INDOPOSCO.ID – Produktivitas padi di Sumatera Barat meningkat hampir 6 persen pada 2025 meski luas panen mengalami penurunan. Kondisi ini mendorong penguatan pertanian modern, penyediaan benih unggul, perbaikan irigasi, serta perlindungan lahan sawah produktif untuk menjaga ketahanan pangan daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat luas panen padi Sumatera Barat pada 2025 mencapai 284.076 hektare, turun 11.203 hektare atau 3,79 persen dibandingkan 295.279 hektare pada 2024. Namun, produksi padi justru meningkat dari 1,35 juta ton menjadi 1,38 juta ton gabah kering giling (GKG).
Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy menegaskan, penerapan teknologi pertanian harus memberikan manfaat langsung bagi petani. “Kita ingin teknologi ini benar-benar diterapkan oleh petani sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan mereka ikut terangkat,” ujar Vasko dalam keterangan, Sabtu (24/10/2026).
Ia menyebut, produksi beras untuk konsumsi penduduk juga naik menjadi 800.613 ton pada 2025, dari sebelumnya 785.426 ton pada 2024. Berdasarkan penghitungan dari angka tetap BPS, produktivitas padi meningkat dari sekitar 4,59 ton menjadi 4,87 ton GKG per hektare, atau tumbuh 5,95 persen.
Peningkatan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kenaikan produksi lebih banyak ditopang oleh hasil panen per hektare, bukan perluasan areal panen. Karena itu, upaya meningkatkan produktivitas perlu berjalan beriringan dengan perlindungan sawah, ketersediaan air, benih bermutu, pemupukan, dan pengendalian hama.
“Sejumlah daerah menjadi penopang utama produksi padi Sumatera Barat. Kabupaten Solok mencatat produksi sekitar 210,79 ribu ton GKG pada 2025, disusul Pesisir Selatan 174,99 ribu ton, Tanah Datar 142,85 ribu ton, Padang Pariaman 142,78 ribu ton, dan Agam 138,44 ribu ton.
Di Kabupaten Solok, masih ujar dia, petani Kelompok Tani Rawang Sari di Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, mulai menjajal pola pertanian modern melalui pendekatan Advanced Agricultural System pada Juli 2026. Program ini menjadi salah satu langkah mendorong efisiensi budidaya dan peningkatan hasil panen.
“Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumatera Barat memperkuat penyediaan benih sumber dan pendampingan petani. Di Kabupaten Solok, produksi benih sumber dilakukan di lahan seluas 15,3 hektare yang terbagi dalam 25 blok pertanaman,” katanya.
Dikatakan dia, sejumlah varietas yang dikembangkan antara lain Inpari 50 Marem, Inpari Gemah, Batang Piaman, Cisokan, dan PB 42. Pada September 2026, BRMP juga mendampingi produksi benih sumber varietas lokal Bawaan di Pesisir Selatan serta mempercepat penyiapan penerima bantuan perbenihan.
“Upaya meningkatkan produksi turut dilakukan melalui optimalisasi lahan. Di Pasaman Barat, pemerintah daerah mendorong peningkatan indeks pertanaman hingga tiga kali setahun pada lahan yang memungkinkan,” terangnya.
“Langkah tersebut didukung penyuluhan, pemilihan benih, pemupukan, serta pemanfaatan alat dan mesin pertanian,” imbuhnya.
Sementara itu, ia menuturkan, pemulihan lahan terdampak bencana menjadi bagian penting dalam menjaga produksi. Dinas Pertanian Agam melaporkan 35 hektare sawah terdampak bencana telah dipanen pada September 2026. Hasil ubinan di lokasi pengamatan di Salareh Aia Barat mencapai 5,28 ton per hektare.
Ia menyebut, dukungan teknologi digital juga dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi pertanian. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid menegaskan, pemanfaatan Internet of Things (IoT) dan kecerdasan artifisial harus mampu menjawab persoalan nyata di sektor pertanian.
“IoT dan kecerdasan artifisial adalah teknologi baru yang harus kita manfaatkan agar memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat,” ujar Meutya. (nas)

















