• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Pahlawan Mochtar

Redaksi Editor Redaksi
Selasa, 8 Juni 2021 - 05:05
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Saya pun sudah hampir lupa: begitu besar jasa beliau kepada Indonesia. Boleh dikata, beliaulah yang berhasil membuat luas wilayah Indonesia menjadi dua kali lipat. Tanpa perang. Tanpa pertumpahan darah.

BacaJuga:

Pengusaha Pilihan

Weda Bay

Bali Lombok

Itulah beliau: Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja. Yang meninggal dunia pada Minggu (6/6/2021). Dalam usia 92 tahun.
Pak Mochtar adalah ahli hukum laut. Yang pertama dimiliki Indonesia. Yang amat langka pun di dunia –saat itu. Berkat teori Pak Mochtar maka laut di antara dua pulau di suatu negara adalah termasuk wilayah negara itu.

Singkat kata, beliau berhasil mengegolkan satu bentuk baru sebuah negara: negara kepulauan. Yang itu berbeda dengan negara daratan. Main land. Da Lu.
Dunia pun lantas menerima adanya bentuk negara kepulauan itu. PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) juga mengesahkannya. Jadilah United Nation Convention of the Law of the Sea (UNCLOS).

Dari situ pula perundingan perbatasan laut antara Indonesia dan Australia disepakati. Padahal, sebelum itu, perundingan perbatasan tersebut sangat seret. Rumit. Diwarnai kepentingan ekonomi: ada sumber minyak di laut antara Indonesia dan Australia itu.

Indonesia akhirnya memenangkan perundingan itu. Indonesia pun mendapat separo ladang minyak itu –yang setelah TimTim merdeka menjadi bagian Timor Leste.

Saya tidak habis pikir: bagaimana bisa seorang pribumi seperti Pak Mochtar, pada 1955, sudah bisa lulus S-2 dari Yale University, Amerika Serikat. Untuk Ilmu Hukum. Berarti pada 1953 beliau sudah lulus Sarjana Hukum Universitas Indonesia (UI).
Keluarga jenis apakah beliau? Kok begitu mementingkan pendidikan?

“Generasi kakak saya itu memang istimewa,” ujar Sarwono Kusumaatmadja, adik kandung pak Mochtar. “Kakak saya itu bergabung ke tentara pelajar. Tapi sekolahnya kok bisa selesai tepat waktu,” ujar Sarwono yang juga pernah menjadi menteri di zaman Pak Harto dan di zaman Gus Dur.

Sarwono adalah politikus besar: Sekjen Golkar yang sangat legendaris. Golkar tapi kritis. Kritis tapi Golkar.
Menurut Sarwono, ibundanya adalah keluarga pesantren Balerante di Cirebon. “Beliau orang pesantren pertama yang disekolahkan di sekolah Belanda,” ujar Sarwono. Sang ibu lantas menjadi guru SD di Sekolah Kartini.

Sedang ayahnya adalah pegawai di pemerintahan Belanda. “Ayah saya dari kalangan klein ambtenaar, tapi profesi beliau asisten apoteker,” ujar Sarwono.
Sejak kecil Mochtar sudah terlihat pintar dan cerdas. “Kakak saya itu tergolong jenius,” ujar Sarwono mengutip pendapat banyak orang di sekitarnya. Kejeniusan itulah yang membuat ayah dan ibunya berbeda pendapat.

“Ibu saya minta agar Mochtar dibiayai untuk sekolah di luar negeri. Ayah saya tidak setuju. Menurut ayah, yang perlu dibantu adalah keluarga lain yang tidak mampu,” ujar Sarwono.
“Mochtar itu dibiarkan saja bisa jadi dengan sendirinya,” ujar sang ayah seperti ditirukan Sarwono.

Akhirnya Mochtar tidak diberi uang. Ia pilih sendiri untuk sekolah di UI. Lalu ke Amerika Serikat.
Memilih sekolah ke Amerika itu pun sudah menunjukkan ”keanehan” tersendiri. Pada zaman itu semua anak muda ingin sekolah ke Belanda. Apalagi untuk Ilmu Hukum. Mereka pasti memilih ke Leiden.
“Kakak saya juga punya bakat bisnis,” ujar Sarwono.

