Gaya Hidup

Glaukoma Masih Jadi Ancaman Serius di Indonesia

INDOPOSCO.ID – Penderita glaukoma membutuhkan penanganan berkesinambungan secara disiplin. Bila tidak, glaukoma berpotensi menyempitkan lapang pandang mata sehingga penderitanya hanya bisa melihat objek seolah dari lubang kunci. Bahkan, sampai buta total, tanpa bisa disembuhkan.

Di tengah pandemi Covid-19, kebutuhan pemeriksaan berkala tersebut tentunya menjadi tantangan bagi penderita glaukoma. Sehubungan dengan situasi itu, serta untuk memperingati World Glaucoma Week 2021 (7-13 Maret 2021), eye care leader, JEC Eye Hospitals and Clinics, menggagas rangkaian kegiatan guna meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya glaukoma yang masih mengancam, termasuk anjuran penanganannya selama pandemi COVID-19.

Selain webinar untuk publik dan promo layanan glaukoma, JEC juga menggelar JEC Eye Talks, yakni sesi diskusi seputar kesehatan mata yang melibatkan dokter ahli JEC dan para media di Indonesia; berlangsung perdana hari ini.

Berita Terkait

“Penanganan glaukoma tanpa pemeriksaan teratur pada dasarnya berbahaya. Kami mengkhawatirkan pasien yang belum bisa melanjutkan pemeriksaan, terutama mereka yang kondisi glaukomanya tergolong progresif,” tutur Dokter Subspesialis Glaukoma, dan Ketua Layanan Glaukoma JEC Eye Hospitals & Clinics, Prof. DR. dr. Widya Artini Wiyogo, Sp.M(K).

Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menyatakan, sebelum pandemi, pada pasien yang berkunjung rutin pun masih didapati adanya peningkatan tekanan bola mata atau kerusakan saraf optik. “Mengingat glaukoma bisa asimtomatik, sangat mungkin penderita tidak menyadari terjadinya penurunan fungsi penglihatan mereka. Artinya, menunda-nunda pemeriksaan berkala dalam jangka waktu yang panjang bisa memperburuk glaukoma mereka. Ingat, kerusakan saraf mata karena glaukoma tidak dapat disembuhkan, dan kebutaan akibat penyakit ini berlangsung permanen,” papar Widya.

Sementara Dokter Subspesialis Glaukoma JEC, Dr. Iwan Soebijantoro, SpM(K) menuturkan, glaukoma menjadi penyebab utama kebutaan di seluruh dunia; tertinggi kedua setelah katarak. Bersifat kronis, glaukoma memberi dampak sangat besar terhadap kualitas hidup penyandangnya. Mulai perasaan cemas sampai depresi karena adanya risiko kebutaan, aktivitas sehari-hari penderita juga mengalami keterbatasan lantaran lapang pandang mereka terganggu. Kehidupan sosial pun terkendala karena hilangnya penglihatan yang berangsur-angsur, serta harus bergantung kepada orang lain sehingga produktivitas penderita pun menurun.

“Sayangnya, situasi glaukoma di Indonesia masih memprihatinkan lantaran penderita seringkali baru mencari pengobatan ketika sudah pada stadium lanjut. Karenanya, penatalaksanaan glaukoma sedini mungkin melalui pemeriksaan berkelanjutan dan pengawasan dokter ahli secara konstan sangatlah penting. Tak terkecuali, saat pandemi Covid-19. Tujuannya, agar progresivitas penyakit ini dapat dikontrol dan kerusakan saraf mata bisa diperlambat sehingga kebutaan pun tercegah,” jelas Iwan Soebijantoro.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button