Disway

Naik Lagi

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.IDHa ha ha… D-dimer saya ternyata naik lagi.
Itulah hasil tes darah saya kemarin. Naik dari 1.300 menjadi 1.400. Dalam waktu satu minggu.

Itu berarti tidak normal: masih terjadi penggumpalan darah di darah saya. Angka itu harusnya maksimum 500.
Berita baiknya: fungsi liver saya sudah kembali normal. Saat terkena Covid-19 bulan lalu fungsi liver saya terganggu: SGOT/SGPT-nya sampai 160/100. Padahal maksimum hanya boleh 33/50.

Berita Terkait

Gangguan fungsi liver itu sudah hilang. Hasil tes darah kemarin SGOT/SGPT-nya luar biasa bagus: 21/29. Mungkin lebih bagus dari liver Anda.

Tapi D-dimer-nya itu lho. Kok tidak turun-turun. Bahkan naik lagi sedikit. Padahal hasil tes darah lainnya semuanya sudah bagus.

Perlukan saya masuk rumah sakit? Untuk menormalkannya? Misalnya, dengan jalan diinfus?
“Dari pandangan saya tidak perlu,” ujar dokter Jefrey Daniel Adipranoto, anggota tim dokter Covid yang menangani saya itu. “Kalau pun bisa diinfus, kalau infusnya habis akan kembali tinggi lagi,” tambahnya.

“Dosis obatnya saja yang kita naikkan. Dari 15 mg ke 20 mg,” tambahnya. “Kita lihat satu minggu lagi,” katanya.
Itulah obat Xarelto. Pengencer gumpalan darah.

Sejak Covid saya negatif, yakni sejak keluar dari RS, saya memang dibekali pil itu. Satu hari ditelan satu kali. Malam hari. Waktu opname karena Covid, obatnya disuntikkan lewat kulit perut, sehari dua kali. Itulah yang berhasil menurunkan D-dimer saya dari 2.600 ke 1.100. Tiga hari setelah di rumah naik jadi 1.300. Seminggu berikutnya, kemarin, naik jadi 1.400 itu.

Maka akan saya coba lagi satu minggu lagi. Dengan dosis baru. Kalau pun tidak berhasil belum tahu harus bagaimana.

Pernah muncul pertanyaan pribadi seperti ini: jangan-jangan D-dimer saya sudah tinggi sejak sebelum terkena Covid. Itu yang saya tidak punya angka pembanding. Seumur hidup belum pernah tes D-dimer.

“Jangan-jangan semua orang yang dipasangi ring di saluran darahnya, punya kecenderungan D-dimer-nya tinggi,” kata saya dalam hati.

Sayangnya saya tidak punya angka pembanding. Seumur-umur belum pernah tes D-dimer.
Memang test D-dimer ini baru populer setelah ada Covid. Bahkan baru akhir-akhir ini saja. Seperti juga tes vitamin D. Yang sebelum ada Covid selalu kita abaikan.

Saya tidak pernah tahu kalau level vitamin D itu paling rendah harus 40. Atau 35. Padahal, umumnya orang Indonesia, –biar pun di negara tropis– kekurangan vitamin D. Waktu kena Covid bulan lalu, vitamin D saya hanya 23,4. Bahkan anak saya yang tidak tertular Covid, Vitamin D-nya hanya 16.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button