Ketika kuliah di UI, pamannya yang di Cirebon sering membawa makanan khas daerah. Mochtar-lah yang mengedarkan makanan itu ke warung-warung. “Saya kebagian pekerjaan bungkus-bungkus,” ujar Sarwono lantas tertawa.

Sarwono sendiri kini berumur 77 tahun. Bicaranya masih tangkas. “Pak Sarwono terlihat sehat sekali,” kata saya mendengar nada bicaranya yang tetap tangkas.

“Saya ini OTG,” jawabnya.
Saya sempat terpancing oleh singkatan itu.
“Saya juga OTG. Januari lalu,” kata saya.

Ternyata OTG yang ia maksud berbeda dengan OTG yang ada di pikiran saya.
“Saya itu Orang Tua Gembira,” tukasnya.
Kami pun tertawa.

Berbeda dengan masa kecil Mochtar, Sarwono kecil dianggap sebagai anak kurang normal. “Dokter mengatakan saya punya kelemahan syaraf motorik. Jangan terlalu banyak diharap,” ujar Sarwono mengenang masa kecilnya.

Dari gaya jalan kakinya saja sudah terlihat kelihatan tidak normal. “Banyak yang mengkhawatirkan saya,” katanya. Terutama kalau lagi jalan kaki berangkat sekolah.
“Tidak ada yang takut saya akan ditabrak mobil, justru saya yang dikhawatirkan akan menabrak mobil,” ujarnya.

Tapi pamannya melihat lain. Sarwono kecil itu dinilai punya banyak kelebihan. Hanya saja belum tahu di bidang apa kelebihan itu.
Maka ketika sang paman bertugas sebagai Duta Besar (Dubes) RI di Yugoslavia, Sarwono dibawa ke Eropa. Di umurnya yang 13 tahun.

Bahkan sang paman kemudian menyekolahkan Sarwono ke Inggris.
“Dari sama sekali tidak bisa bahasa Inggris menjadi lulus terbaik,” katanya.

Itu untuk tingkat SMP. Lalu Sarwono masuk SMA Katolik di Jakarta. Setelah itu masuk perguruan tinggi terbaik, ITB (Institut Teknologi Bandung).
Di kampus Sarwono aktif di gerakan mahasiswa. Jadilah tokoh mahasiswa. Lalu jadi politikus.

Sarwono pun akhirnya menjadi menteri. Tiga kali pula: Menteri Kelautan, Menteri Lingkungan Hidup, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara.

Mochtar Kusumaatmadja sendiri juga tiga kali menjadi menteri. Yakni Menteri Kehakiman dan dua kali Menteri Luar Negeri.
Keluarga ini memang ”keluarga Menteri”. Putri Pak Mochtar, Prof Dr Armida Alisjahbana adalah Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Di era Presiden SBY. Satu angkatan dengan saya.

Tentu banyak yang kaget ketika nama Pak Mochtar tiba-tiba muncul di media: meninggal dunia Ahad lalu. Beliau memang sudah sangat lama tidak ”beredar” di pemberitaan. Yakni sejak beliau sakit: 1999.
“Awalnya beliau kebanyakan obat,” ujar Sarwono.

Dokter berikutnya lantas mengurangi obat. Tinggal dua jenis saja. Beliau pun sehat kembali. Tapi sudah terlambat. Beliau memang masih bisa berpikir, berbicara, dan mendengarkan, tapi tidak bisa lagi bicara.
Beliau juga bisa bergerak, tapi lebih banyak di kursi roda.

Hampir 20 tahun Pak Mochtar dalam keadaan seperti itu. Mirip sekali dengan bos saya dulu, yang juga Bendahara Umum DPP Golkar: Eric Samola. Dari kebanyakan obat menjadi seperti itu.

Pak Mochtar akhirnya meninggal dunia. Dari jasa-jasanya pada negara tentu harus sekali Pak Mochtar Kusumaatmadja menjadi pahlawan nasional. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

Kanan Dalam
Disway

Pengusaha Pilihan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang
Olahraga

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Editor Dilianto
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

INDOPOSCO.ID - Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya...

SelengkapnyaDetails
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30
Banjir Bandang Padang, Puan Desak Perlindungan Pengungsi hingga Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak

Andra Soni Lepas Atlet Disabilitas Banten ke Ajang Nasional: Kalian Inspirasi Kita Semua

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:55
Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:17

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    928 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    983 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.