• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Paus–Ayatollah

Redaksi Editor Redaksi
Rabu, 10 Maret 2021 - 06:01
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Paus Francis berusia 84 tahun. Ayatollah Ali al-Sistani berumur 90 tahun. Keduanya bertemu, Sabtu (6/3/2021) lalu. Selama 40 menit. Yang dibicarakan: kekerasan atas nama agama harus diakhiri.

BacaJuga:

Pengusaha Pilihan

Weda Bay

Bali Lombok

Pertemuan bersejarah itu terjadi di rumah Ali al-Sistani –Grand Ayatollah di Iraq. Di kota Najaf. Iraq bagian selatan. Sudah dekat dengan Iran.

Rumah Sistani berada di dalam sebuah gang yang sempit. Rumah itu sendiri luasnya hanya 70 m2 –sedikit di atas rumah sederhana untuk ukuran Indonesia. Pun itu bukan rumah sang imam sendiri. Itu rumah kontrakan –600.000 dinar Iraq per bulan. Atau sekitar Rp200.000 per bulan.

Paus terbang dari Baghdad –ibu kota Iraq– menuju Najaf. Hanya sekitar 30 menit. Saya pernah jalan darat dari Baghdad ke Najaf: sekitar dua jam. Bersama istri, anak wedok Isna Iskan, suaminyi, dan cucu pertama Icha.

Saya sampai berkali-kali memutar video berita kunjungan pemimpin tertinggi dunia Katolik ke Najaf itu. Terutama video bagaimana Paus harus turun dari mobil di mulut gang. Lalu harus berjalan menyusuri gang dengan langkah khas orang tua.

Tempat pertemuan itu sendiri memang terlihat sangat sederhana. Ayatollah al-Sistani mengenakan jubah ”kebesaran” seorang imam besar aliran Syiah: serbahitam. Paus mengenakan jubah kepausan: serbaputih.
Kita tidak tahu pembicaraan dua pemimpin agama itu. Semuanya tertutup. Kita hanya tahu dari siaran pers –satu dari Sistani dan satunya dari Paus Francis. Tapi isinya sama: perlunya kekerasan atas nama agama diakhiri.

Dari Sistani ada tambahan yang lebih mencerminkan keadaan di Iraq: orang Kristen Iraq berhak hidup aman dan damai seperti warga Iraq lainnya. “Itu dijamin oleh konstitusi Iraq,” ujar siaran pers dari Sistani.

Sikap Sistani itu sudah bisa dibaca jauh-jauh hari. Sikap itulah yang membuat kunjungan Paus ke rumahnya menjadi mungkin.

Berbulan-bulan staf kedua belah pihak membahas kunjungan itu. Ada saja hambatannya. Bukan soal perbedaan iman tapi soal keamanan. Iraq masih belum aman. Maka pengamanan di sepanjang gang itu menjadi faktor yang paling sulit.
Terakhir ada faktor tambahan: Covid-19.

Tapi tekad Paus sangat kuat untuk ke Iraq. Belum ada Paus sebelumnya berani ke Iraq. Paus Francis adalah yang pertama. Yang saat kunjungan dilakukan sudah menjalani vaksinasi suntikan kedua.

Di depan gang rumah Sistani terbentang satu spanduk. Isinya sangat damai dan menyejukkan. Kalimat di spanduk itu diambil dari kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib –panutan utama pengikut Syiah. Ali adalah salah satu dari empat sahabat tepercaya Nabi Muhammad. Yang juga menantu Nabi: ayah dari Sayyidina Hassan dan Hussein –cucu kesayangan Nabi.

“Kita ini bersaudara, kalau bukan saudara seiman adalah saudara sesama manusia,” bunyi kalimat di spanduk itu.

Makam Sayyidina Ali ada di Najaf. Saya ke makam itu waktu ke Najaf dulu.
Dan Grand Ayatollah Sistani sendiri masih keturunan dari Sayidina Ali.

Sistani sebenarnya lahir di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran yang amat indah. Lalu bersekolah agama di Qom –kota suci kaum Syiah, sekitar 100 km dari Tehran. Dari sini Sistani melanjutkan sekolah ke Najaf di Iraq. Sejak itu Sistani menjadi warga Iraq. Pada 1993 Sistani menjadi Grand Ayatollah di Iraq. Ia juga masuk 100 tokoh intelektual dunia dan 50 intelektual Islam.

