INDOPOSCO.ID – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy menyebutkan, air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Perlu pengelolaan secara serius dari hulu untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Masyarakat diminta jangan hanya berpikir untuk memanfaatkan air saja. Tetapi harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam menjaga pelestarian sumber daya air. Salah satunya dengan cara menanam pohon.
Hal itu diungkapkan pada saat memperingati hari air sedunia di Bendungan Sindang Heula, Kabupaten Serang, Banten, Senin (22/3/2021).
“Akses terhadap air minum dan pelayanan dasar merupakan prioritas nasional dan sangat erat kaitannya dengan pembangunan lain seperti kesehatan, kemiskinan dan pembangunan manusia pada umumnya,” katanya saat sambutan.
Ia menjelaskan, satu dari lima rumah tangga masih melakukan buang air besar (BAB) sembarangan. Selain itu, satu dari tiga rumah tangga belum memiliki akses minum bersih serta belum paham terkait cuci tangan bersih yang benar.
“Tantangan yang kita hadapi saat ini bahwa satu dari 3 rumah tangga belum memiliki akses air minum bersih dan satu dari 5 rumah tangga masih buang air besar di ruang terbuka dan perilaku cuci tangan dengan benar masih rendah,” ungkapnya.
Menurutnya, buang air sembarangan dan air limbah telah mengkontaminasi kesediaan air. Sehingga, hal itu menjadi sumber penyebaran penyakit bagi masyarakat. Terutama penyakit diare dan kolera pada anak balita. “Satu dari empat anak balita Indonesia mengalami diare, yang merupakan penyebab utama kematian balita,” terangnya.
Muhadjir menjelaskan, kualitas air yang tidak bersih menjadi faktor penyumbang tingginya angka stunting. Dimana, angka stunting 40 persen, diatas rata-rata nasional 24,7 persen. Padahal pada tahun 2019, berada di angka 26,7 persen. Sehingga, pihaknya meyakini hubungan sanitasi air, keberadaan lingkungan berkaitan erat dengan pembangunan manusia khususnya dengan kesehatan.
“Intervensi yang kuat seperti pengadaan air minum dan sanitasi layak serta perilaku, dapat 70 persen terhadap pencegahan stunting. Jadi bukan hanya gizi baik, pemberian asupan gizi yang memenuhi standar ibu hamil, ibu melahirkan, tetapi air punya dampak besar,” jelasnya.
Upaya percepatan penyediaan air minum dan sanitasi yang aman, terus dilakukan dengan mengacu Perpres 185 tahun 2014 tentang percepatan penyediaan air minum dan sanitasi.
Berdasarkan data tahun 2020, sebanyak 90,31 persen keluarga memiliki akses air minum layak, 26,9 persen rumah tangga memiliki air minum permukaan. Sedangkan target tahun 2024, Indonesia harus mencapai 100 persen akses air minum layak, 15 persen air minum aman, 30 persen air minum permukaan dan 10 juta sambungan air di rumah tangga.
“Sehingga tahun 2030 diharapkan target global yaitu 100, 0 dan 100 yaitu 100 persen layanan airminum, pengurangan kawasan kumuh, 100 persen pemenuhan sanitasi layak bisa betul-betul realisasi,” paparnya.
Kebijakan dan strategi akan dilakukan secara empat tahap. Pertama, peningkatan tata kelola kelembagaan untuk penyediaan air minum layak dan aman. Kedua, peningkatan kapasitas dpenyelenggara air minum. Ketiga, pengembangan dan pengelolaan penyediaan air minum. Keempat, perubahan prilaku masyarakat serta menyikapi pesumber daya air.
“Yang keempat perlu ditekannkan karena diluar kontrol kita. Perilaku masyarakat kita yang positif masih harus ditingkatkan. karena rata-rata masih rendah,” tukasnya. (son)










