• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Ical Nusantara

Redaksi Editor Redaksi
Kamis, 15 April 2021 - 06:01
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – “Saya ini berutang nyawa. Bagaimana tidak percaya,” ujar Aburizal Bakrie, kemarin.
Saya memang menghubungi Pak Ical –nama panggilan konglomerat dan politikus itu– Selasa lalu. Tapi tidak berhasil. Ternyata beliau yang menghubungi saya, kemarin.

BacaJuga:

Pengusaha Pilihan

Weda Bay

Bali Lombok

Utang nyawa yang dimaksud adalah peristiwa pada 2012. Ketika Pak Ical menjabat Ketua Umum Partai Golkar yang lagi mau jadi calon presiden. Tidak banyak yang tahu peristiwa kritis tersebut. Dirahasiakan. Mengapa? “Kan waktu itu mau jadi calon presiden… Bisa payah…,” katanya lantas tertawa.

Sore itu, 2012 itu, Pak Ical sedang makan. Ketika menyuapkan sendok ke mulut, sendoknya mengarah ke pipi. Dicoba lagi, begitu lagi. Berarti tanda-tanda lagi terserang stroke.

Pak Ical dilarikan ke rumah sakit. Dirawat intensif di situ. Jangan sampai ada yang tahu. Menjelang tengah malam, Pak Ical koma. Dokter yang merawat, akhirnya memutuskan memindahkan Pak Ical ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Keluarga setuju.

Di RSPAD, Pak Ical langsung ditangani dokter Terawan Agus Putranto. Pakai DSA (Digital Subtraction Angiography)-nya yang sangat kontroversial itu. Pak Ical harus menjalani MRI dulu. Seluruh pasien yang akan menjalani DSA memang harus di-MRI (Magnetic Resonance Angiography) lebih dulu –untuk melihat seluruh saluran darah di otak.

Melihat hasil MRI itu, perawat di RSPAD terkejut. Saluran darah praktis buntu semua. Sudah seperti tidak mungkin dilakukan DSA. Yakni dengan cara memasukkan kateter dari arah selangkangan menuju seluruh saluran darah di otak. Kateter itulah yang menembus satu saluran darah di kepala. Sambil membawa cairan ”pembersih”.

Lalu ditarik sedikit. Untuk dimasukkan lagi ke saluran darah satunya. Ditarik lagi sedikit. Dimasukkan lagi ke saluran darah yang lain lagi. Sampai selesai. Sampai seluruh saluran darah yang buntu dibersihkan.

Tentu Pak Ical tidak tahu semua itu. Cerita tersebut ia dapat setelah sembuh –lalu diceritakan lagi ke saya kemarin. Malam itu juga Pak Ical siuman. Lalu sehat seperti secara spontan.

Pagi harinya Presiden SBY menelepon Pak Ical. “Pak Ical tidak boleh sakit,” ujar Pak SBY seperti yang ditirukan Pak Ical.
“Kok bapak Presiden tahu saya sakit?” jawab Pak Ical.
“Saya kan presiden,” jawab Pak SBY –seperti yang diceritakan Pak Ical lantas tertawa-tawa: usaha merahasiakan sakitnya gagal.

Dengan cerita itu, Pak Ical ingin mengatakan bahwa kepeloporannya menjalani vaksinasi Vaksin Nusantara (Disway kemarin) bukan asal-asalan. Ada utang nyawa di baliknya.

Bahkan juga nyawa istrinya.
Belum lama ini.

Pak Ical sudah membawa sang istri ke mana-mana. Termasuk ke Amerika. Tetap saja tidak sembuh. Sampai harus pakai kursi roda.

Tidak ada pemikiran sama sekali untuk ke dokter Terawan. Sakitnya kan tidak ada hubungan dengan pembuluh darah di otak. Ini beda. Ini soal kanker. Yang membuat sang istri sampai seperti orang terkena Parkinson.

Akhirnya: dibawa ke RSPAD. Ditangani dokter Terawan juga. Kali ini lewat fasilitas terbaru di rumah sakit itu –yang juga sangat kontroversial: cell cure. Maka sang istri pun menjalani cell cure. Ditambah DSA juga. Sembuh.
Utang pun bertambah.

“Waktu beliau diberhentikan dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) saya bikin hastag #saveTerawan. Sampai Pak SBY pun ke hastag itu,” ujar Pak Ical.

