Nusantara

Melalui Senso, Pembalak Liar di Kalbar Menjadi Tobat

INDOPOSCO.ID – Pagi itu, Agus Novianto bersama Irvan sudah bersiap-siap di Klinik Asri. Keduanya adalah staf di Klinik Asri, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar). Tujuan mereka hari itu adalah mengambil gergaji mesin di rumah seorang warga, mantan pembalak liar di Sukadana. Agus pun memacu sepeda motornya menuju rumah Sukindar, mantan pembalak liar yang dimaksud. Roni Eka Satria, Polisi Kehutanan Resort Pengelolaan Taman Nasional Tanjung Gunung (TNTG), menemani dari belakang.

Di rumah sederhana di Desa Pangkalan Buton, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara itu Sukindar telah menunggu. Dia mempersilakan Agus, Irvan, dan Roni masuk. Agus yang merupakan Penanggung jawab Program UMKM di Klinik Asri bermaksud mengambil chainsaw yang dimiliki Sukindar. Warga setempat biasa menyebut gergaji mesin itu dengan sebutan ‘senso’. ”Nanti setelah chainsaw saya ambil, Pak Sukindar tidak boleh bekerja menebang kayu lagi,” kata Agus kepada Sukindar yang berada di sebelahnya.

Sukindar sudah bekerja sebagai penebang kayu sejak 20 tahun lalu. Banyak tempat telah dia datangi untuk mendapatkan kayu. Berbekal satu mesin chainsaw, sudah ribuan batang kayu telah dia potong. Setelah tidak lagi menjadi penebang kayu pun chainsaw itu tetap digunakan dengan cara disewakan. “Setelah tidak kerja jadi penyingso (logger) saya sewakan senso (chainsaw) kepada kenalan yang memerlukan,” katanya.

Chainsaw itu disewakan dengan tarif Rp700 ribu per bulan. Biasanya penyewa datang ke rumahnya dan langsung membawa chainsaw itu ke hutan. Lokasi penebangan pun berbeda-beda.

Hari itu, setelah menandatangi surat pernyataan, chainsaw milik Sukindar tidak boleh lagi digunakan dan akan dibawa ke Klinik Asri. Sebelum dibawa, chainsaw itu dihidupkan oleh Sukindar untuk mengecek bahwa chainsaw itu masih berfungsi atau tidak.

Klinik Asri bukanlah menyita chainsaw itu seperti halnya dalam operasi razia. Mereka malah memberikan ganti rugi berupa uang, sebagai imbalan bagi para logger yang mau menyerahkan chainsaw-nya, dan berjanji untuk tidak menjadi logger lagi. Chainsaw milik Sukindar diganti seharga Rp3 juta. Sukindar akan diberi tambahan senilai Rp4 juta sebagai modal usaha. Jadi total yang diperolehnya Rp7 juta. Dengan modal itu, Sukindar diharapkan bisa hidup mandiri tanpa menjadi pembalak liar lagi.

Sukindar mengatakan, akan fokus menjadi seorang tukang bangunan. Klinik Asri akan memberinya uang modal untuk mendukung pekerjaan sebagai tukang bangunan. ”Klinik tidak memberikan uang tunai, melainkan berupa bahan atau barang untuk mendukung usaha. Ini supaya uangnya tidak disalahgunakan, misalnya untuk membeli chainsaw baru,” kata Agus.

Agus Novianto, koordinator UMKM Klinik Asri menjelaskan, program Chainsaw Buyback dimulai pada Januari 2017. Tujuan program ini adalah menawarkan solusi yang memungkinkan penebang liar untuk berhenti dari pekerjaannya dan beralih profesi ke mata pencaharian lain yang sesuai dengan keterampilannya. Tujuan lain adalah menyejahterakan mantan penebang liar untuk merintis usaha baru dengan proses pendampingan dari Klinik Asri.

Hingga April 2021, sudah ada 202 gergaji mesin yang diserahkan kepada Klinik Asri. Untuk 2021 ini, target gergaji mesin yang diserahkan sekitar 40 buah. ”Pada 2020 lalu memang penyerahan senso atau gergaji mesin sangat kurang dikarenakan kondisi Covid-19. Jadi kegiatan tersebut tidak aktif dilaksanakan karena terbatasnya aktivitas,” kata Agus.

Ia menjelaskan, penebang liar yang dibina saat ini berjumlah 63 orang. Mereka sebelumnya penebang liar aktif. Saat ini, mereka sudah beralih profesi mengikuti program UMKM ke bidang peternakan, pertanian, perdagangan. Usaha yang paling banyak dilakoni adalah membuka toko sembako, pedagang sayuran keliling, ternak ayam, dan menanam padi. ”Sudah ada sembilan orang mitra yang menyelesaikan pinjaman uangnya kepada Klinik Asri dan kita anggap mereka sudah mandiri,” ujarnya.

Agus tidak memungkiri ada sekitar tiga hingga lima persen dari yang sudah menyerahkan senso, namun kembali lagi ke hutan untuk menebang pohon. Tingginya permintaan kayu olahan memang masih menggiurkan. ”Mereka masih curi-curi menebang kayu. Kalau kita tanya mereka tidak mengakui,” katanya.

Bagi penebang pasif, gergaji mesin mereka dibeli Klinik Asri dengan harga Rp3 juta. Sedangkan penebang aktif Rp4 juta. Pengembalian uang pinjaman tanpa bunga, tanpa jaminan, dan tanpa jangka waktu. ”Apabila mereka bisa melunasi pinjamannya dalam waktu dua tahun, mereka bisa mengajukan pinjaman kembali,” jelasnya.

Untuk memastikan dana modal pinjaman usaha tidak dipakai untuk kegiatan yang lain, Klinik Asri tidak memberikan dana tunai, melainkan belanja bahan untuk kebutuhan usaha bersama dengan mitra.

Awal mula menjalankan program Chainsaw Buyback memang kurang mendapat respon yang baik dari sejumlah logger. Namun melalui pendekatan yang lebih persuasif bersama petugas Taman Nasional Gunung Palung dan dibantu Sahabat Hutan (Sahut) yang merupakan kelompok bentukan Klinik Asri, upaya ini perlahan membuahkan hasil.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button