INDOPOSCO.ID – Pengamat Politik Hendri Satrio membaca pujian Presiden Prabowo Subianto terhadap kinerja Kabinet Merah Putih sebagai strategi menjaga semangat tim, bukan penilaian akhir atas dua tahun pemerintahan.
Menurut pria yang akrab disapa Hensa itu, apresiasi dari presiden diperlukan agar para menteri tetap percaya diri menjalankan tugas. Namun, pujian bukan berarti seluruh pekerjaan telah tuntas.
“Dia harus menjaga kepercayaan diri dan keyakinan timnya dong. Karena kalau sampai timnya tidak percaya diri, kocar-kacir nanti timnya itu. Jadi itulah yang bisa dia lakukan, dan itu bagus,” ujar Hensa melalui gawai, Jumat (23/10/2026).
Hensa mengibaratkan Prabowo seperti pelatih sepak bola yang tidak akan mempermalukan pemainnya di hadapan publik. Evaluasi, menurutnya, semestinya dilakukan secara tertutup agar pembenahan tetap berjalan tanpa meruntuhkan kepercayaan diri tim.
“Pelatih mana yang di ruang ganti bilang timnya jelek? Enggak ada. Dipuji dulu, dipeluk dulu. Evaluasinya nanti di ruang tertutup. Mudah-mudahan memang ada evaluasinya, saya yakin sih pasti ada,” katanya.
Namun, ada satu kata dalam pernyataan Prabowo yang menarik perhatian Hensa, yakni “cukup”. Presiden menyebut kinerja kabinet selama dua tahun “cukup membanggakan”, bukan “sangat membanggakan”. Bagi Hensa, pilihan kata tersebut bisa dibaca sebagai apresiasi sekaligus pengingat bahwa pekerjaan rumah pemerintah masih menumpuk.
“Coba disimak baik-baik, saat itu Pak Prabowo bilang ‘cukup membanggakan’, bukan ‘sangat membanggakan’. Itu buat saya seperti cara halus seorang presiden untuk bilang ‘lumayan, tapi PR-nya masih banyak,’ gitu,” jelas pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
Ia pun mengingatkan para menteri dan kepala lembaga agar tidak menjadikan pujian sebagai alasan untuk berpuas diri. Apresiasi, kata dia, seharusnya menjadi dorongan untuk memperbaiki kinerja, bukan membuat jajaran pemerintah terlena.
“Pujian presiden itu vitamin buat menteri. Asal jangan berubah jadi obat tidur, harusnya mereka sadar juga kalau ini kembali dibela kinerja mereka,” ungkapnya.
Bagi Hensa, ukuran keberhasilan kabinet tidak cukup ditentukan oleh penilaian presiden. Dampak kebijakan terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat menjadi tolok ukur yang lebih konkret.
“Yang bilang membanggakan itu Pak Prabowo, dan sah-sah saja. Tapi ‘membanggakan’ itu kata sifat. Rakyat butuhnya kata kerja, misal harga terjangkau, lapangan kerja ada, dapur tetap ngebul, kebijakan kelas menengah. Kalau rakyat ikut bangga, enggak perlu diumumkan. Nanti kelihatan sendiri di survei,” jelasnya.
Hensa juga menanggapi analogi sepak bola yang digunakan Prabowo saat meminta pejabat yang belum banyak berperan agar tidak frustrasi. Menurutnya, panjangnya daftar anggota kabinet membuat presiden perlu terus menjaga semangat para pembantunya.
“Kabinetnya memang mirip tim sepak bola. Bedanya, bangku cadangannya panjang sekali. Wajar kalau pelatihnya harus rajin kasih semangat supaya yang duduk di bangku enggak ngambek,” tutur Hensa.
Ia menilai dua tahun pertama pemerintahan masih dapat dianggap sebagai masa pemanasan. Namun, tiga tahun tersisa harus dimanfaatkan untuk menghasilkan capaian nyata yang dirasakan masyarakat.
“Dua tahun pertama anggaplah pemanasan. Tiga tahun sisanya sudah harus cetak gol. Penonton di tribun itu sabar, tapi ada batasnya,” tambahnya. (her)

















