Disway

Tuhan Matahari

INDOPOSCO.ID – Harga saham Tesla naik drastis lagi –itu Anda sudah tahu. Serangan Rusia ke Ukraina bisa juga membantu Amerika: mobil listrik kian laris. Akibat harga bensin terganggu. Dulu terganggu Arab Saudi. Kini, penganggunya Rusia.

Penyebab lain: pabrik Tesla yang di Jerman sudah mulai berproduksi. Tiga hari lalu. Elon Musk sampai joget kesenangan. Yakni saat ia menyerahkan 30 kunci pertama ke konsumen di Eropa.

Elon Musk seperti main satire ketika memilih lokasi pabrik itu: di Gruenheide, sebelah timur Berlin. Ia tanam modal sampai sekitar Rp75 triliun untuk Tesla di situ. Itulah daerah yang dulu sangat dikenal sebagai basis tambang batu bara nan kotor di Jerman. Lalu ia bangun industri energi bersih situ.

Berita Terkait

Sentimen green energi, di Eropa, memang paling tinggi di dunia. Dasarnya: kesadaran memperbaiki iklim. Eropalah yang memulai industrialisasi –dan mencemari lingkungan. Eropa pula yang kini memulai perbaikannya –setelah mereka sejahtera.

Maka Tesla bisa segera mengejar VW –mobil listrik terlaris di Eropa saat ini. Produksi Tesla di Berlin itu 500.000 per tahun.

Selama ini, tanpa punya pabrik di Eropa, Tesla sudah mencapai 13 persen pangsa mobil listrik di Eropa –didatangkan dari Amerika atau dari pabriknya yang di Shanghai, Tiongkok.

Bayangkan setelah Tesla punya pabrik sendiri di Jerman. Tesla ibarat masuk ke kandang macan –dan minta menang.

Memang Elon Musk sering mengeluh. Begitu banyak hambatan yang ia hadapi di Jerman. Sampai pun ada demo yang mengkhawatirkan pabrik itu akan memakan air terlalu banyak mungkin yang untuk pendingin di pabrik baterainya.

Akhirnya pabrik itu baru jadi setelah dua tahun. Memang tidak mungkin bisa secepat ketika Tesla membangun pabrik di Tiongkok: hanya satu tahun! Padahal itu bukan sembarang pabrik. Itu giga factory –pabrik ukuran raksasa bengkak.

Pabrik Tesla pertama di California. Lalu di Shanghai. Yang ketiga ini di Jerman. Berikutnya lagi di Texas –sedang dibangun. Di luar itu masih punya banyak pabrik suku cadang –termasuk pabrik baterai seluas 1 juta hektare di Reno, Nevada utara.

Rusia sendiri masih terus melawan dunia. Setelah migasnya (minyak gas) diboikot negara-negara Barat, justru Rusia menyerang balik: negara yang tidak bersahabat dengannya harus membeli migas Rusia dengan mata uang rubel.

Rusia tahu: 40 persen keperluan migas Eropa datang dari Rusia –cukup lewat pipa. Sedang dari Timur Tengah harus diangkut dengan kapal.

Maka Eropa bertekad segera pindah ke green energi –dan Tesla dapat momentum serangan Rusia. Apalagi Tesla juga sudah membuktikan: power bank skala raksasanya sudah ada yang jadi. Yakni yang di Moss Landing, di California. Besarnya 182,5 MW.

Power bank itu bisa untuk melistriki rumah sebanyak 136.000 rumah –ukuran Amerika. Atau bisa untuk setengah juta rumah di kota tertentu di Indonesia.

Tentu untuk kapasitas sebesar itu power bank-nya tidak hanya satu. Di dekat Pantai Moss Landing itu –sekitar 3 jam berkendara dari San Francisco ke arah selatan– Tesla membangun 256 buah power bank raksasa. Si Raksasa dijejer-jejer di satu hamparan tanah luas. Saling dihubungkan.

Siang hari, di kala matahari bersinar terang, power bank itu menyimpan listrik dari solar cell. Malam hari, ketika matahari telah pergi, listrik dari power bank itu yang berfungsi.

