• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Gembira Nusantara

Redaksi Editor Redaksi
Rabu, 2 Juni 2021 - 05:05
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Maafkan saya, Pak Terawan. Saya tidak memberi tahu Anda. Diam-diam saya memeriksakan anggota rombongan relawan Vaksin Nusantara (VakNus) ke lab (laboratorium) independen.

BacaJuga:

Pengusaha Pilihan

Weda Bay

Bali Lombok

Saya ingin tahu hasilnya. Pemeriksaan itu kami lakukan pekan lalu –17 hari setelah mereka disuntik VakNus pada 4 Mei 2021.

Hasilnya mengejutkan saya: bagus sekali.

Dari segi keamanan saya sudah pernah tulis: tidak satu pun yang punya keluhan. Pun yang ringan, apalagi yang berat. Soal keamanan ini tidak saya periksakan di lab.

Yang saya periksakan adalah dari segi kemampuan VakNus melawan Covid-19. Hasilnya, biarlah angka-angka lab yang berbicara: bagus sekali. Rinciannya akan saya tulis di Disway besok pagi.

Hari itu, Jumat, 22 Mei 2021. Pukul 07.00. Kami, 100 orang lebih, baru selesai senam rutin di Rumah Gadang Surabaya, Jawa Timur.

Sebanyak 11 relawan VakNus memang anggota senam dansa ini. Yang enpat orang lagi tinggal di Jakarta.

Selesai senam satu jam itu, petugas dari Laboratorium Molekular Profesor Nidom Foundation datang. Relawan VakNus antre ambil darah. Saya hitung: kok hanya sembilan orang.

Ternyata Ali Murtadlo lagi ke Pacitan –mertuanya meninggal. Ali, wartawan senior, mantan direktur salah satu anak perusahaan Jawa Pos Group. Satu lagi tidak kelihatan karena harus masuk kerja lebih pagi.

Saya tidak menyangka bahwa pemeriksaan itu begitu detail. Prof Dr C. A. Nidom, ahli virus pemilik Laboratorium Molekular itu, ternyata tidak hanya memeriksa antibodi. Tapi juga memeriksa kemampuan proteksi bodi.

Prof Nidom, Anda sudah tahu, juga dikenal sebagai ilmuwan penemu vaksin flu burung. Itu yang membuat namanya mendunia. Ia membangun lab di Wisma Permai Surabaya –sejak tidak terlalu aktif di Universitas Airlangga.

Maka, dari pemeriksaan itu, relawan VakNus dari Surabaya bisa mengetahui dua hal sekaligus. Apakah sudah punya antibodi. Sudah. Juga apakah punya perlindungan diri terhadap virus Covid. Sudah.

Saya pun bertanya kepada Prof Nidom: mengapa dibedakan antara antibodi dan proteksi. Apakah kalau sudah punya antibodi tidak otomatis punya proteksi?

“Adanya antibodi belum tentu protektif terhadap virus lapang atau surrogate,” ujar Prof Nidom.

Ups.

Berarti saya salah ketika menjelaskan soal antibodi kepada istri. Saya senang sekali ketika melihat hasil lab istri saya: antibodinya mencapai angka 202. Itu dua minggu setelah vaksin kedua Sinovac. Saya sempat bilang bahwa istri saya tidak mungkin lagi tertular Covid. Angka antibodinya begitu tinggi.

Padahal antibodi anak saya –setelah vaksin kedua Sinovac– hanya di angka 15. Sedang istrinya ”hanya” di angka 35.

“Ha ha ha mungkin ibu ini pernah kena Covid, tapi tidak merasa. Mana ada vaksin menghasilkan antibodi di atas 200 kalau tidak pernah kena Covid,” ujar anak saya.

Istri saya tampak terkejut. Lalu berkilah. “Sebelum vaksin dulu saya tiga kali tes. Selalu negatif,” bantah istri saya.

Baru sekarang saya tahu antibodi tidak otomatis melindungi. Prof Nidom sudah melakukan penelitian khusus. Yakni terhadap mereka yang sudah menjalani vaksinasi konvensional.

Pemeriksaan itu dilakukan kepada orang yang sudah satu bulan menjalani vaksinasi kedua.

“Hasilnya ada tiga kelompok,” ujar Prof Nidom.

Yakni: 1) Kelompok yang punya antibodi sekaligus punya daya protektif. 2) Kelompok yang punya antibodi, tapi tidak punya daya protektif. 3) Kelompok yang tidak punya antibodi yang otomatis tidak ada daya protektifnya.

“Kelompok 2 dan 3 itu rawan untuk terinfeksi kembali,” ujar Prof Nidom.

Memiliki antibodi, lanjutnya, belum tentu tidak terinfeksi. “Yang menentukan itu antibodi yang protektif,” tandasnya.

Vaksin untuk Covid, kata dia, seharusnya vaksin yang sekaligus bisa menangkal virus. “Virus Covid itu berbeda dengan virus flu atau flu burung,” ujar Prof Nidom. “Virus flu burung itu berhenti di paru-paru. Virus flu biasa berhenti di saluran pernapasan,” ujar Prof Nidom.

“Sedang virus Covid beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah,” katanya. “Itulah yang membuat pemilik komorbid dalam bahaya,” tambahnya.

Melihat hasil pemeriksaan yang begitu menggembirakan, saya pun ingin memeriksakan diri ke Lab Molekular Prof Nidom. Meski bukan objek penelitian saya kan juga menjalani VakNus bersama para relawan itu. Saya penasaran juga. (Bersambung)

Tags: disway

Berita Terkait.

Kanan Dalam
Disway

Pengusaha Pilihan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang
Olahraga

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Editor Dilianto
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

INDOPOSCO.ID - Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya...

SelengkapnyaDetails
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30
Banjir Bandang Padang, Puan Desak Perlindungan Pengungsi hingga Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak

Andra Soni Lepas Atlet Disabilitas Banten ke Ajang Nasional: Kalian Inspirasi Kita Semua

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:55
Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:17

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    928 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    983 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    887 shares
    Share 355 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.