INDOPOSCO.ID – Penguatan jaringan stasiun bumi satelit penginderaan jauh dinilai menjadi langkah strategis untuk mempercepat pemantauan bencana sekaligus memperkuat kemandirian Indonesia dalam penyediaan data nasional.
Penguatan jaringan stasiun bumi satelit penginderaan jauh ini mendukung deteksi titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemantauan banjir hingga erupsi gunung api, serta memenuhi kebutuhan data berbagai sektor pembangunan.
Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Satelit Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hidayat Gunawan, mengatakan pengembangan jaringan stasiun bumi perlu diarahkan tidak hanya untuk memperkuat infrastruktur penerimaan data satelit. Tetapi juga menghadirkan layanan yang menjawab kebutuhan masyarakat dan pengguna lintas sektor.
Menurutnya, ketersediaan data penginderaan jauh yang cepat dan mudah diakses menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pemantauan wilayah terdampak bencana serta pengambilan keputusan oleh pihak berwenang.
“Pengembangan ekosistem jaringan stasiun bumi nasional perlu dipandang tidak hanya sebagai penguatan infrastruktur penerimaan data satelit, tetapi juga sebagai upaya membangun layanan yang mampu menjawab kebutuhan pengguna. Dalam konteks kebencanaan, ketersediaan data penginderaan jauh yang dapat diakses secara efektif menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pemantauan wilayah terdampak dan penyediaan informasi bagi pengambilan keputusan,” ujar Hidayat di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Dia menjelaskan, stasiun bumi penginderaan jauh memiliki dua fungsi utama, yakni sistem penerimaan langsung atau direct reception system (DRS) dan sistem penerimaan virtual atau virtual reception system (VRS).
Melalui DRS, dikatakan dia, BRIN membutuhkan kemampuan menerima data satelit secara langsung dan waktu nyata (real-time). Kemampuan ini memungkinkan data diperoleh lebih cepat tanpa sepenuhnya bergantung pada pihak lain, terutama untuk mendukung pemantauan kebencanaan dan penyediaan data penginderaan jauh nasional.
Menurutnya, dalam penanganan karhutla, misalnya, jaringan stasiun bumi dapat dimanfaatkan untuk menerima data satelit yang digunakan dalam pemantauan titik panas (hotspot). Data yang diperoleh setelah satelit melintas di atas wilayah Indonesia dapat diolah menjadi informasi terkini mengenai sebaran titik panas.
Informasi tersebut, lanjutnya, dapat membantu pihak berwenang mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran sehingga langkah pencegahan dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Meski demikian, titik panas merupakan indikator awal yang tetap memerlukan verifikasi untuk memastikan kondisi di lapangan.
“Data hotspot dari penerimaan langsung memungkinkan kita memantau potensi kebakaran hutan dan lahan secara cepat setelah satelit melintas. Jaringan stasiun bumi yang tersebar membuat cakupan pemantauan lebih luas dan berkesinambungan, sehingga informasinya dapat segera dimanfaatkan pihak berwenang untuk langkah pencegahan dan penanganan,” jelasnya.
Tidak hanya karhutla, ia menjelaskan, pemanfaatan data satelit juga dapat diperluas untuk memantau wilayah terdampak banjir dan erupsi gunung api. Dengan jaringan stasiun bumi yang tersebar dan terintegrasi, cakupan pemantauan wilayah Indonesia yang luas diharapkan semakin optimal.
Ia menyebut, di luar kebutuhan kebencanaan, jaringan stasiun bumi juga berperan penting dalam menjamin ketersediaan data penginderaan jauh nasional. Perannya mencakup penerimaan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi data kepada pengguna.
Data tersebut, sambungnya, dibutuhkan berbagai sektor, mulai dari kehutanan, pertanian, lingkungan hidup, tata ruang, hingga kemaritiman. Ketersediaan data yang berkelanjutan dapat membantu mendukung perencanaan, pemantauan kondisi wilayah, serta penyusunan kebijakan berbasis informasi.
“Data penginderaan jauh adalah aset strategis nasional. Dengan jaringan stasiun bumi yang kuat dan terintegrasi, Indonesia dapat menjamin ketersediaan data secara berkelanjutan dan mandiri, sehingga kebutuhan data lintas sektor dapat terpenuhi tanpa bergantung sepenuhnya pada penyedia data dari luar negeri,” ujar Hidayat. (nas)

















