INDOPOSCO.ID – PT Pertamina (Persero) membuka peluang pasar yang lebih luas bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaannya dengan berpartisipasi dalam pameran SIAL (Salon International de l’Alimentation) Food & Drinks Indonesia 2026. Untuk pertama kalinya, Pertamina mengikutsertakan delapan UMKM unggulan dalam ajang industri makanan dan minuman yang berlangsung pada 4-6 November 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.
Keikutsertaan ini menjadi langkah Pertamina mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli, pemasok, distributor, hingga mitra bisnis dari dalam dan luar negeri. Melalui pameran tersebut, UMKM binaan diharapkan dapat memperluas jaringan pemasaran sekaligus membuka peluang kerja sama bisnis antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B).
Melalui program Small Medium Enterprise Partnership Program (SMEPP), Pertamina mengkurasi delapan UMKM dari ribuan mitra binaan di berbagai daerah. Proses seleksi mempertimbangkan keunggulan produk dan kapasitas produksi agar peserta yang terpilih memiliki kesiapan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan menjalin kemitraan bisnis.
Manager SMEPP PT Pertamina (Persero), Fety, mengatakan delapan UMKM yang dibawa ke SIAL 2026 merupakan usaha terpilih yang dinilai memiliki potensi untuk berkembang melalui jaringan bisnis yang lebih luas.
“Kami membawa 8 UMKM pilihan yang kami kurasi dari ribuan UMKM binaan kami, karena kami melihat mereka memiliki potensi kuat, baik dari sisi kapasitas produksi maupun keunggulan produknya, sehingga siap menjalin kerja sama bisnis ke bisnis (B2B),” ucapnya.
Untuk meningkatkan kesiapan peserta, Pertamina juga memberikan pembekalan sebelum pameran. Materi yang diberikan mencakup komunikasi bisnis, teknik mempresentasikan keunggulan produk, hingga strategi negosiasi. Selain itu, sertifikasi dan kelengkapan legalitas produk menjadi perhatian penting untuk membangun kepercayaan calon pembeli.
Fety menambahkan, keberhasilan menjalin kemitraan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga konsistensi mutu dan kemampuan memenuhi pesanan sesuai waktu yang disepakati. Hal tersebut menjadi modal penting bagi UMKM untuk membangun hubungan bisnis jangka panjang.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan partisipasi dalam SIAL 2026 merupakan kesempatan bagi UMKM binaan untuk bertemu langsung dengan calon pembeli yang sesuai dengan karakteristik dan kapasitas produksinya.
“Kami ingin mempertemukan UMKM binaan dengan calon pembeli yang sesuai dengan produk dan kapasitas mereka. Harapannya, pertemuan ini dapat berlanjut menjadi kerja sama dan pesanan berulang. Ketika pasar UMKM tumbuh, manfaatnya juga bisa dirasakan oleh masyarakat yang terlibat dalam proses produksi di daerah,” ujar Baron, Kamis (5/11/2026).
Delapan UMKM yang mengikuti pameran tersebut adalah Naza De Coco, Roemah Rempah, Dapur Sehati, Natural Bali Kulkul, Dede Satoe, Alzavera, Bali Taru Rahayu, dan Legend Tren. Masing-masing membawa produk unggulan untuk diperkenalkan kepada calon pembeli sekaligus menjajaki peluang kerja sama dengan jaringan bisnis nasional maupun internasional.
Salah satu peserta, Bali Taru Rahayu asal Denpasar, Bali, merupakan mitra binaan Pertamina sejak 2020. Usaha yang didirikan Ni Wayan Sudanti ini mengolah beragam buah tropis Indonesia menjadi produk selai dengan kandungan buah lebih dari 65 persen. Dari sekitar 20 varian yang dikembangkan, produk selai mangga, serai, dan jahe bahkan telah digunakan oleh sejumlah hotel bintang lima di Bali.
Melalui SIAL 2026, Sudanti berharap produknya makin dikenal oleh para chef dan membuka peluang kerja sama dengan hotel, restoran, serta penyedia katering maskapai penerbangan.
Kisah menarik lainnya datang dari Naza De Coco asal Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. UMKM yang dirintis Enok Sri Kurniasih tersebut mengolah air kelapa menjadi nata de coco dengan kapasitas produksi mencapai 20 ton per minggu. Sekitar 90 persen pemasarannya berasal dari segmen B2B, terutama untuk memenuhi kebutuhan pelanggan industri.
“Kami UMKM dari desa, tapi dengan dibantu Pertamina pasar kami terbuka tanpa batas. Kami banyak belajar bisnis plan, bisnis canvas, sampai marketplace online,” jelas Enok.
Sebagai pelaku usaha penyandang disabilitas, Enok juga memberdayakan hampir 50 perempuan di perdesaan dalam kegiatan usahanya. Tidak hanya untuk kebutuhan pangan, ia turut mengembangkan nata de coco sebagai bahan alternatif pengganti kulit yang berpotensi digunakan untuk berbagai produk, seperti sepatu dan tas.
Melalui pembinaan, peningkatan kapasitas usaha, dan perluasan akses pasar, Pertamina terus mendorong UMKM binaan agar mampu meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan bisnis. Upaya tersebut sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Program ini juga sejalan dengan Asta Cita ke-3 dalam mendorong kewirausahaan serta Asta Cita ke-6 untuk memperkuat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi dari desa. Dengan terbukanya akses ke pasar yang lebih luas, UMKM diharapkan tidak hanya meningkatkan skala usaha, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat di daerah. (srv)



















