang setengah mati. Sampai Lian memutuskan untuk kursus bahasa Indonesia.

Setelah itu, Lian bolak-balik ke Indonesia. Ke banyak kota. Juga ke Bandung –yang melahirkannya. Tapi, di Bandung dia sudah tidak punya keluarga sama sekali.
Tempat sekolahnya, SMA Lyceum, masih ada. Sudah banyak berubah. Rumah sakit Boromeus juga masih ada. ”Kosambi berubah menjadi lebih bagus,” katanya.

”Bagaimana dengan rumah Nana yang ada di cerita novel itu?” tanya saya. ”Entah…,” jawabnya. Mungkin rumah yang jadi sentral cerita itu memang hanya fiksi.
”Apakah nama Nana itu diambil dari ’nai nai’ yang dalam bahasa Mandarin berarti nenek?” tanya saya. ”Bukan. Nana kan hollands spreken,” katanya.

Kecintaannya yang baru pada bahasa Indonesia dia wujudkan di novel terjemahan terbaru itu: dengan judul Mengadang Pusaran. Yang diterbitkan Pustaka Kanisius, Jogjakarta, 2020.
Di novel itu Lian tidak mau menggunakan kata Indonesia yang berasal dari serapan bahasa asing. Lian minta kepada penerjemahnya harus menggunakan kata asli bahasa Indonesia. Harus 100 persen.

Lian tidak hanya cinta bahasa Indonesia. Dia juga merasa bangga dengan kekayaan bahasa Indonesia. Saat kirim WA ke saya pun, Lian tidak mau menggunakan bahasa Indonesia serapan. Bahasa Indonesia Lian murni.

Terus terang, inilah untuk kali pertama saya membaca novel yang 100 persen bahasa Indonesia-nya asli. Saya pun menghubungi penerjemah novel Lian: Widjati Hartiningtyas. Saya ingin tahu seberapa sulit mengikuti keinginan Lian itu.

”Beliau sangat keras menentang kata serapan,” ujar Widjati. Tidak boleh ada kata ”problem”, ”solusi”, ”provokasi”, dan sebangsanya. Semua itu disebut kata serapan dari bahasa asing.

Kadang Widjati perlu waktu lama untuk menemukan kata asli dalam bahasa Indonesia. Widjati orang Semarang, Jateng. Lulus SMAN 4 di kota itu. Dia alumnus Universitas Negeri Semarang, Jurusan Sastra Inggris. Ibu dua anak tersebut seorang penulis yang produktif. Widjati kini mewakili Indonesia dalam Global Workshop Room to Read Amerika.

Saya pun kirim WA ke Widjati. Yakni, saat saya membaca kata ”makmal” di novel itu. Saya sungguh tidak tahu apa yang dimaksud ”makmal”. Ternyata kata ”makmal” adalah bahasa Indonesia untuk ”laboratorium”.

Sepanjang novel itu saya menemukan banyak kata asli Indonesia, tapi justru terasa sangat ”asing” di telinga saya. ”Saya bisa berjam-jam video call dengan beliau. Saya belum pernah bertemu langsung,” ujarnya. Kata video call bukan hanya serapan, melainkan asli bahasa asing. Saya belum tahu apa bahasa Indonesia-nya video call.

Diskusi terpanjang terjadi ketika Widjati ingin menerjemahkan kata ”overall” menjadi ”celana monyet”. Lian tidak setuju. Celana monyet itu, menurut Lian, hanya dipakai anak kecil. Padahal, pakaian ”overall” yang ditulis Lian masih biasa dipakai tokoh di novel tersebut sampai pun masa remaja.

Memang akhirnya Widjati tidak menemukan apa padanan ”overall” dalam bahasa Indonesia. Akhirnya mereka sepakat menerjemahkan ”overall” dengan ”celana” saja.

Widjati juga mengalami kesulitan menyebut jenis bahasa yang dipakai Belanda –atau juga orang Tionghoa– untuk berbicara kepada para pembantu rumah tangga mereka. Dalam novel asli yang berbahasa Inggris disebut bahasa ”Malay”. Semestinya itu bisa diterjemahkan menjadi ”bahasa Melayu”. Tapi, Lian tidak setuju. Bahasa yang dipakai zaman itu tidak sama dengan bahasa Melayu. Maka, di novel terjemahan tersebut, bahasa itu disebut ”Maleis”.

