Disway

Tinggal Tunggu Bank

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Para ekonom Indonesia menunggu datangnya pada 5 Mei 2021. Empat hari lagi. Di tanggal itulah diumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan pertama 2021.
Sudah tumbuhkah ekonomi Indonesia? Atau masih tetap negatif seperti triwulan 2,3, dan empat tahun lalu?

Lima ekonom yang hadir di Zoominar Narasi Institute kemarin (30/4/2021) sore punya penilaian yang sama: masih akan negatif. Achmad Nur Hidayat, pimpinan Narasi yang menjadi moderator, membuat semua pembicara adu data yang detail.

Berita Terkait

Mengapa mereka masih begitu pesimistis? “Indikasinya jelas. Pertumbuhan kredit bank masih negatif,” ujar Dr Umar Juoro, staf ahli Menko Perekonomian. “Indikasi lain, konsumsi listrik belum naik sampai akhir Maret 2021,” tambahnya.

Dr Piter Abdullah yang selalu berpandangan optimistis, juga melihat masih akan negatif. Hanya saja negatifnya tidak sampai satu persen.
Beda dengan Prof Anthony Budiawan yang memang sejak lama sudah menghitung akan negatif. Demikian juga ekonom DPR dari Golkar Muhamad Misbakhun.

Tapi Juoro juga melihat mungkin ekonomi mulai tumbuh di triwulan kedua. Yang dimulai pada April 2021 ini. Konsumsi listrik, misalnya, mulai naik sedikit. “Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan tumbuh, tapi seberapa cepat kita akan tumbuh,” ujar Juoro.

Tidak ada di antara ekonom itu yang melihat kita akan tumbuh cepat. Tidak ada yang sampai melebihi optimisme pemerintah. Yang menargetkan tumbuh antara lima sampai tujuh persen.

“Maksimum lima persen,” ujar Piter. Itu pun tidak bisa dilihat sebagai lonjakan. Tumbuh lima persen itu dibanding dengan kondisi tahun lalu yang minus. Bukan dibandingkan dengan ekonomi yang sudah baik.

Tapi bagi Anthony, tumbuh lima persen itu ilusi atau mimpi. “Sekarang ini sudah krisis fiskal,” ujar Anthony. Buktinya Bank Indonesia sudah membeli surat utang sampai Rp600 triliun. Persyaratan untuk bisa tumbuh lima persen tidak ada sama sekali.

“Tahun ini ekonomi kita hanya akan tumbuh 0,5 persen saja. Maksimum dua persen,” ujar Anthony.
Atau, dalam istilah Misbakhun, tidak terlihat lagi instrumen yang baru yang bisa membuat lonjakan. “Daya tahan pemerintah sudah kelihatan menurun,” kata Misbakhun.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button