Tentu melistriki rumah dengan cara ini sangat mahal. Sekarang ini. Tapi bagi negara maju kata ”mahal” itu masih tetap terbeli –dikaitkan dengan pendapatan mereka.

Dan Tesla bukan satu-satunya yang membuat power bank raksasa seperti itu. Sudah banyak. Pun yang lebih besar.

Seperti juga mobil listrik, yang penting ada wujudnya dulu. Bukan hanya sebatas wacana. Dan mereka membuktikan itu. Dari sini bisa dihitung bagaimana menyeimbangkannya –dan menurunkan harganya.

Sepuluh tahun lalu, membicarakan hal seperti ini masih seperti mimpi. Kini mereka seperti sedang lomba lari: untuk menjadi yang terdepan dan terbesar.

Batubara itu pemberian Tuhan –lewat bumi. Tenaga surya juga pemberian Tuhan –lewat matahari. Otak manusia juga pemberian Tuhan –asal mau memakainya. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Komentar Pembaca Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Minyak Belut

Budi

Menurut saya (karyawan di perkebunan sawit), pengusaha minyak goreng (curah) tanpa kebun akan rugi, karena harga beli bahan baku (tandan buah sawit-tbs) telah naik lebih 2 kali lipat. sebagai pembanding sebelum era COVID-19 harga tbs sekitar Rp 1500/kg, sekarang sudah sekitar Rp 3500/kg. Jika mengikuti harga internasional harganya bisa mendekati Rp 4000/kg. Jika pabrik minyak goreng punya kebun sendiri, dimana bahan baku dihasilkan dikebun sendiri, maka ongkos produksi bahan baku memang naik (misal tahun 2022 ini harga pupuk naik sekitar 2 kali lipat, BBM non subsidi naik), pungutan pajak ekspor (levy) juga naik seiring naik nya harga CPO dunia, dll. Secara keseluruhan memang pabrik minyak goreng (premium) dengan kebun sendiri ini mengalami kenaikan keuntungan. Namun memang mereka adalah perusahaan yang salah satu tujuan utamanya meningkatkan kesejahteraan pemegang saham dengan mengikuti aturan yg berlaku. hingga saat ini tidak ada aturan yang dilanggar untuk mendapatkan keuntungan yang besar, (kecuali norma sosial, berupa kelangkaan minyak goreng di negara penghasil minyak goreng). Secara umum perusahaan sawit menyetor uang ke negara (pajak) lebih banyak pada thn 2021 dan 2022 ini dibanding thn 2020, dari pph badan dan penghasilan karyawan, serta kutipan pajak ekspor,dll. contoh, perusahaan saya bekerja biasa setiap tahun hanya membayar pajak pph badan sekitar Rp 100 M, karena keuntungan thn 2021 naik, maka pajak yg dibayarkan sekitar Rp 250 M. Saya memahami dilema pemerintah dalam menangani masalah ini. pemerintah butuh investor, investor tidak akan mau invest jika tidak melihat ada peluang keuntungan. Untuk menghindari hal seperti ini berulang, sebaiknya kita memberikan pemahaman kepada anak, cucu, teman, dll agar juga punya pemikiran sebagai investor. tidak terlalu berharap banyak (subsidi) dari pemerintah. mari perhatikan sejarah mereka (investor) memulai usaha tersebut, ternyata investor asing sudah mulai berusaha di wilayah indonesia ini sejak 1906, sebelum indonesia merdeka. mereka rela meninggalkan negaranya (eropa) yg sudah lebih maju untuk sesuatu yg mereka anggap sangat penting. pantun lama, berakit rakit ke hulu berenang renang ke tepian. maaf jadi kelewatan.

Babang Tamvan

Kemana Opung? Biasanya beliau selalu ada disaat krisis. Semoga beliau hadir juga di Minyak Goreng ini. Bantulah Pak Mendag..

Iqbal Lombok

Atau jangan-jangan ; Tali Rafia Tali SepatuSesama Mafia Jangan saling Ganggu itu saja

Er Gham

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button