INDOPOSCO.ID – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama tiga hari berturut-turut dinilai menjadi angin segar bagi kepercayaan terhadap pemerintah. Namun, pengamat politik Hendri Satrio mengingatkan, sinyal positif dari pasar modal belum bisa dijadikan alasan untuk mengklaim keberhasilan.
IHSG ditutup naik 1,12 persen ke level 5.387,90 pada Kamis (22/10/2026), melanjutkan tren penguatan setelah sempat tertekan pada pekan sebelumnya.
Hensa -sapaan Hendri Satrio- menilai pergerakan tersebut bukan sekadar kabar baik bagi pasar saham, melainkan juga cerminan penilaian investor terhadap kredibilitas pemerintah.
“Kabar baik ini, tanda kepercayaan ke pemerintah mulai kembali. Sederhananya, investor itu tadinya hanya bertanya satu hal, yaitu pemerintahnya bisa dipegang atau tidak. Hari ini jawabannya mulai mengarah ke ‘bisa’. Tapi baru mulai lagi loh ya, jadi ini memang positif tapi harus tetap kita pantau lagi,” ujar Hensa melalui gawai, Jumat (23/10/2026).
Menurut pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu, sikap tegas pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto saat menghadapi tekanan eksternal seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI), turut mengirimkan pesan positif. Meski demikian, ketegasan tidak semestinya baru terlihat ketika keadaan mendesak.
“Sikap tegas itu bagus, dan publik menangkap pesannya bahwa pemerintah tidak panik. Yang jadi soal, ketegasan jangan cuma muncul pas kepepet. Kalau tegasnya konsisten dari awal, mungkin kita tidak perlu deg-degan dulu,” jelasnya.
“Kadang saya heran, tekanan dari luar bisa dihadapi dengan kepala tegak, tapi koordinasi di dalam kabinet sendiri masih sering jalan masing-masing,” lanjutnya.
Hensa menilai, tantangan pemerintah kini bukan sekadar membangun citra melalui pernyataan, melainkan memastikan ucapan pejabat sejalan dengan tindakan nyata. Di era media sosial, publik semakin mudah membandingkan keduanya.
“Publik sekarang tidak cukup dikasih kata-kata. Mereka buka media sosial, lalu cocokkan apa yang diucapkan dengan apa yang dikerjakan. Kalau keduanya sejalan, kepercayaan datang sendiri tanpa perlu diminta. Kalau tidak sejalan, sebagus apa pun pidatonya, orang akan lupa besok pagi,” terangnya.
Hensa juga mengingatkan kepercayaan yang mulai tumbuh bisa kembali terkikis akibat pernyataan pejabat yang tidak terkontrol.
“Pengalaman kita, yang sering bikin kepercayaan turun itu bukan pihak luar, tapi pernyataan pejabat kita sendiri. Satu kalimat asal bicara bisa menghapus kerja berminggu-minggu. Jadi kalau ada menteri yang hobi bikin gaduh, sebaiknya puasa bicara dulu biar kepercayaan yang baru balik ini tidak kabur lagi,” tuturnya.
Akademisi Universitas Paramadina itu turut meminta pemerintah tidak bersikap defensif terhadap kritik. Menurutnya, stabilitas justru terlihat dari kemampuan pemerintah tetap tenang dan bekerja di tengah perbedaan pendapat.
“Menurut saya pemerintah yang dipercaya itu pemerintah yang tahan dikritik, bukan yang sibuk membalas kritik. Stabil itu bukan berarti tidak ada suara yang berbeda. Stabil itu artinya pemerintah tetap tenang, tetap bekerja, dan tidak gampang baper setiap kali dikritik,” tegas Hensa.
Ia berharap momentum penguatan IHSG dapat dijaga melalui konsistensi kebijakan dan kerja nyata, bukan sekadar respons sesaat terhadap tekanan.
“Momentumnya ada, tinggal pemerintah mau merawatnya atau malah merusaknya sendiri. Saya berharap pemerintah memilih yang pertama. Semoga sinyal baik ini bertahan. Yang dibutuhkan sekarang bukan tepuk tangan, tapi konsistensi,” tambahnya.(her)

