Bahasa seperti itu sebenarnya juga sudah dipakai koran-koran Jakarta di zaman itu. Memang tidak sama dengan bahasa Melayu. Dalam literatur lama disebutkan, koran-koran tersebut menggunakan ”bahasa Melayu-Tionghoa”.

Sebenarnya Lian akan ke Indonesia lagi tahun ini. Untuk peluncuran novel terjemahan kedua itu. Tapi, batal karena Pandemi Covid-19. Lian sendiri mengaku puas atas terjemahan Widjati. Lian juga memuji kerja keras Widjati. ”Nilai terjemahannya 8,5. Nilai kegigihan dan kerja keras Widjati 9,5,” ujar Lian.

Membaca novel ini, saya membayangkan Lian adalah Jenny, tokoh utama di novel tersebut. Benarkah? Lian paling tidak suka ditanya soal itu.

Dari novel inilah saya bisa tahu keadaan Bandung di masa peralihan. Dari zaman Belanda ke zaman Kemerdekaan. Saya jadi tahu apa beda Bandung Selatan dan Bandung Utara. Yang dibatasi rel kereta api.
Jenny, tokoh remaja di novel itu, sampai naik pohon mangga tinggi-tinggi. Di malam yang gelap. Untuk bisa melihat lautan api di Bandung Selatan.

Saya juga baru tahu soal ini: bendera Merah Putih ternyata baru dikibarkan di SMA Belanda di Bandung pada 1950. Lima tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan. Sampai 1950 itu, foto yang dipasang di dalam kelas, di atas papan tulis pun, masih foto Ratu Wilhelmina –Ratu Belanda sejak 1890-1948.

Dari novel ini kita bisa paham bagaimana keadaan golongan Tionghoa di masa peralihan itu. Ada yang hollands spreken yang pro-Belanda. Ada golongan Tionghoa netral. Ada juga Tionghoa yang pro Kemerdekaan, yang membenci Belanda.

Golongan Tionghoa totok ternyata juga membenci Tionghoa yang kebelanda-belandaan. Mereka menyebutnya dengan ”Belanda Tun Pua” –Belanda satu setengah gobang. Itu karena mereka harus membayar 1,5 gulden untuk bisa mendapat status Belanda.

Lian Gouw kini sudah agak lancar berbahasa Indonesia. Itu saya lihat ketika Lian jadi pembicara zoominar ”tipis-tipis” di perkumpulan Boen Hian Tong Semarang pekan lalu.

Lian Gouw kini melangkah lebih jauh lagi: mendirikan perusahaan penerbitan buku di Amerika. Dalang Publishing. Tujuannya: khusus menerbitkan buku-buku yang ditulis orang Indonesia. Untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Buku itu harus bermutu sastra. Juga, harus dengan latar belakang budaya Indonesia. ”Agar karya sastra dan budaya Indonesia dikenal publik Amerika,” ujar Lian.

Sudah 12 buku yang disiapkan segera terbit. Misalnya, novel karya Junaedi Setiyono: Dasamuka serta Tembang dan Perang.
Junaedi adalah sastrawan Purworejo, Jateng. Juga, Doktor Pendidikan yang menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Purworejo. Novel Tembang dan Perang itu telah diterbitkan Kanisius.

Itulah novel berdasar cerita Panji asli Indonesia, dari abad ke-14 –zaman Jenggolo-Kediri. Kisah Panji sedang diperjuangkan menjadi cerita warisan budaya ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).

Lian akan menerbitkannya untuk pasar Amerika dan dunia. Saya jadi ingin diskusi langsung dengan Lian. Kalau ke Amerika nanti. Saya ingin mampir ke Palo Alto.
”Tidur di rumah saya saja,” kata Lian. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

Kanan Dalam
Disway

Pengusaha Pilihan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang
Olahraga

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Editor Dilianto
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

INDOPOSCO.ID - Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya...

SelengkapnyaDetails
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30
Banjir Bandang Padang, Puan Desak Perlindungan Pengungsi hingga Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak

Andra Soni Lepas Atlet Disabilitas Banten ke Ajang Nasional: Kalian Inspirasi Kita Semua

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:55
Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:17

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    928 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    983 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.