INDOPOSCO.ID – Fenomena pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) yang kian meresahkan masyarakat diangkat dalam film Menang Untuk Kalah. Film yang ditulis Jujur Prananto ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 19 November 2026.
Film tersebut mengangkat realitas kehidupan masyarakat yang terjebak dalam lingkaran pinjaman online dan perjudian. Berawal dari tuntutan gaya hidup, tekanan ekonomi, hingga keinginan mendapatkan keuntungan secara instan, persoalan itu justru berujung pada tumpukan utang dan kehancuran kehidupan keluarga.
Penulis skenario Jujur Prananto mengatakan, cerita dalam film ini merefleksikan persoalan nyata yang terjadi di tengah masyarakat. Nafsu untuk memenuhi keinginan kerap mengalahkan akal sehat, sementara keluarga menjadi pihak yang ikut menanggung dampaknya.
“Ini realita yang sedang terjadi di masyarakat kita. Nafsu mengalahkan akal sehat. Keluarga menjadi korban,” kata Jujur Prananto di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Penulis yang dikenal melalui karya Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta?, dan Suzzanna: Santet (Dosa di Atas Dosa) itu mengungkapkan, ide cerita film ini terinspirasi dari pengalaman orang-orang terdekatnya, termasuk teman dan keluarga yang terdampak persoalan pinjaman serta judi online.
Menurut Jujur, tekanan ekonomi sering kali menjadi pintu masuk seseorang terjerumus dalam perjudian online. Ketika penghasilan tidak lagi mampu menutup kebutuhan, sementara persoalan hidup terus berdatangan, sebagian orang memilih judi online sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang.
Namun, harapan memperoleh keuntungan justru berakhir dengan kekalahan. Kondisi tersebut mendorong mereka kembali meminjam uang untuk berjudi, hingga utang semakin menumpuk dan tekanan psikologis kian berat.
“Keuangan menipis. Besar pasak daripada tiang. Apesnya, musibah menghampiri. Masalah demi masalah mengikuti, kepanikan pun melanda karena ditenggat waktu. Judol dipilih sebagai jalan pintas. Berharap solusi, malah masalah yang bertambah runyam. Utang semakin berlipat. Efeknya adalah tekanan psikologis dan mental yang hebat,” tuturnya.
Melalui film Menang Untuk Kalah, Jujur berharap masyarakat dapat mengambil pelajaran mengenai dampak buruk pinjaman online dan perjudian online, terutama ketika keduanya menjadi lingkaran masalah yang sulit diputus.
“Saya berharap penonton nantinya menjadikan film ini pembelajaran,” ujarnya.
Sementara itu, produser sekaligus sutradara Menang Untuk Kalah, Hasto Broto, mengaku senang dapat bekerja sama dengan seluruh pihak yang terlibat dalam produksi film tersebut.
Ia mengapresiasi pengalaman Jujur Prananto dalam menulis skenario, kolaborasinya dengan Asep Kalila, serta dedikasi para pemain yang dinilai memberikan kemampuan terbaik selama proses produksi.
Menurut Hasto, memerankan karakter dengan latar kehidupan yang belum tentu pernah dialami para pemain bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan penjiwaan dan konsentrasi agar setiap perubahan emosi dalam adegan dapat tersampaikan secara meyakinkan.
“Akting para pemain sangat natural. Agak susah mendalami peran yang menjadi sisi negatif dalam kehidupan,” kata Hasto.
Ia menyebut sejumlah pemain yang terlibat dalam film tersebut, yakni Surya Saputra, Lulu Tobing, Ajil Ditto, Putri Ziani, Yessy Gusman, dan Allesandrio Reinhard Karamoy.
Hasto menilai, mempertemukan para aktor dari generasi berbeda dalam satu cerita menjadi tantangan tersendiri. Namun, kolaborasi tersebut justru memberikan warna bagi film Menang Untuk Kalah.
“Terlebih ini merupakan kumpulan pemain beda zaman. Susah-susah gampang menyatukan mereka dalam sebuah cerita. Di sinilah tantangannya,” pungkasnya.(dil)


















