• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Headline

Perubahan Status Pandemi Covid-19 ke Endemi Tidak Bisa Serta Merta Dilakukan

Redaksi Editor Redaksi
Minggu, 19 September 2021 - 12:41
in Headline
Anggota Komisi IX DPR RI, Rahmad Handoyo. Foto: Antara.

Anggota Komisi IX DPR RI, Rahmad Handoyo. Foto: Antara.

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Wacana yang disampaikan pemerintah terkait persiapan transisi perubahan status pandemi Covid-19 menjadi endemi tidak bisa secara serta merta dilakukan. Alasannya, situasi Covid-19 di dunia termasuk Indonesia saat ini masih belum bisa dikendalikan.

“Tetapi untuk menuju endemi itu, kita harus berjuang bersama-sama. Pandemi itu kan artinya penyakit itu tidak bisa diputus mata rantainya, tetapi secara sporadis di beberapa daerah bisa dikendalikan dan bisa ditangani,” ujar anggota Komisi IX DPR RI, Rahmad Handoyo, kepada Indoposco.id, Minggu (19/9/2021).

BacaJuga:

Ucapan Prabowo tentang Dolar Tuai Kecamam, Ini Kata Pengamat dan Ekonom

Financial Markets Turbulent, Government Moves to Stabilize Bond Market

Pasar Keuangan Bergejolak, Pemerintah Siapkan Langkah Stabilkan Obligasi

Rahmad mengatakan, untuk menuju pandemi ke endemi butuh proses dan kerja sama yang kuat dan secara nasional menekan kasus serendah mungkin serta secara konsisten menerapkan 5M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas).

“Konsisten terapkan protoktol kesehatan dan program vaksinasi sehingga secara nasional, kita turun drastis. Namun demikian, kita tidak bisa hidup berdampingan dengan Covid-19, karena kita belum bisa memutus mata rantai (Covid-19). Masih ada penularan-penularan. Kita belum bisa memutus (mata rantai Covid-19) secara keseluruhan. Itu perlu kerja sama semua pihak,” ujar Rahmad.

Menurut Rahmad, prasyarat untuk endemi itu adalah kasusnya sporadis masih terus berlangsung, meskipun kecil. Tetapi saat ini, kata Rahmad, belum bisa berubah ke endemi.

“Bukan berarti pandemi tiba-tiba berubah ke endemi. Ya, enggaklah. Justru kita berupaya mengingat, sudah berulangkali disampaikan bahwa kita akan terus berdampingan hidup dengan Covid-19 yang panjang dan Covid-19 tidak akan pernah hilang, dan itu kita akan menuju endemi. Endemi itu yah, sporadis terjadi di daerah-daerah tetapi secara nasional kita bisa kendalikan,” katanya.

Lebih lanjut Rahmad mengatakan, untuk menuju ke endemi dibutuhkan kerja sama dan menyiapkan ahli-ahli, laboratorium di masing-masing daerah melalui litbangkes-litbangkes (Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) untuk mengawasi dan mengontrol serta mengamati mutasi varian virus.

“Dan kita juga butuh kerja sama dengan epidemiolog, universitas-universitas untuk diberikan anggaran yang cukup, untuk memonitor berbagai daerah sehingga kita bisa menekan (mata rantai Covid-19). Dengan menekan rendah (Covid-19), kita bisa menuju endemi. Tetapi ingat, bukan berarti pandemi statusnya berubah endemi, bukan itu. Itulah situasi dan keadaan yang disebut pandemi dan endemi itu kan apa, gitu loh,” ujarnya.

Rahmad mengatakan, persiapan transisi dari pandemi ke endemi bukan soal anggaran.

“Kalau kita bisa menekan (kasus Covid-19) dengan baik, kerja sama yang kuat, turun (kasus Covid-19), kita menjadi endemi. Kasusnya tetap ada tetapi relatif bisa kita kendalikan, bukan berarti bahwa kita langsung berubah,” imbuhnya.

Untuk menuju ke sana (endemi), lanjut Rahmad, dibutuhkan kolaborasi, butuh komitmen semua masyarakat dan tokoh masyarakat dan menjalakan protokol kesehatan dan vaksinasi.

“Peluang meledaknya kasus Covid-19 di daerah akan kecil kalau kita menggunakan protokol kesehatan. Covid-19 memang tidak bisa hilang dan terus menjangkit. Makanya kita harus menggunakan protokol kesehatan. Tetapi levelnya, level lokal kita bisa kendalikan,” jelasnya.

Rahmad juga mengingkatkan bahwa belum ada negara di dunia yang mengalami penurunan kasus Covid-19 dan stabil dalam waktu yang lama.

“Jadi belum bisa dikatakan bahwa itu mengarah ke endemi. Selama itu, masih mengancam secara nasional, maka itu tetap pandemi. Untuk menuju endemi, kita harus bekerja sama lebih kuat untuk memberantas,” tegasnya.

Rahmad menjelaskan, endemi itu selalu ada tetapi relatif bisa dikendalikan. Ia mencontohkan penyakit demam berdarah dengue (DBD), selalu ada tetapi bisa dikendalikan.

Jadi, kata Rahmad, apa yang disampaikan pemerintah itu adalah wacana, agar masyarakat mempersiapkan diri untuk hidup berkepanjangan dengan Covid-19, karena mungkin kasus Covid-19 tidak akan pernah hilang seperti DBD tidak akan pernah hilang.

“Upaya yang kita lakukan adalah bagaimana Covid-19 bisa kita kendalikan. Kasus sporadis di daerah-daerah tetapi bisa dikendalikan,” pungkasnya. (dam)

Tags: endemipandemistatus pandemi Covid-19

Berita Terkait.

Ucapan Prabowo tentang Dolar Tuai Kecamam, Ini Kata Pengamat dan Ekonom
Headline

Ucapan Prabowo tentang Dolar Tuai Kecamam, Ini Kata Pengamat dan Ekonom

Senin, 18 Mei 2026 - 20:10
sahamm
Headline

Financial Markets Turbulent, Government Moves to Stabilize Bond Market

Senin, 18 Mei 2026 - 16:06
saham
Headline

Pasar Keuangan Bergejolak, Pemerintah Siapkan Langkah Stabilkan Obligasi

Senin, 18 Mei 2026 - 15:15
prabowo
Headline

Dudung Responds to Prabowo’s Remark That ‘Villagers Don’t Use Dollars’

Senin, 18 Mei 2026 - 15:05
bowo
Headline

Dudung Buka Suara Soal Ucapan Prabowo ‘Rakyat Desa Tak Pakai Dolar’

Senin, 18 Mei 2026 - 14:55
uang
Headline

Rupiah Dibuka Melemah, Pernyataan Nyeleneh Prabowo Dinilai Picu Kekhawatiran Pasar

Senin, 18 Mei 2026 - 13:18

BERITA POPULER

  • kai

    Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus: Lebih dari 504 Ribu Tiket Kereta Api Ludes

    2577 shares
    Share 1031 Tweet 644
  • Prakiraan Cuaca di Jakarta, Waspadai Potensi Hujan di Jaksel dan Jaktim Hari Ini

    1237 shares
    Share 495 Tweet 309
  • Didominasi Berawan, Waspadai Potensi Hujan di Sebagian Wilayah Jaksel dan Jaktim

    905 shares
    Share 362 Tweet 226
  • IPA Convex 2026, Momentum Besar Industri Migas Menjawab Ancaman Krisis Energi

    809 shares
    Share 324 Tweet 202
  • Diduga Terlibat Kasus Narkoba, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Polda Kaltim

    802 shares
    Share 321 Tweet 201
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.