Tentu tetap ada yang kontra. Salah satunya mengirim surat terbuka ke saya. Yang berkirim surat itu bukan sembarang orang. Ia juga ilmuwan terkemuka –dari Semarang: Prof Dr dr Zaenal Muttaqin.
Inilah suratnya (dimuat apa adanya, Red):

***

Surat Terbuka utk YTH Bpk Dahlan Iskan:

PROSEDUR BAKU SAINS (baca: RISET OBAT BARU, contohnya MOLNUPIRAVIR ini) jelas, bisa dilacak dan dilihat dan dipelajari oleh siapapun yg ingin tahu, orang awam maupun ilmuwan lain pun BISA dan BOLEH melihatnya). Jadi tidak ada DATA yang ditutup-tutupi, apalagi hasil analisa yg disembunyikan.

Sekarang juga kalau Anda mau semua data ttg Obat Covid, termasuk studi pra-klinisnya, Studi Klinin Fase 1,2,3 tentang Molnupiravir ini bisa dilihat via Google. Juga data/ Track Record tentang Peneliti/ Researcher-nya.

JADIIII, Anak Bangsa pun, termasuk Terawan atau si Fulan, BISA dan BOLEH melakukan INOVASI apapun, asal Presedur Baku Sains JANGAN DITELIKUNG, dan DATA ini dibahas dan DIPUBLIKASI kan di JURNAL ILMIAH/ Peer Reviewed Journal, BUKAN di depan PARLEMEN yang dipenuhi oleh Tekanan Politik ..

Zaenal Muttaqien
– Dokter Ahli Bedah Syaraf –

***

Prof Zaenal bukan sembarang dokter. Gelar doktornya diperoleh dari University of Hiroshima, Jepang. Ia sekarang menjadi dosen di Undip (Universitas Diponegoro), Semarang, Jawa Tengah. Di situlah dokter Zaenal mendapatkan gelar dokter.

“Gelar doktor bedah syarafnya diperoleh dengan predikat summa cum laude,” ujar teman sealmamaternya dulu, yang juga teman saya.

Itu bukan surat terbuka pertama Prof Zaenal –banyak media menulisnya Zaenal– tentang Terawan. Pada 13 Oktober tahun lalu, Prof Zaenal juga menulis surat terbuka. Judulnya: Terawan oh…Terawan.

Isinya: kecaman kepada Terawan yang dia nilai terlalu meremehkan Covid-19. Dua bulan setelah surat itu, Terawan dicopot dari jabatannya sebagai Menteri Kesehatan.

Kepada teman, Prof Zaenal itu saya minta nomor kontaknya. Saya akan menghubunginya. Tapi sampai tulisan ini saya selesaikan saya belum berhasil memperolehnya.

Saya sendiri pernah mengusulkan agar hasil penelitian VakNus (Vaksin Nusantara) itu dibuka saja kepada publik. Tapi Tim VanNus mengatakan, apakah BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengizinkan.

Waktu itu Tim VakNus masih terikat dengan BPOM. Yang seluruh laporan ke BPOM itu sifatnya rahasia. Demikian juga balasan-balasan dari BPOM, distempel ”Rahasia”.

Rupanya nasib VakNus tidak sebaik konvalesennya Dr dr Monica. Yang meskipun juga ditentang akhirnya mendapat tempat di masyarakat. VanNus kelihatannya harus napak tilas jalan panjang konvalesen. Bahkan lebih panjang. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

Kanan Dalam
Disway

Pengusaha Pilihan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang
Olahraga

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Editor Dilianto
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

INDOPOSCO.ID - Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya...

SelengkapnyaDetails
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30
Banjir Bandang Padang, Puan Desak Perlindungan Pengungsi hingga Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak

Andra Soni Lepas Atlet Disabilitas Banten ke Ajang Nasional: Kalian Inspirasi Kita Semua

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:55
Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:17

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    928 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Elnusa Perkuat Produksi Migas, HWU EHR#10 Dukung Pembukaan Kembali Sumur Idle

    667 shares
    Share 267 Tweet 167
  • Bangun Energi Positif dari dalam, PLN Icon Plus Perkuat Kolaborasi Lewat ICONMOVE

    665 shares
    Share 266 Tweet 166
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.