INDOPOSCO.ID — Penguatan aliansi minyak sawit dan sertifikasi keberlanjutan menjadi salah satu agenda strategis International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExPO) 2026. Langkah itu diarahkan untuk memperkuat posisi minyak sawit Indonesia di pasar global sekaligus mendorong pengembangan industri perkebunan.
Melalui forum yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut, pemerintah juga mendorong penguatan hilirisasi, riset, teknologi, dan inovasi untuk mengoptimalkan potensi tiga komoditas unggulan nasional, yakni kelapa sawit, kakao, dan kelapa.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengungkapkan, pemerintah telah memperluas mandat BPDP yang sebelumnya berfokus pada kelapa sawit untuk turut mengampu komoditas kakao dan kelapa. Kebijakan tersebut memiliki landasan hukum melalui Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024.
Menurut Dradjad, perluasan mandat BPDP merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi agribisnis nasional sekaligus memastikan manfaat pengelolaan sumber daya perkebunan dirasakan langsung oleh petani.
“Pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah bahwa ketahanan ekonomi nasional harus berujung pada kesejahteraan petani,” kata Dradjad di Jakarta dikutip Minggu (8/11/2026).
Dukungan BPDP bagi kakao dan kelapa mencakup peremajaan kebun (replanting), peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana hulu, penguatan kelembagaan petani, serta pendampingan teknis. Dengan demikian, pengembangan komoditas perkebunan diharapkan berlangsung secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Pemerintah juga memperkuat transparansi perdagangan komoditas strategis melalui integrasi ekspor satu pintu Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2026 yang berlaku sejak 1 Juni 2026.
Dari sisi keberlanjutan, pemerintah mendorong penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), penguatan sistem ketertelusuran (traceability), dan pemetaan lahan perkebunan. Upaya tersebut penting untuk meningkatkan penerimaan pasar global terhadap produk perkebunan Indonesia.
Sementara itu, hilirisasi terus dipacu melalui pelaksanaan mandatori biodiesel B50 sejak Juli 2026. Untuk komoditas kakao dan kelapa, pengembangan industri diarahkan pada modernisasi infrastruktur pascapanen, digitalisasi rantai pasok, serta perluasan ekspor produk turunan bernilai tambah tinggi.
Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet menekankan pentingnya riset, teknologi, dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas perkebunan nasional. “Teknologi dan inovasi harus mengubah keunggulan itu semuanya untuk bisa menjadi keunggulan yang kompetitif,” ucap Alim dalam kesempatan yang sama.(dan)



















