Disway

Cengkok Oye!

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Rumah sakit (RS) untuk Pak Mantep sebenarnya sudah oye! Jumat (2/7/2021) pagi RS di Karanganyar, Jawa Tengah sudah siap merawat dalang terkemuka dari itu. Terlambat. Belum lagi disiapkan untuk berangkat, Ki Mantep Sudarsosno meninggal dunia. Jenazah dimakamkan saat itu juga. Di pemakaman Covid-19.
Di mana beliau terkena Covid?

Tentu misterius. Tapi Jumat pekan lalu Pak Mantep masih makan sop iga di Solo. Lalu berangkat naik mobil ke Jakarta: mobil Alphard warna hitam. Enam orang ada di mobil itu. Termasuk Bu Mantep.

Berita Terkait

Keesokan harinya Pak Mantep latihan. Lengkap bersama timnya dari Solo. Seperti pentas beneran. Mulai jam 11.00 WIB sampai jam 21.00 WIB.
Di tempat latihan itulah pentas sebenarnya dilakukan besok malamnya: di Gedung Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Gedung utama di situ. Dengan AC sentral yang sangat dingin.

Pak Mantep pentas bukan di lapangan terbuka. Pak Mantep sempat merasa kedinginan.
Lakon malam itu adalah Bharatayuda spesial. Disebut spesial karena mulai adegan Durno Gugur sampai Duryudhono tewas.

“Lakon itu biasanya dioenggal menjadi 12 atau 13 lakon,” ujar Jungkung Setyo Utomo, 30 tahun, keponakan Pak Mantep. Jungkung adalah lulusan S-1 Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Ia juga bertugas sebagai admin live streaming Pak Mantep.

Menurut Jungkung, sampai sekarang sudah sekitar 50 lakon yang diunggah ke YouTube. Dengan penonton paling banyak 20.000-an.
Jungkung juga ikut ke Jakarta. Ia berada dalam satu Alphard dengan Pak Mantep dan istri.

Pentas itu selesai jam 03.00 WIB. Langsung kembali ke Karanganyar. Naik mobil yang sama. Dengan penumpang yang sama. Cepat sekali. Jam 10.00 WIB sudah tiba di Karanganyar.
Sejak itu Pak Mantep tidak lagi oye. Sesak napas. Badan meriang.

Tapi masih ada satu pentas lagi. Di rumahnya sendiri di Karangpandan, Karanganyar. Di pendapanya yang luas. Dengan lakon Srikandi Senopati. Itulah pentas tanpa menonton. Pentas live streaming. Untuk penggemar Pak Mantep yang ratusan ribu di seantero Indonesia.

“Saya tidak ikut di pentas live streaming itu. Saya sendiri live streaming dari rumah saya di Sragen”, ujar Medhot Sudarsosno, anak sulung Pak Mantep.
Saya telepon Medhot kemarin sore. Saya mengucapkan duka cita. Juga wawancara untuk tulisan ini.

Medhot adalah anak tunggal dari istri yang pertama. “Bapak saya kan kawin delapan kali. Saya punya lima adik dari istri-istri berikutnya,” ujar Medhot.
Meski Medhot tinggal di Sragen, tapi Sragen yang paling Selatan. Beda kabupaten, tapi secara geografis tidak jauh dari Karangpandan. Hanya 20 Km.

Setelah live streaming itu kondisi Pak Mantep terus menurun. Melihat kondisi Covid yang gawat Pak Mantep pilih dirawat di rumah. “Pak Untung Wiyono yang minta bapak dan ibu di-swab. Lalu dikirim petugas. Ternyata positif Covid,” ujar Medhot. Untung adalah Bupati Sragen yang sangat terkenal prestasi pembangunannya. Medhot bersahabat dengannya.

Pada Kamis (1/7/2021) sejumlah tabung oksigen didatangkan ke rumah. Habis tiga tabung. Tapi kondisi kesehatan Pak Mantep terus memburuk. Akhirnya dicarikan RS sampai dapat. Telat.

Di usia Pak Mantep yang 74 tahun sabetannya –adegan perang yang dimainkannya– masih mengesankan. Di sabetan itulah keunggulan Pak Mantep. Wayang dibuatnya bisa jungkir balik dengan sempurna dan lincahnya.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button