• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Gaya Hidup

Ini Penyebab dan Solusi Konstipasi Anak

Redaksi Editor Redaksi
Sabtu, 6 Maret 2021 - 17:33
in Gaya Hidup
Ilustrasi. Foto: Instagram/@tokokamas.id

Ilustrasi. Foto: Instagram/@tokokamas.id

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Sembelit alias konstipasi juga terjadi pada anak-anak, ada yang disebabkan kelainan organ, ada punya yang disebabkan oleh masalah pada organ, kata pakar kesehatan anak Prof. Dr. Hanifah Oswari, Sp.A (K). Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengatakan, 95 persen kasus konstipasi disebabkan fungsi organ bermasalah, sisanya disebabkan oleh kelainan organ.

Dia menjelaskan empat gejala konstipasi yang bisa dialami bayi atau anak. Pertama, frekuensi buang air besar dua kali dalam seminggu, atau kurang dari itu.

BacaJuga:

Bikin Heboh! Kakak Jin BTS Muncul di YouTube, Netizen Korea Langsung Terbelah

Demi Istri atau Terlalu Protektif? Moon Heejun Akui Larang Soyul Gendong Bayi Selama 100 Hari

2 Aktor Ini Kembali Dipasangkan dalam Drama BL Bernuansa Hubungan Keluarga

“Apabila satu hari BAB, besoknya tidak, lalu besoknya BAB, itu masih normal,” kata Hanifah seperti dilansir Antara dalam diskusi daring Tentang Anak, Sabtu (6/3/2021).

Gejala kedua adalah feses keras dan rasa sakit ketika buang air besar, lalu cepirit satu kali dalam seminggu. Tanda lainnya adalah ada tanda-tanda anak menahan buang air besar, seperti feses terlalu besar sampai menyumbat WC karena anak sudah lama tidak mengeluarkan kotoran.

Dokter bisa memastikan gejala lainnya dengan memasukkan jari ke dalam dubur, anak bisa disebut konstipasi bila feses terasa besar dan keras.

Anak disebut mengalami konstipasi bila mengalami minimal dua gejala tersebut.

Hanifah mengatakan, dalam sepekan anak minimal harus buang air besar sebanyak tiga kali. “Kalau BAB 2 kali seminggu itu dikatakan konstipasi secara frekuensi.”

Pada bayi yang masih menyusui, frekuensi buang air besar yang sering dan tidak teratur yang jarang belum tentu konstipasi. Saat baru lahir dan mendapat ASI, bayi belum punya banyak enzim laktase di dalam ususnya. Padahal, ASI yang tinggi laktosa butuh enzim laktase agar bisa dicerna dan diserap tubuh.

“Karena enzim laktase pada bayi baru lahir itu kurang, jadi dia tidak bisa melakukan metabolism laktosa, akibatnya BAB-nya jadi sering, sehari bisa sepuluh kali, tapi dalam perkembangan bayi, bayi itu bertumbuh. Dia jadi mempunyai enzim laktasenya lebih banyak, bahkan kemudian bisa 2-3 hari tidak BAB, kadang bisa seminggu, bahkan sepuluh hari. Selama BAB nya tidak keras, itu bukan konstipasi.”

Konstipasi fungsional diduga diakibatkan rasa takut bayi atau anak yang trauma ketika merasa nyeri saat buang air besar akibat feses keras dan besar sehingga anusnya sakit. Rasa takut membuatnya menahan rasa ingin buang air, akhirnya feses menumpuk hingga terlalu banyak dan memicu rasa sakit berulang.

Kapan konstipasi terjadi?

Dia menjelaskan tiga waktu terjadinya konstipasi yang harus diwaspadai orangtua. Pertama, saat anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI, juga perubahan dari susu formula ke susu UHT di mana ada perubahan pola makanan cari ke makanan padat. Perubahan itu membuat kotorannya jadi keras, lalu anak akan merasa sakit ketika buang air besar.

Kedua, ketika anak belum siap berlatih buang air di tempatnya. Ketika orangtua mengajari anak untuk buang air sendiri di toilet, bukan di popok, anak yang belum siap akan menahan sehingga feses jadi keras, kemudian justru jadi takut karena merasa sakit.

Latihan buang air di WC biasanya mulai dilakukan ketika anak berusia 1-3 tahun. Ia mengingatkan kepada orangtua untuk tidak memaksa anak agar tidak terjadi trauma. Pertanda anak sudah bisa diajari toilet training adalah bisa menaikkan dan menurunkan celana sendiri dan tertarik untuk ke toilet.

Ketiga, ketika anak masuk sekolah. Berada di lingkungan yang baru, melihat kondisi toilet yang berbeda dari rumahnya, juga bisa berpotensi membuat anak mengalami sembelit. Konstipasi juga bisa terjadi karena anak menahan buang air bila tidak mau buang air di sekolah karena kondisi yang berbeda, atau karena toiletnya kotor.

“Orang tua harus observasi setiap hari apakah BAB anaknya lancar.”

Sebaiknya orangtua rutin memantau anak, atau bertanya apakah anak lancar buang air besar. Kemudian, berikan cairan serta serat yang cukup. Rumusnya adalah usia anak ditambah tiga gram. Untuk anak berusia tiga tahun, serat yang dibutuhkan adalah delapan gram.

Dia memaparkan, konstipasi tidak secara langsung berhubungan dengan nafsu makan anak. Tapi kotoran yang menumpuk di usus membuat anak merasa kenyang dan tidak nyaman saat makan. Si kecil juga bisa berpikir makan banyak akan membuat kotorannya banyak dan keras.

