INDOPOSCO.ID – Pepatah lama yang menyebut mata sebagai jendela jiwa kini menemukan makna klinis yang jauh lebih substantif di era kesehatan digital. Melalui pembuluh darah mikro di retina, para tenaga medis kini dapat mendeteksi jejak-jejak penyakit kritis yang selama ini tersembunyi, mulai dari diabetes, gangguan ginjal, hingga risiko penyakit jantung.
Terobosan mutakhir ini dihadirkan oleh PT Nova Prima Utama melalui inovasi skrining retina berbasis kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence), EyRIS. Direktur PT Nova Prima Utama, Aznaib I Gindo, mengungkapkan bahwa teknologi ini membawa visi masa depan dunia medis global langsung ke dalam realitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
“Retina memberikan gambaran langsung dan non-invasif dari pembuluh darah kecil,” ujar Aznaib dalam keterangannya, dikutip Minggu (1/11/2026). “AI EyRIS menganalisis foto retina untuk melihat perubahan seperti pendarahan, penyempitan, dan pola pembuluh darah abnormal yang mengindikasikan risiko kesehatan sistemik,” imbuhnya.
Landasan Ilmiah dan Performa Klinis yang Ketat
Sebagai teknologi kesehatan berbasis bukti (evidence-based medicine), keandalan EyRIS bukan sekadar klaim pemasaran. Penelitian dasarnya yang dipublikasikan dalam jurnal medis bergengsi JAMA pada 2017 telah mengevaluasi hingga 71.896 gambar dari 14.880 pasien.
Melalui sistem yang dikembangkan di bawah teknologi SELENA+, performa yang dicatatkan tergolong impresif dalam memindai retinopati diabetik (DR):
- Referable DR (memerlukan rujukan): Sensitivitas 90,5% dan spesifisitas 91,6%.
- Vision-threatening DR (mengancam penglihatan): Sensitivitas 99% dan spesifisitas 91,1%.
Selain itu, studi dalam The Lancet Digital Health turut mencatat nilai AUC sebesar 0,911 untuk model penyakit ginjal kronis berbasis gambar retina pada dataset validasi SEED. Kendati demikian, Aznaib menegaskan bahwa teknologi ini berfungsi sebagai alat triase dan skrining awal, bukan untuk menggantikan pemeriksaan laboratorium konvensional seperti tes darah maupun diagnosis definitif dokter.
Solusi Strategis untuk Skrining Massal di Daerah 3T
Tantangan terbesar dalam menekan angka kematian akibat penyakit kritis di Indonesia adalah keterlambatan diagnosis akibat minimnya akses fasilitas kesehatan. EyRIS hadir sebagai katalis untuk memperluas jangkauan skrining massal, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
“Hadirnya skrining AI retina ke Puskesmas, toko optik, hingga klinik perusahaan dapat memperluas deteksi dini,” jelas Aznaib. Staf medis yang terlatih dapat mengambil gambar retina tanpa harus menunggu kehadiran dokter spesialis mata di lokasi.
1. Meski demikian, adopsi teknologi ini di Indonesia masih dihadapkan pada tiga tantangan utama:
2. Ketersediaan Perangkat: Harga kamera fundus berkualitas tinggi yang terjangkau.
3. Infrastruktur Jaringan: Fleksibilitas sistem, baik berbasis cloud dengan koneksi stabil maupun lisensi on-premise untuk wilayah minim internet.
4. Ekosistem Pembiayaan: Dukungan integrasi melalui program BPJS atau pemeriksaan kesehatan gratis yang diiringi kepastian rujukan lanjutan.
Menjaga Etika, Privasi, dan Martabat Pasien
Di tengah kekhawatiran publik terhadap keamanan data biometrik, EyRIS memastikan bahwa pemindaian yang dilakukan murni berfokus pada analisis pembuluh darah untuk kepentingan klinis, bukan untuk identifikasi wajah atau pengenalan iris personal.
Seluruh data pasien dipastikan aman melalui mekanisme penyamaran identitas (anonymised) serta mematuhi regulasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Selain itu, sistem dirancang untuk memberikan laporan terstruktur guna meminimalisir kepanikan pasien serta menempatkan AI sebatas sebagai mitra penunjang keputusan bagi tenaga medis profesional.
Ke depan, riset lanjutan tengah disiapkan untuk memperluas jangkauan deteksi EyRIS, mencakup penyakit ginjal diabetik, risiko stroke, hingga kondisi neurodegeneratif seperti Alzheimer tentunya setelah melalui fase validasi klinis dan regulasi yang ketat.
Melalui kombinasi keunggulan sains dan kepekaan sosial, EyRIS kini menjelma menjadi jembatan harapan baru bagi masa depan dunia kedokteran dan kesehatan masyarakat Indonesia.(her)


