Selama pemerintahan otoriter Saddam Hussein, Sistani menjadi tahanan rumah. Masjidnya ditutup. Setelah Amerika menyerbu Iraq Sistani masuk tokoh pro-demokrasi. Bahkan ia menyerukan agar wanita ikut memilih. Bagi para suami yang melarang istri pergi ke TPS, Sistani berkata: para wanita Syiah harus mengikuti jejak Zainab –putri Sayyidina Ali. Zainab memang ikut rombongan Hussein ke Najaf –yang kemudian menjadi saksi pembantaian di Karbala, ketika perjalanan 1.000 Km rombongan itu tinggal 70 Km saja dari Najaf.

Umat Kristen adalah kelompok yang paling menderita di Iraq. Mereka berada di tengah konflik antara Islam Syiah (65 persen) dan Islam Wahabi (30 persen).

Apalagi ketika ISIS menguasai Iraq dan Syria. Sistani sangat anti ISIS –mengeluarkan fatwa untuk memerangi ISIS.

Sistani sendiri –dalam beberapa wawancara di masa itu– mengatakan, pembunuhan terhadap umat Kristen bukan dilakukan oleh umat Islam Iraq melainkan oleh pengikut aliran Wahabi yang datang dari luar.

Dengan kalimatnya itu, Sistani seperti ingin mengesankan bahwa di Iraq tidak ada masalah antara Syiah dan Sunni. Yang membuat masalah adalah masuknya Wahabi ke Iraq.

Tanpa menyebut nama, yang dimaksud tentunya satu ini: Arab Saudi. Yakni negara yang beraliran Wahabi. Mungkin yang dimaksud Sistani adalah Arab Saudi sebelum era putra mahkota Mohamad bin Salman. Kini Arab Saudi kian menuju ke arah liberal.

Kedatangan Paus ke Iraq telah menenangkan umat Kristen. Apalagi Paus bertemu Ayatollah Sistani. Sistani seperti agak berbeda dengan umumnya Ayatollah di Iran. Sistani percaya pada demokrasi. Bahkan ia mengecam demokrasi di Iraq belum bisa diterapkan sepenuhnya.

Sikap Sistani itu menarik di kalangan Barat. Sejak lima tahun lalu beberapa lembaga di Inggris –juga kolumnis terkemuka harian New York Times mengusulkan Sistani untuk mendapat hadiah Nobel perdamaian. Demikian juga asosiasi umat Kristen di Iraq.

Pun, Paus Francis. Telah membuat sejarah penting. Beliau begitu ngotot datang ke Iraq –di tengah semua bahaya yang ada. Bahkan Paus juga ziarah ke kota Ur –sekitar 300 Km dari Najaf. Di situlah Nabi Ibrahim lahir. Ilmuwan sudah sepakat di Ur-lah Abraham lahir. Meski begitu tetap saja banyak daerah lain yang masih mengklaim Ibrahim lahir di daerah mereka.

Dari Ur, di umurnya yang 74 tahun, Abraham melakukan perjalanan suci 1.000 Km ke Syria. Lalu jalan lagi 1.000 Km ke Mesir. Terakhir jalan lagi 1.000 Km ke Kanaan –sekarang Israel– untuk menetap di situ. Itu sekitar 4.000 tahun sebelum Masehi.

Tentu, saya memonitor media Barat untuk mengikuti dan menulis kunjungan Paus yang bersejarah ini. Media Timur Tengah tidak cukup detail melaporkannya.

Dua tahun lalu Paus Francis juga ke Uni Emirat Arab. Paus berhasil menandatangani deklarasi damai dengan para tokoh Islam aliran Sunni dan Wahabi –termasuk Presiden Al Azhar dari Kairo.

Kini hal yang sama dilakukan Paus ke dunia Syiah –yang diikuti oleh 200 juta umat Islam di dunia.
Peta dunia memang sedang berubah. Ada yang membicarakan perdamaian di Timur Tengah. Ada juga yang membicarakan perang di Laut China Selatan. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

Kanan Dalam
Disway

Pengusaha Pilihan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang
Olahraga

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Editor Dilianto
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

INDOPOSCO.ID - Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya...

SelengkapnyaDetails
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30
Banjir Bandang Padang, Puan Desak Perlindungan Pengungsi hingga Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak

Andra Soni Lepas Atlet Disabilitas Banten ke Ajang Nasional: Kalian Inspirasi Kita Semua

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:55
Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:17

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    930 shares
    Share 372 Tweet 233
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Pengusaha Pilihan

    694 shares
    Share 278 Tweet 174
  • Elnusa Perkuat Produksi Migas, HWU EHR#10 Dukung Pembukaan Kembali Sumur Idle

    667 shares
    Share 267 Tweet 167
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.