“Tiga hal tidak langsung tersebut membuat anak tidak nafsu makan bahkan tidak mau makan. Maka karena itu, beberapa anak yg mengalami konstipasi itu kurus, namun tidak semua. Waktu kita bereskan konstipasinya, makannya banyak, beratnya naik sendiri tanpa kita apa- apakan pada beratnya.”

Solusi

Secara sederhana, konstipasi disebabkan rasa takut anak untuk buang air karena fesesnya keras atau besar. Orangtua bisa membantu menghilangkan rasa takut dengan membuat feses anak jadi lunak. Selain memberi asupan cairan dan serat cukup, berikan obat pelunak feses secara teratur. Setelah rasa takut untuk buang air menghilang, anak mau buang hajat sendiri dan pada akhirnya terbebas dari obat pelunak feses, kemudian urusan membuang kotoran tidak lagi jadi mimpi buruk.

Dia mengingatkan, cairan dan serat yang cukup adalah langkah pencegahan untuk anak yang belum konstipasi. “Tapi pada saat anak sudah konstipasi, serat justru membuat fesesnya lebih keras. Jadi serat diberikan saat sudah diberikan obat pelunak feses supaya dia maintenance-nya bagus. Jadi timing itu penting.”

Dia menegaskan, pencegahan adalah hal terpenting. Bila semuanya belum berhasil, segera bawa anak ke dokter untuk mendapat obat pengurang nyeri saat BAB serta pelunak kotoran. Nantinya dokter akan memantau kondisi anak agar konstipasi tidak berkelanjutan.

Jika sudah dua bulan berlalu konstipasi belum terobati, pengobatan akan semakin lama.

“Kalau anak fesesnya sakit dan keras secepatnya diobati agar konstipasi tidak menjadi kronis. Karena kalau sudah kronis pengobatannya pasti lama.”

Orangtua memang bisa memberikan anak obat pencahar sebagai langkah pertama, tapi dia menyarankan sebaiknya semua dikonsultasikan dulu kepada dokter.

“Kalau mau coba satu-dua minggu silakan tapi jangan lebih lama dari itu, karena sebenarnya bukan bahayanya, tapi kita sedang berburu dengan waktu supaya waktu yg dua bulan itu jangan sampai lewat.” (bro)

 

Tags: kesehatanKonstipasi

Berita Terkait.

jin
Gaya Hidup

Bikin Heboh! Kakak Jin BTS Muncul di YouTube, Netizen Korea Langsung Terbelah

Kamis, 18 Juni 2026 - 06:06
moon
Gaya Hidup

Demi Istri atau Terlalu Protektif? Moon Heejun Akui Larang Soyul Gendong Bayi Selama 100 Hari

Kamis, 18 Juni 2026 - 05:27
an
Gaya Hidup

2 Aktor Ini Kembali Dipasangkan dalam Drama BL Bernuansa Hubungan Keluarga

Kamis, 18 Juni 2026 - 03:30
kpop
Gaya Hidup

Grammy Buka Kategori Musik Pop Asia, BTS dan BLACKPINK Berpeluang Pecah Telur

Kamis, 18 Juni 2026 - 02:20
suga
Gaya Hidup

Baru Dua Pekan Menghilang, Suga BTS Muncul Bak Binaragawan, ARMY Heboh

Kamis, 18 Juni 2026 - 01:11
lion
Gaya Hidup

2 Ribu Pelari Diajak Berlari Sambil Berdonasi untuk Masa Depan Anak Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 - 23:36

BERITA POPULER

  • Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    7131 shares
    Share 2852 Tweet 1783
  • Hantavirus Ramai Dibahas, Benarkah Bisa Jadi Pandemi Baru

    1776 shares
    Share 710 Tweet 444
  • Purbaya Siapkan APBN Hadapi Tantangan Global, Prioritas Nasional Tetap Jalan

    1044 shares
    Share 418 Tweet 261
  • Peringatan Dini BMKG, Jakarta Diguyur Hujan Merata Hari Ini

    994 shares
    Share 398 Tweet 249
  • Jadi Tulang Punggung Mobilitas Warga, Penyesuaian Tarif TransJakarta Dinilai Rasional

    1107 shares
    Share 443 Tweet 277
Debut Pahit Uzbekistan di Piala Dunia 2026, Cannavaro: Pemain Saya Kena Mental
Olahraga

Debut Pahit Uzbekistan di Piala Dunia 2026, Cannavaro: Pemain Saya Kena Mental

Editor Nasuha
Kamis, 18 Juni 2026 - 20:33

INDOPOSCO.ID - Timnas Kolombia berhasil meraih poin sempurna setelah menaklukkan Timnas Uzbekistan 3-1 dalam laga Grup K Piala Dunia 2026...

SelengkapnyaDetails
ronaldo

Piala Dunia: Ronaldo Buka Suara Usai ‘Menghilang’ di Laga Portugal vs Kongo

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:13
tuchel

Tuchel Ungkap Rahasia Inggris Bangkit dan Tekuk Kroasia 4-2

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:11
Ronaldo

Portugal Diimbangi Kongo, Roberto Martinez Soroti Tumpulnya Lini Serang

Kamis, 18 Juni 2026 - 09:40
Kane

Inggris Libas Kroasia, Ghana Tersenyum di Ujung Laga

Kamis, 18 Juni 2026 - 08:49
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.