INDOPOSCO.ID – Peluang bisnis masa depan tidak selalu lahir dari teknologi canggih atau bahan baku mahal. Tumpukan limbah perkebunan, sekam padi, hingga sampah organik justru menyimpan potensi ekonomi besar yang kini menjadi perhatian PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI).
Melalui pengembangan bioenergi, PLN EPI mengajak generasi muda mengambil peran dalam mengubah sumber daya yang selama ini kurang termanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi. Pesan tersebut disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam kegiatan Young Entrepreneur Days (YED) UI 2026 yang digelar BEM Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) di Depok.
Potensi yang ditawarkan bukan angka kecil. Berdasarkan pemetaan PLN EPI, Indonesia memiliki sumber daya biomassa indikatif sebesar 283,2 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 83,4 juta ton diperkirakan dapat dimanfaatkan, sementara 60,6 juta ton per tahun masih belum tergarap optimal.
“Bioenergi bukan sekadar tentang menggantikan bahan bakar fosil, tetapi bagaimana kita membangun ekosistem bisnis baru yang berkelanjutan. Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Hokkop dalam keterangannya, Kamis (5/11/2026).
Bahan bakunya tersebar di berbagai sektor, mulai dari limbah kelapa sawit, residu pertanian, biomassa kayu, sekam padi, hingga limbah organik perkotaan. Dengan sentuhan teknologi dan inovasi, material tersebut berpeluang diolah menjadi bahan bakar pembangkit listrik, biochar, syngas, biohidrogen, hingga biofuel.
“Potensi ini membuka ruang yang sangat luas bagi tumbuhnya inovasi dan kewirausahaan. Biomassa dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari bahan bakar pembangkit listrik, biochar, syngas, biohidrogen, hingga biofuel. Artinya, peluang bisnisnya tidak berhenti pada penyediaan energi listrik, tetapi juga mencakup industri pengolahan dan pemanfaatan limbah,” jelas Hokkop.
Untuk membuka akses bisnis tersebut, PLN EPI membangun rantai pasok biomassa terintegrasi melalui skema sub-hub, hub, dan main hub. Sistem ini menghubungkan proses pengumpulan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi kepada pengguna akhir.
Ekosistem tersebut juga membuka peluang kemitraan bagi petani, koperasi, kelompok usaha, pemerintah daerah, dan sektor swasta. Dengan demikian, pengembangan bioenergi dapat menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus menciptakan peluang usaha baru.
PLN EPI turut mendorong anak muda masuk ke sektor ini melalui inovasi teknologi pengolahan, digitalisasi rantai pasok, serta penciptaan produk turunan berbasis sumber daya lokal.
“Kami ingin generasi muda melihat sektor energi sebagai ruang inovasi dan kewirausahaan. Ada banyak peluang yang bisa dikembangkan, mulai dari teknologi pengolahan biomassa, digitalisasi rantai pasok, hingga pengembangan produk turunan. Dengan kreativitas dan inovasi, sumber daya yang sebelumnya dianggap limbah dapat menjadi sumber nilai ekonomi baru,” tambahnya.
Di sisi pemanfaatan energi, PLN EPI terus memperluas program cofiring biomassa sebagai substitusi sebagian batubara di pembangkit listrik PLN Group. Hingga Oktober 2026, program tersebut telah diterapkan di 52 PLTU dengan penggunaan biomassa sekitar 1,84 juta ton dan potensi pengurangan emisi mencapai 1,87 juta ton CO2e per tahun.
Untuk menjaga keandalan pasokan dan efisiensi operasional, PLN EPI juga mengembangkan sistem digital Integrated Biomass Operation (IBO) yang digunakan untuk memantau pelaksanaan cofiring di seluruh PLTU tersebut.
Lebih jauh, skenario pengembangan bioenergi PLN EPI menunjukkan pemanfaatan biomassa hingga 20 juta ton per tahun berpotensi menciptakan 150 ribu lapangan kerja hijau dan mendukung pengurangan emisi hingga 12 juta ton CO2e.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa biomassa bukan hanya alternatif energi, melainkan juga peluang untuk membangun industri baru, meningkatkan nilai ekonomi limbah, dan memperkuat perekonomian daerah.
Melalui YED UI 2026, PLN EPI berharap semakin banyak generasi muda yang berani mengambil peluang di sektor bioenergi. Kolaborasi antara kampus, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan melahirkan wirausaha hijau yang mampu menghadirkan solusi inovatif sekaligus mendukung target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Dengan potensi sumber daya yang melimpah, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menemukan bahan baku, melainkan bagaimana kreativitas generasi muda mampu mengubahnya menjadi bisnis yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (her)



















