INDOPOSCO.ID – PT United Tractors Tbk (UT) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp90,3 triliun hingga triwulan III 2026. Realisasi tersebut turun 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp100,5 triliun, seiring melemahnya kinerja bisnis alat berat, pertambangan batu bara termal dan metalurgi, serta pertambangan emas.
Dalam laporan keuangan konsolidasian hingga September 2026, UT menyebut penurunan pendapatan terutama dipengaruhi alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah serta berkurangnya penjualan emas PT Agincourt Resources. Tekanan tersebut sebagian diimbangi peningkatan pendapatan dari segmen kontraktor penambangan, terutama karena penguatan kurs dolar Amerika Serikat (AS).
Laba bersih perseroan di luar pos-pos nonberulang (non-recurring items) tercatat Rp7,9 triliun, turun 31 persen. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe serta melemahnya pendapatan yang berkaitan dengan penyesuaian alokasi RKAB batu bara nasional.
Penjualan emas Martabe sebelumnya terdampak penghentian sementara operasional tambang. Namun, tambang yang dikelola PT Agincourt Resources tersebut telah kembali beroperasi pada periode pelaporan triwulan II 2026.
Selain itu, UT mencatat pos nonberulang senilai Rp3,5 triliun hingga September 2026. Nilai tersebut terutama terdiri atas penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Dari sisi neraca, per 30 September 2026, UT membukukan utang bersih sebesar Rp4,6 triliun dengan rasio gearing 4,2 persen. Posisi tersebut berbalik dari kas bersih Rp7,7 triliun pada 31 Desember 2025. Perubahan terutama mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan pelaksanaan program pembelian kembali saham.
Penjualan Alat Berat dan Batu Bara Melemah
Segmen alat berat menjadi salah satu lini usaha yang mengalami tekanan. Penjualan alat berat Komatsu turun 17 persen menjadi 3.026 unit hingga triwulan III 2026. Penurunan terutama berasal dari penjualan alat berat berukuran besar (big machine) untuk sektor pertambangan yang merosot 48 persen menjadi 481 unit, seiring lebih rendahnya alokasi RKAB batu bara nasional.
Meski demikian, pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat meningkat 2 persen menjadi Rp8,5 triliun dari Rp8,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, pendapatan bersih segmen alat berat turun 19 persen menjadi Rp23,6 triliun.
Sementara itu, segmen kontraktor penambangan yang dijalankan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) mencatatkan kinerja pendapatan yang lebih baik. Pendapatan segmen ini meningkat 11 persen menjadi Rp44,5 triliun, terutama didorong penguatan kurs dolar AS.
Namun, aktivitas operasional kedua perusahaan tersebut turut menyesuaikan target produksi para klien. Volume pemindahan tanah turun 7 persen menjadi 766 juta bank cubic meter (bcm), sedangkan produksi batu bara untuk klien berkurang 3 persen menjadi 106 juta ton. Rata-rata rasio pengupasan lapisan tanah (stripping ratio) tercatat 7,2 kali.
Di segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung atau Turangga Resources, volume penjualan batu bara mencapai 7,1 juta ton, termasuk 2,1 juta ton batu bara metalurgi. Angka tersebut turun 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan penurunan volume penjualan, pendapatan segmen ini merosot 15% menjadi Rp15,9 triliun.
Pendapatan Emas dan Mineral Turun 53 Persen
Tekanan juga terlihat pada segmen pertambangan emas dan mineral lainnya. Pendapatan segmen ini turun 53 persen menjadi Rp4,9 triliun, terutama akibat penurunan penjualan emas sebesar 70 persen.
Hingga triwulan III 2026, bisnis pertambangan emas UT melalui PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencatatkan total penjualan setara emas sebanyak 54 ribu ons. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan 178 ribu ons pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun pada bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources membukukan penjualan bijih nikel sebesar 1,157 juta wet metric ton (wmt). Volume tersebut terdiri atas 390 ribu wmt bijih nikel saprolit dan 767 ribu wmt bijih nikel limonit.
Di tengah perubahan kondisi pasar komoditas, UT menyatakan PAMA dan KPP Mining terus memperkuat ekspansi ke sektor mineral di luar batu bara, termasuk emas dan nikel. Langkah ini ditujukan untuk memperluas portofolio bisnis serta menopang pertumbuhan jangka panjang.
Lanjutkan Buyback Saham
Dari sisi aksi korporasi, UT menyelesaikan tahap keempat program pembelian kembali saham (buyback) pada 30 September 2026. Program yang dimulai pada 1 Juli 2026 tersebut mencakup pembelian kembali 58 juta saham.
Perseroan selanjutnya mengumumkan tahap kelima buyback dengan nilai maksimal Rp2 triliun untuk periode 1 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Secara akumulatif, UT telah membeli kembali 297 juta saham dengan total nilai sekitar Rp8,5 triliun. Pembelian tersebut mencakup periode Juli 2022 hingga Januari 2023 serta Oktober 2025 hingga September 2026.
UT menyatakan program buyback dilaksanakan dengan mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi. Langkah tersebut mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek perseroan dan kemampuannya menghasilkan arus kas berkelanjutan, sekaligus mendukung upaya pemerintah menjaga stabilitas pasar modal. (rmn)


















